dua hari tiga gedung lima topik napak tilas lengkap kongres yang melahirkan sumpah pemuda - News | Good News From Indonesia 2026

Dua Hari, Tiga Gedung, Lima Topik: Napak Tilas Lengkap Kongres yang Melahirkan Sumpah Pemuda

Dua Hari, Tiga Gedung, Lima Topik: Napak Tilas Lengkap Kongres yang Melahirkan Sumpah Pemuda
images info

PIC by Dinsos Kabupaten Lahat


Kawan GNFI, tahukah kamu bahwa peristiwa bersejarah yang melahirkan Sumpah Pemuda sesungguhnya tidak berlangsung di satu tempat, melainkan berpindah-pindah di tiga gedung berbeda selama dua hari penuh? Sebuah kajian ilmiah dari Universitas Negeri Medan memaparkan secara detail rangkaian peristiwa yang sering luput dari buku pelajaran sejarah di sekolah.

Kongres Pemuda I: Fondasi yang Sering Terlupakan

Sebelum membahas kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda, Kawan perlu tahu bahwa ada kongres pendahulunya yang jarang diceritakan.

Kongres pemuda pertama diadakan pada tanggal 30 April sampai 2 Mei 1926 di Lapangan Banteng, Jakarta, dengan tujuan untuk membangkitkan semangat kerjasama antar organisasi kepemudaan yang sebelumnya masih bersifat kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dan Jong Batak.

Kongres ini dipimpin oleh Mohammad Tabrani, seorang wartawan cerdik yang dipilih justru karena profesinya tidak akan mengundang kecurigaan dari pihak berwajib kolonial Belanda.

baca juga

Berlangsung tiga hari di gedung Vrijmetselaarsloge yang kini menjadi gedung Bappenas, kongres ini membahas berbagai topik mulai dari gagasan persatuan, peran perempuan dalam perjuangan, hingga usulan penting dari Moh. Yamin bahwa bahasa Melayu bisa digunakan sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia karena mudah dipelajari dan diadaptasi secara luas.

Mengapa Harus Ada Kongres Kedua?

Sayangnya, Kongres Pemuda I belum berhasil mewujudkan cita-cita persatuan pemuda secara penuh. Kongres pemuda kedua ini disebabkan oleh kegagalan kongres pemuda pertama yang diselenggarakan pada tahun 1926 dalam mewujudkan cita-cita persatuan pemuda.

Selain itu, alasan diselenggarakannya Kongres Pemuda II adalah untuk menggalakkan pemikiran politik terbuka generasi muda melalui berbagai peristiwa, seperti kegagalan pemberontakan PKI, lahirnya gerakan pemuda kooperatif, dan pembentukan partai-partai politik setelah tahun 1927.

Pada 2 Mei 1928, para mahasiswa muda bertemu kembali dan sepakat untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda kedua, yang akhirnya diputuskan berlangsung pada 27-28 Oktober 1928, dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito, wakil dari Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI).

baca juga

Hari Pertama: Membahas Bahasa Persatuan

Kongres Pemuda Kedua berlangsung dalam tiga pertemuan di tiga gedung yang berbeda. Pertemuan pertama berlangsung di Katholieke Jongelingen Bond pada 27 Oktober 1928, dari pukul 19:30 sampai 23:30.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas tentang pentingnya bahasa Melayu sebagai bahasa politik dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, sekaligus mendiskusikan gagasan untuk mengorganisir gerakan perjuangan dalam bentuk organisasi nasional.

Hari Kedua: Pendidikan dan Puncak Pembacaan Putusan

Pertemuan kedua dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 mulai pukul 08.00 sampai jam 12 siang, di gedung Oost Java Bioscoop yang kini berada di kawasan Jalan Medan Merdeka Utara. Gedung ini dipilih karena pada siang hari gedung ini tidak dipakai sehingga harga sewanya tidak terlalu mahal, selain itu bioskop tentu dapat menampung peserta dalam jumlah banyak tanpa perlu menyediakan kursi tambahan. Para peserta kali ini berdiskusi tentang pentingnya peran pendidikan dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

Pertemuan ketiga, yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian kongres, berlangsung di hari yang sama pada pukul 17.30 sampai 23.30 di Indonesische Clubgebouw. Lima topik dibahas dalam pertemuan ini, yaitu Parade Pramuka, pemaparan tentang Kepanduan, pemaparan Gerakan Pemuda Indonesia, pemuda Indonesia di luar negeri, hingga pengambilan keputusan dan penutupan kongres.

baca juga

Detik-Detik Pembacaan Putusan Kongres

Kawan GNFI, bayangkan suasana penuh haru pada pukul 10 pagi tanggal 28 Oktober 1928, ketika seluruh peserta Kongres Pemuda II berkumpul untuk merangkum hasil kongres yang berlangsung selama dua hari tersebut. Sebelum putusan kongres dibacakan, para peserta kongres terlebih dahulu mendengarkan alunan biola lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang dibawakan langsung oleh komponisnya sendiri, W.R. Supratman. Bertepatan dengan alunan biola itu, dikibarkan pula bendera merah putih.

Setelah momen yang penuh khidmat itu, ketua kongres membacakan keputusan Kongres Pemuda II dan memperoleh persetujuan bulat dari seluruh peserta yang hadir. Ketiga poin keputusan itulah yang hari ini kita kenal dan hafal sebagai Sumpah Pemuda.

Mengenal Nama-Nama di Balik Panitia

Selain Soegondo sebagai ketua, Moh. Yamin terpilih sebagai sekretaris dan Amir Sjarifuddin terpilih sebagai bendahara. Panitia Kongres Pemuda II juga beranggotakan Johan Mohammad Tjaja, R. Kaca Sungkana, R.C.L Senduk, Johanes Leimena, dan Rochjani Soe'oed, masing-masing sebagai asisten dengan tugas berbeda.

Peserta kongres sendiri terbagi dalam tiga kategori organisasi: organisasi kedaerahan seperti Jong Java dan Jong Sumatranen Bond, organisasi berbasis klub belajar seperti Klub Belajar Indonesia, serta organisasi berlandaskan nasionalisme dan agama seperti Perhimpoenan Indonesia dan Jong Islamieten Bond.

baca juga

Warisan yang Melampaui Batas Waktu

Kawan, menelusuri rangkaian peristiwa yang begitu panjang dan melelahkan ini, dari Lapangan Banteng pada 1926 hingga tiga gedung di Jakarta pada 1928, membuat kita semakin memahami betapa besar perjuangan para pemuda masa itu untuk mewujudkan persatuan bangsa yang hari ini mungkin kita anggap sebagai hal yang sudah seharusnya ada.

Mereka tidak memiliki media sosial untuk berkoordinasi, tidak memiliki transportasi cepat untuk berpindah antar gedung, namun dengan tekad yang kuat, mereka berhasil merumuskan sebuah fondasi persatuan yang masih kita rasakan manfaatnya hingga hampir seabad kemudian. Sumpah pemuda telah menjadi tonggak penting berdirinya bangsa Indonesia dan menjadi penanda bahwa para pemuda memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Selamat mengenang Sumpah Pemuda, Kawan. Semoga semangat persatuan yang diwariskan para pemuda 1928 itu terus hidup dalam setiap langkah generasi muda Indonesia hari ini.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.