Saya iri. Sudah lama sebenarnya. Sudah puluhan kali saya ke Malaysia, sejak dua dekade lalu. Iri pada tetangga itu tidak baik, kata orang tua. Apalagi tetangga yang dulu sering kita anggap adik. Maka selama ini rasa itu saya simpan saja, rapat-rapat. September lalu rasa itu makin sulit saya tutupi.
Saya diundang ke Kuala Lumpur untuk menyaksikan Keretapi Sarong. Keretapi itu bahasa Melayu untuk kereta api. Jadi kira-kira artinya: kereta sarung. Acara ini digelar setiap tahun menjelang Hari Malaysia, 16 September. Orang-orang naik LRT atau MRT bersama-sama, memakai sarung, kebaya, baju kurung, atau pakaian tradisional apa saja.
Idenya, konon, terinspirasi dari acara di New York, ketika orang naik kereta bawah tanah tanpa celana. Malaysia memilih versi yang lebih sopan: tetap bercelana, tapi di dalam sarung. Tahun ini yang kesepuluh sejak dihidupkan kembali oleh komunitas Locco pada 2017. Pesertanya berangkat dari 12 stasiun di Lembah Klang. Tujuan akhirnya dirahasiakan sampai hari H.
Panitia memperkirakan 25.000 orang ikut di Lembah Klang saja. Tahun ini acara serupa juga digelar di sepuluh kota lain, dari Padang Besar di ujung utara sampai Johor Bahru di selatan. Ada lagu resminya pula, Joget Sarong.
Saya tentu ikut berdesakan di gerbong. Dan saya perhatikan wajah-wajah di sekitar saya.
Hampir semuanya anak muda. Umur dua puluhan, mungkin lahir sekitar tahun 2000. Ada yang Melayu, Tionghoa, India, ada juga yang dari Sabah dan Sarawak. Semuanya bersarung. Mereka menyanyi tanpa ada yang memberi aba-aba. Lagunya macam-macam, tapi kebanyakan lagu tradisional Malaysia.
Kereta berhenti, dan rahasia tahun ini akhirnya terbuka. Tujuan Keretapi Sarong 2026 adalah Raintree Plaza, di kompleks The Exchange TRX.

Selangkah lagi, Malaysiaย
Nama itu mungkin asing bagi pembaca di Indonesia. TRX singkatan dari Tun Razak Exchange, kawasan keuangan baru di jantung Kuala Lumpur. Anggap saja SCBD-nya Malaysia. Mal The Exchange TRX dibuka November 2023, seluas 1,3 juta kaki persegi atau sekitar 120.000 meter persegi. Di atapnya ada taman kota seluas 10 acre, kira-kira empat hektare.
Di kaki mal itu berdiri sebuah menara, dan saya mendongak. Namanya The Exchange 106, setinggi 454 meter dengan 95 lantai. Sampai November 2023, inilah gedung tertinggi di Malaysia, sebelum disalip Merdeka 118.
Yang membangunnya Mulia Group. Perusahaan Indonesia.
Menara itu dimiliki bersama oleh Kementerian Keuangan Malaysia (51 persen) dan Mulia (49 persen). Di sekelilingnya kini berkumpul kantor, apartemen, hotel, dan pusat belanja. Kawasan ini sudah menjadi salah satu simpul ekonomi terpenting di ibu kota mereka.
Saya tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini: ribuan orang bersarung berkumpul di kaki menara 95 lantai. Saya berdiri di bawah gedung buatan orang Indonesia, menonton orang Malaysia merayakan Malaysia. Perasaan saya campur aduk.
Begitu lagu diputar, kaki anak-anak muda itu langsung ikut melangkah. Sambil kepanasan, saya teringat berita dua bulan sebelumnya. Menteri Sumber Manusia Malaysia mengatakan negaranya โtinggal satu langkah lagiโ menjadi negara berpendapatan tinggi. Bank Dunia menetapkan garisnya di US$14.376 per kepala per tahun. Malaysia sekarang US$12.380. Kurang sekitar dua ribu dolar.
Jadi secara resmi Malaysia belum negara maju. Saya ingin tahu seperti apa rupanya negara yang 'tinggal satu langkah' itu.
Mula-mula saya cari panggungnya. Ada, biasa saja. Gak ada yang istimewa. Musiknya rekaman, diselingi beberapa tarian tradisional dan beberapa penyanyi. Penyanyi kenamaan Siti Nurhalilza ada pun bernyanyi beberapa lagu. Di iringi musik rekaman.
Matahari siang itu menyengat, dan rombongan anak muda tadi masih betah berjoget. Benar-benar panas menyengat.Tapi mereka tak bergeming, sampai menjelang sor/
Saya jadi teringat acara-acara di rumah. Kalau ingin mengumpulkan ribuan anak muda di siang bolong, panitia kita biasanya harus mengundang artis terkenal dulu. Kadang ditambah uang transport. Di sini, sepertinya modal sarung dan kartu kereta sudah cukup.
Ada satu hal lagi yang hadir di acara itu tanpa diundang. Bulan itu Kuala Lumpur sedang berselimut kabut asap. Otoritas Malaysia menyebut sumbernya kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatra, pulau tetangganya.
Sebagai orang Indonesia di tengah ribuan orang Malaysia, saya merasa seperti tamu yang membawa oleh-oleh yang tidak pernah diminta. Kalau ada yang bertanya dari mana asal saya, saya sudah menyiapkan jawaban: Surabaya. Secara geografis, itu jawaban yang jujur, saya beneran tinggal di Surabaya.ย
Jadi hari itu Indonesia hadir di Kuala Lumpur dalam dua bentuk, yaitu menara setinggi 454 meter yang boleh lah kita banggakan dan asap kiriman yang seharusnya kita minta maaf.
Pulang dari acara itu saya dintara kawan saya berkeliling kota. Teman saya itu lalu mampir mengisi bensin. Di layar pompa tertulis RON95, RM1,99 seliter. Kurs sekitar Rp4.300. Jadi kira-kira Rp8.500.
Oktannya 95, lho. Lebih tinggi dari Pertamax kita yang 92. Pertamax di rumah sekarang hampir Rp16.000. Pertalite yang oktannya cuma 90 saja Rp10.000.
Lalu paspor.
Akhir September lalu Passport Index merilis peringkat terbaru. Paspor Malaysia nomor dua di dunia, kembar dengan Singapura, dengan skor mobilitas 175. Hanya Uni Emirat Arab yang di atasnya. Jepang, Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat semuanya di bawah.
Pemegang paspor Malaysia bebas visa ke 129 negara. Ditambah 46 negara lain yang cukup visa saat tiba.
Paspor kita di urutan 56, skor 89. Bebas visa ke 49 negara. Sebanyak 109 negara masih minta kita mengurus visa dulu. Kita satu tingkat di bawah Kazakhstan dan tiga tingkat di bawah Thailand. Timor-Leste pun ada di atas kita.
Selisih skornya 86. Saya tidak mau menghitungnya dengan jari.
Beberapa hari sebelumnya, saat mendarat di Kuala Lumpur, saya antre di loket petugas imigrasi. Autogate di sana belum bisa dipakai paspor Indonesia. Pelancong dari negara maju melenggang lewat gerbang otomatis itu, sementara pemegang paspor Indonesia harus antre lama menunggu giliran. Saya memandangi gerbang itu dengan hormat, seperti memandangi mobil mewah di showroom.
Anak-anak muda bersarung di Raintree Plaza tadi bisa memutuskan liburan ke Eropa minggu depan, lalu berangkat. Barangkali karena sudah sering melihat negeri orang, mereka pulang dengan rasa sayang yang lebih besar pada sarungnya sendiri. Itu dugaan saya saja.

Ombak.Destinasi urban baru di KL
Bulan lalu Perdana Menteri Anwar Ibrahim membacakan anggaran 2027 sebesar RM510 miliar. Saya membaca rinciannya pelan-pelan, sambil sesekali menggeleng.
Batas penghasilan bebas pajak naik dari RM9.000 menjadi RM12.000 setahun. Tarif beberapa golongan turun satu persen. Upah minimum naik dari RM1.700 menjadi RM2.000 sebulan mulai Juni 2027, sekitar Rp8,6 juta. Ingat, itu upah minimum.
Setiap warga berusia di atas 18 tahun juga akan menerima bantuan RM100 sebanyak dua kali. Kaya atau miskin, semua dapat. Anggap saja uang terima kasih karena sudah jadi orang Malaysia.
Jalan tolnya mulus, dan toilet di rest area-nya selalu ada sabun. Di Kuala Lumpur saya bisa berjalan kaki di trotoar tanpa harus minggir karena motor. Hari itu puluhan ribu orang bersarung ikut menumpang, dan keretanya tetap datang sesuai jadwal.
Tahun ini panitia juga menyediakan stasiun khusus perempuan di MRT Titiwangsa. Alasannya sederhana: ada peserta perempuan yang memintanya.
Itu semua, rupanya, masih dihitung satu langkah sebelum maju.
Saya jadi bingung harus menyebut kita ini sedang di langkah ke berapa.
Orang Malaysia tentu punya keluhannya sendiri. Harga rumah, gaji, entah apa lagi. Mungkin mereka juga iri pada Singapura, seperti kita iri pada mereka. Entah Singapura iri pada siapa.
Yang paling saya ingat dari hari itu justru hal yang tidak ada hubungannya dengan harga bensin. Tidak seorang pun di sana dibayar untuk datang. Mereka rela berpanas-panas dari pagi, menyanyi tanpa disuruh, lalu pulang dengan wajah senang. Langkah yang satu itu tampaknya sudah lama mereka lewati.
Sarung itu juga milik kita, milik Nusantara. Di rumah, hampir setiap daerah punya kain dan ceritanya sendiri. Orang kita juga sanggup membangun menara 454 meter, buktinya berdiri di tengah Kuala Lumpur.
Saya membayangkan suatu hari KRL Jabodetabek atau MRT Jakarta penuh anak muda bersarung, menyanyi tanpa artis, tanpa uang transport. Mungkin sudah pernah ada dan saya saja yang tidak tahu. Kalau belum, barangkali itu bisa jadi salah satu langkah kecil kita.
Satu langkah lagi, Malaysia. Selamat, kalau nanti sampai. Kami menyusul, pelan-pelan.
Saya pulang lewat Juanda. Kali ini tidak ada antrean. Pakai autogate: paspor ditempel, wajah dipindai, pintu terbuka. Tidak sampai satu menit.
Antrean itu rupanya pindah ke rumah tetangga.
Rasa iri itu tetap ikut saya bawa. Untungnya tidak kena bea masuk.


