berkah banting setir sumaya pindah cabor dari sepak takraw ke teqball lalu raih perak asian games 2026 - News | Good News From Indonesia 2026

Berkah Banting Setir: Sumaya Pindah Cabor dari Sepak Takraw ke Teqball, Lalu Raih Perak Asian Games 2026

Berkah Banting Setir: Sumaya Pindah Cabor dari Sepak Takraw ke Teqball, Lalu Raih Perak Asian Games 2026
images info

Sumaya di Asian Games 2026 | Kemenpora


Ada cerita menarik dari atlet teqball Indonesia, Sumaya. Memutuskan banting setir dari yang tadinya berkecimpung di cabang olahraga sepak takraw ke teqball, pintu rezeki justru kemudian terbuka lebar, lalu membawanya meraih medali Asian Games 2026.

Sumaya dan sepak takraw seakan tidak bisa dipisahkan. Bagaimana tidak, ia adalah anak yang tumbuh besar dengan sepak takraw sebagai olahraga yang biasa dimainkannya. Di rumah, ia juga sangat lekat dengan olahraga tersebut karena orang tuanya juga merupakan atlet sepak takraw.

Ayah Sumaya, Safrudin, berkiprah sebagai pelatih sepak takraw. Sementara itu, ibunya, Khairani, juga adalah mantan pemain sepak takraw. Bahkan, sang ibu tercatat pernah memperkuat tim nasional Indonesia.

Dengan latar belakang keluarga seperti itu, tidak mengherankan apabila Sumaya sangat dekat dengan sepak takraw. Sejak kecil, Sumaya jelas tak kesulitan berlatih. Sampai tiba masanya saat ia tumbuh dewasa, menekuni sepak takraw terus menjadi kegiatannya sehari-hari. Bukan untuk sekadar iseng, melainkan benar-benar serius menjadi atlet.

Salah satu wujud keseriusan Sumaya adalah dengan mengikuti seleksi untuk tampil di PON 2024. Meski demikian, suratan takdir ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Sumaya gagal lolos ke ajang multicabang terbesar di Indonesia itu.

Pascakegagalan itu, Sumaya kemudian mengambil sebuah keputusan penting: banting setir meninggalkan cabang olahraga sepak takraw ke teqball. Ternyata, keputusannya itu sangat tepat. Sumaya bisa berprestasi sekaligus mengharumkan nama Indonesia lewat teqball.

Asian Games 2026 adalah kali pertama teqball dipertandingkan dalam ajang tersebut, dan Sumaya langsung ikut serta. Hasilnya, perempuan asal Pangkalan Nyirih, Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau itu meraih medali perak dari nomor tunggal putri.

Sumaya mendapat perak pada nomor tunggal putri setelah harus mengakui keunggulan wakil Myanmar, Wai Khin Hnin, lewat drama pertarungan ketat tiga set di Nagoya City Higashi Sports Center, Jepang, pada Minggu, 20 September 2026. Awalnya, ia tampil solid dan berhasil menang tipis atas Wai Khin Hnin dengan skor 12-10. Wai Khin Hnin lalu mengubah pola permainan dan menekan balik, membuat Sumaya melakukan beberapa kesalahan sendiri hingga kalah 8-12. Kemudian pada set ketiga, Sumaya harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 9-12.

"Pertandingan kemarin sangat sengit, saya sudah melakukan yang terbaik, tapi kemenangan belum berpihak kepada saya," tutur Sumaya.

Tak ketinggalan, Syafrudin juga turut bangga atas pencapaian Sumaya. Baginya, keberhasilan sang anak berlaga di final dan memboyong perak adalah kebanggaan tersendiri.

"Saya merasa bangga sebagai orang tua Maya. Meski belum bisa menyumbangkan medali emas, saya sudah sangat merasa bangga karena dia sudah masuk final dan menyumbangkan medali perak," ujar Syafrudin.

baca juga

Hijrah dari Sepak Takraw ke Teqball, Sumaya Terus Berlatih

Banting setir dari sepak takraw ke teqball tentu membuat Sumaya harus mampu menyesuaikan diri. Untuk teknik dasar, ia memang sudah menguasai karena kedua olahraga tersebut sama-sama mengandalkan kaki untuk memainkan bola dan melontarkannya ke area lawan. Bedanya, sepak takraw dimainkan di lapangan sementara teqball di meja melengkung.

"Kebetulan sekali saya dulu adalah pemain sepak takraw. Perbedaan sepak takraw dan teqball itu dari segi sentuhannya. Kalau di takraw itu boleh sentuhannya seperti di kanan, kalau di teqball itu harus pakai paha, atau dada, kepala, tidak boleh dengan anggota tubuh yang sama," kata Sumaya.

Bukan hanya soal tempat main, Sumaya juga harus memahami aturan-aturan teqball yang tentu berbeda dengan sepak takraw. Ia mengaku peraturan teqball lebih rumit.

"Lapangan juga berbeda, lebih kecil, bolanya lebih besar dan peraturannya juga lebih sulit. Itu yang membuat saya tertarik sama teqball dan juga lebih menantang," sambungnya.

Lantas, bagaimana cara Sumaya agar bisa menguasai teqball dalam waktu dua tahun setelah hijrah dari sepak takraw? Sudah tentu dengan berlatih. Sumaya pun menjadikan latihan teqball secara intensif sebagai bagian dari kesehariannya.

"Saya terus berlatih. Hidup saya untuk teqball. Setiap hari, pagi, siang, dan sore," pungkasnya.

baca juga

 

 

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.