Bagi para atlet panjat tebing Indonesia, Asian Games 2026 bukan sekadar tempat mencari medali. Lebih dari itu, ajang tersebut adalah sumber pelajaran berharga yang akan membantu mereka untuk jadi lebih baik lagi, bahkan saat pelajaran itu datang dari kesalahan yang diperbuatnya sendiri.
Di cabang olahraga panjat tebing, Indonesia datang ke Asian Games 2026 sebagai jagoan. Bagaimana tidak, Indonesia punya rekam jejak mentereng di berbagai ajang internasional sehingga tak mengherankan pula apabila negeri ini juga diunggulkan untuk merebut emas, terutama di nomor speed.
Meski demikian, yang namanya jagoan tak melulu menang. Ada kalanya sang jagoan harus rela menerima kekalahan. Itu pula yang dialami Aditya Tri Syahria, salah satu atlet panjat tebing yang mewakili Indonesia di Asian Games 2026.
Lolos ke final nomor speed putra setelah mencatatkan waktu 4,786 detik di semifinal, medali emas sudah ada di depan mata Aditya. Seminimal-minimalnya, ia akan memboyong perak. Tugasnya kemudian adalah mengalahkan wakil China, Shouhong Chu, yang menjadi lawannya dalam partai final yang diselenggarakan di Portmesse Nagoya Exhibition Hall 1, Kamis, 1 Oktober 2026 malam WIB.
Sudah tentu harapan besar ada di pundak Aditya. Sayangnya, yang tidak terduga justru terjadi. Atlet asal Jawa Tengah itu dinyatakan false start. Ia dianggap melakukan pergerakan sepersekian detik sebelum tanda dimulainya perlombaan berbunyi.
Sedih dan kecewa. Itulah yang dirasakan Aditya. Selepas laga, ia tidak mampu menyembunyikan perasaan demikian. Air matanya jatuh. Raut kekecewaan terpancar jelas dari wajahnya. Wajar, karena persiapannya untuk laga superpenting ini sudah maksimal.
βSemua variabel dalam nomor speed itu banyak sekali. Saya pikir saya sudah berusaha tenang, percaya diri, yakin, tapi hasilnya sepersekian detik saya false start,β ujar Aditya.

Pelajaran Aditya Tri Syahria dari Asian Games 2026
Aditya memang sedih, tetapi ia tidak mau terjebak terus-terusan dalam kesedihan itu. Meski tanpa medali di tangannya, ia bertekad menjadikan apa yang terjadi di Asian Games 2026 sebagai pelajaran penting sekaligus modal berharga untuk menempa diri sebelum berlaga di ajang-ajang berikutnya.
βTentu ini bakal jadi lecutan buat saya ke depan, untuk tahun depan. Setelah Asian Games ini beres, fokus baru kita adalah Olimpiade,β kata Aditya.
Aditya tidak berusaha bangkit sendirian. Di belakangnya, ada banyak orang yang mendukungnya.
Dukungan juga datang dari rekan satu timnya, Veddriq Leonardo. Menurut Veddriq, persaingan di level Asia kini sangat ketat sehingga margin kesalahan menjadi sangat tipis. Dia menegaskan bahwa persiapan serta catatan waktu latihan Aditya dan tim sejatinya sudah berada di level terbaik.
βPersaingan sekarang sudah sangat merata di level Asia. Nomor speed ini banyak faktor dan variabel yang menentukan. Proses latihan kami sudah maksimal, beberapa kali mencatatkan waktu terbaik, namun di final memang belum rezeki,β tutur Veddriq.
Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Taufik Hidayat, juga turut menyuntikkan dukungan untuk Aditya. Ia menyatakan apresiasi atas perjuangan sang atlet.
βYa, inilah final. Tetap bangga dan mengapresiasi perjuangan Aditya yang sudah berjuang maksimal. Ini menjadi pelajaran dan pengalaman berharga untuk ajang-ajang internasional berikutnya,β ujar Taufik.
Β


