Terowongan Gunung Gajah adalah terowongan kereta api bersejarah peninggalan era kolonial Hindia Belanda yang terletak di Kelurahan Gunung Gajah, Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Terowongan ini membentang sepanjang 368 meter melintasi kawasan perbukitan dan berada tepat di antara Stasiun Lahat serta Stasiun Bunga Mas.
Terowongan tua yang dikelola di bawah naungan PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional III Palembang ini masih beroperasi secara aktif hingga saat ini. Perlintasan ini rutin dilalui oleh rangkaian kereta api penumpang maupun kereta api angkutan barang logistik setiap harinya.
Sejarah Terowongan Gunung Gajah
Pembangunan Terowongan Gunung Gajah diinisiasi oleh perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial, Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS). Proses pengerjaan konstruksinya dimulai pada tahun 1924 dan rampung pada 1925.
Perancangan struktur bangunan terowongan ini ditangani langsung oleh seorang arsitek berkebangsaan Belanda bernama Willem Sijnja. Sebagai informasi, terowongan ini sebenarnya memiliki nama Willem Sijnja Tunnel. Namun, masyarakat menyebutnya Terowongan Gunung Gajah.
Pembangunannya cukup menantang karena wilayah ini berada di perbukitan terjal, seperti di segmen LahatβTebing Tinggi. Proyek perkeretaapian ini merupakan bagian integral dari rencana besar penyambungan seluruh jaringan rel kereta api di Sumatra.
Jalur kereta api segmen LahatβLubuklinggau ini secara keseluruhan baru dapat diresmikan dan beroperasi penuh mulai tanggal 1 November 1932. Terowongan ini juga sempat mengalami masa penutupan sementara sebelum dibuka kembali untuk jalur lalu lintas kereta pada tahun 1952.
Arsitektur Bangunan
Terowongan Gunung Gajah dibangun khusus untuk mengakomodasi jalur rel tunggal dengan spesifikasi ukuran lebar sepur sebesar 1.067 mm. Struktur dinding dalam terowongan terbuat dari konstruksi batu dan semen tebal serta dilengkapi penerangan lampu listrik.
Proses pengerjaan fisik terowongan pada zaman penjajahan Belanda ini mengandalkan sistem kerja paksa atau rodi yang banyak memakan korban jiwa pekerja lokal. Di bagian dalam terowongan, dibangun fasilitas berupa 25 ruang lindung atau kamar kecil yang terbagi di sisi kanan dan kiri dinding.
Setiap ruang lindung keselamatan tersebut ditempatkan dengan jarak selang sekitar 3 meter antara satu ruangan dengan ruangan lainnya. Ruangan kecil ini berfungsi utama sebagai tempat berlindung bagi para petugas pemeliharaan jalan rel ketika ada rangkaian kereta api yang melintas.
Terowongan Gunung Gajah sampai hari ini menjadi satu-satunya jalur perlintasan rel kereta api yang menghubungkan Kota Lahat menuju Kabupaten Empat Lawang hingga Kota Lubuklinggau.
Pada tanggal 23 Januari 2016, kawasan di sekitar mulut terowongan ini sempat diterjang tanah longsor yang memutus arus perjalanan kereta api.
Konon, terowongan ini juga memiliki cerita seram. Ada yang mengatakan bahwa warga melihat sosok tanpa kepala di sekitar pintu keluar terowongan di waktu-waktu tertentu. Kondisi sekitar terowongan yang dikelilingi pohon-pohon yang lebat juga menambah keseraman terowongan tersebut.


