tak sekadar air bersih warga solo kini bisa hemat pengeluaran dan olah sampah dari rumah - News | Good News From Indonesia 2026

Tak Sekadar Air Bersih, Warga Solo Kini Bisa Hemat Pengeluaran dan Olah Sampah dari Rumah

Tak Sekadar Air Bersih, Warga Solo Kini Bisa Hemat Pengeluaran dan Olah Sampah dari Rumah
images info

Program Master Meters/Coca-Cola


Akses air bersih masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat di kawasan padat penduduk Kota Solo, Jawa Tengah. Persoalan status lahan, keterbatasan ekonomi, hingga kualitas air sumur membuat sebagian warga kesulitan mendapatkan sumber air yang aman untuk kebutuhan sehari-hari.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Coca-Cola Foundation Indonesia berkolaborasi dengan PDAM Toya Wening menghadirkan program Master Meter. Sejak mulai berjalan pada Oktober 2025, program ini telah melayani sekitar 50 kepala keluarga (KK) di kawasan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo.

Tidak hanya membantu warga memperoleh air bersih dengan biaya lebih terjangkau, inisiatif tersebut juga dilengkapi upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan permukiman sekaligus mendorong warga mengelola kebutuhan dasar secara mandiri.

Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia sekaligus Senior Director Public Affairs, Communications and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo, mengatakan ketersediaan air perlu diimbangi dengan upaya memperluas akses bagi masyarakat.

β€œIndonesia memang diberkahi dengan jumlah air yang banyak, mungkin secara neraca air Indonesia itu sangat tinggi, sangat positif. Tapi memang akses, sesuatu yang kita mesti dukung,” kata Triyono dalam Media Briefing Coca-Cola Foundation di Solo, Kamis (8/10/2026).

Master Meter Jadi Alternatif bagi Warga yang Terkendala Sambungan PDAM

Program Master Meter menggunakan satu meter induk dari PDAM yang terhubung dengan jaringan pipa menuju rumah-rumah warga. Sistem tersebut menjadi alternatif bagi masyarakat yang belum dapat memasang sambungan air secara reguler, termasuk warga yang tinggal di atas lahan dengan persoalan legalitas.

Manager Air Limbah PDAM Toya Wening Kota Solo, Bayu Tunggul P, menjelaskan sebagian rumah di kawasan Margorejo, Kelurahan Gilingan, berdiri di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala pemasangan sambungan PDAM biasa.

Sebelum program berjalan, sebagian warga mengandalkan hidran umum sehingga harus mengambil air dari lokasi tertentu untuk dibawa pulang. Sementara itu, sejumlah sumur dangkal di wilayah Solo ditemukan tercemar bakteri koliform, termasuk E. coli, yang menjadi perhatian terkait keamanan air untuk dikonsumsi.

Melalui Master Meter, PDAM menyediakan layanan dengan tarif khusus agar lebih sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah.

Fasilitator Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP), Ilham Syaiful Huda, menerangkan pengelolaan jaringan setelah meter induk dilakukan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Kelompok tersebut bertanggung jawab atas pencatatan meter, pembayaran pelanggan, pengelolaan keuangan, serta perawatan jaringan apabila terjadi kebocoran. Pendampingan dan prosedur operasional standar juga diberikan agar pengelolaan tetap berjalan setelah program berakhir.

β€œJadi KSM memang harus memeriksa jalur di mana ada kebocoran dan harus membenerinnya Kalau enggak nanti harganya jadi besar,” ujar Ilham.

Manfaatnya mulai dirasakan warga. Suwarno (86), warga Gilingan, mengaku pengeluaran untuk air minum menjadi lebih ringan setelah menggunakan layanan tersebut. Sebelumnya, ia membeli rata-rata empat galon air minum setiap bulan.

Sekretaris KSM Mardi Rahayu, Katariksa Dani Putra, mengatakan biaya layanan yang dibayarkan warga berkisar Rp25.000 hingga Rp40.000 per KK setiap bulan.

β€œJadi sangat diuntungkan sekali, setiap bulan (tagihannya) Rp 25.000 sampai Rp 40.000 (per kk),” ujarnya.

Menurut Dani, kebutuhan terhadap akses air juga meningkat ketika musim kemarau menyebabkan debit sejumlah sumur warga berkurang. Ia menyebut beberapa warga mulai menanyakan kemungkinan memperoleh sambungan melalui program serupa, meskipun kapasitas layanan saat ini masih terbatas.

Pengolahan Sampah dari Rumah untuk Mengurangi Beban TPA

Selain akses air, Coca-Cola Foundation Indonesia bekerja sama dengan ResikPlus mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas di kawasan Gilingan. Program ini menitikberatkan pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari rumah agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Founder ResikPlus, Bayu Imamtoko, menjelaskan sampah organik menjadi prioritas karena sisa makanan yang menumpuk dapat menimbulkan bau dan mengganggu kebersihan lingkungan.

β€œKalau memang pengolahan sisa makanannya berhasil maka 60 persen masalah sampah sudah selesai. Selesai di wilayah itu tidak perlu keluar dari wilayah itu,” kata Bayu.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan di permukiman padat, sisa makanan diolah menggunakan komposter berkapasitas 200 liter. Teknologi tersebut dirancang agar pengolahan dapat dilakukan tanpa memerlukan lahan luas.

Sementara itu, sampah anorganik seperti kemasan plastik ditangani menggunakan mesin pencacah untuk meningkatkan nilai ekonominya. Dengan cara tersebut, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dikelola lebih lanjut, sedangkan residu menjadi bagian yang perlu ditangani secara terpisah.

Triyono menilai penyediaan air bersih tidak dapat dipisahkan dari kondisi sanitasi dan lingkungan tempat tinggal masyarakat.

β€œKalau airnya ada, tapi pengelolaan sampahnya kurang baik, mau tidak mau berdampak kepada kesehatan. Karena itu, setelah akses air bersih terpenuhi, kita melihat juga dari sisi pengelolaan sampah,” katanya.

Lurah Gilingan, Galih Kusumaatmaja, menyambut baik kolaborasi tersebut karena membantu warga yang belum memperoleh layanan air secara optimal.

Melalui pengembangan akses air dan pengelolaan sampah, para pihak berharap masyarakat dapat memperoleh lingkungan yang lebih sehat sekaligus memperkuat kemandirian di tingkat permukiman. Pengalaman di Gilingan juga diharapkan menjadi contoh yang dapat diterapkan di kawasan lain di Kota Solo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.