tahan amarah cuaca panas bikin gampang emosi hingga berakhir di jalur hukum ini saran psikolog - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Cuaca Panas Bikin Gampang Emosian, Salah Satu Solusinya adalah Tidur

Ketika Cuaca Panas Bikin Gampang Emosian, Salah Satu Solusinya adalah Tidur
images info

Ilustrasi orang marah \ Unsplash


Saat cuaca sedang terik-teriknya, apakah Kawan GNFI tipe orang yang gampang emosian? Contohnya saat baru keluar rumah sebentar, keringat sudah bercucuran. Belum lagi menghadapi jalanan macet dan suara bising di sekitar yang bikin tambah badmood. Padahal jika itu terjadi saat kondisi normal, bisa saja ditanggapi dengan santai.

Namun saat dalam kondisi sumuk atau gerah, hal-hal kecil bisa menjadi sumber amarah. Dan jika Kawan tak ada kontrol diri, perlu waspada. Karena emosi yang meledak bisa berujung pada tindakan kriminal hingga berakhir di jalur hukum, seperti yang sudah terjadi di Surabaya pada Mei lalu.

Seorang kurir galon bernama Yunias Atafani menjalani persidangan atas dugaan penganiayaan terhadap warga bernama Subagiyo. Dalam persidangan, Yunias mengaku memukul korban karena terpancing emosi saat cuaca sedang panas.

"Emosi saja, Pak, tidak minum (alkohol). Ya panas saja saat itu," ujarnya, sebagaimana mengutip dari detikJatim.

Peristiwa yang terjadi pada 25 Mei 2026 di kawasan Sambikerep, Surabaya, bermula ketika Subagiyo membunyikan klakson karena sepeda motor Yunias menghalangi akses masuk ke rumahnya. Dari situ, emosi pelaku meledak dan langsung membaku hantam korban yang menyebabkan luka di bagian bibir dan pipi korban.

Yunias bukanlah orang yang pernah tersandung pidana sebelumnya. Ia mengaku penganiayaan tersebut bersifat spontan karena pada saat kejadian, terik matahari sedang panas-panasnya yang menyebabkan dia mudah tersulut emosi.

Atas perbuatannya, Yunias terjerat Pasal 466 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) atas dugaan penganiayaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"Belum pernah dipenjara. Saya menyesal, Yang Mulia," sesal Yunias.

baca juga

Bagaimana dari Sisi Psikologisnya?

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, menjelaskan bahwa suhu panas dapat membuat tubuh menjadi tidak nyaman secara fisik maupun psikis. Hal ini berkaitan dengan teori beban stimulus, yaitu ketika rangsangan dari lingkungan melebihi kapasitas normal tubuh.

Dan hormon yang menjadi pemicu stres juga ikut meningkat. Jadi tubuh perlu bekerja lebih keras untuk beradaptasi dengan suhu panas yang mengakibatkan rasa lelah dan ketidaknyamanan.

β€œKalau stimulus yang kita terima, kondisi yang kita terima itu melebihi kapasitas dari normalnya tubuh kita, itu akan berdampak pada meningkatnya hormon kortisol. Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres,” jelasnya.

Kondisi seperti ini juga dapat mengganggu proses berpikir dan membuat seseorang lebih sensitif terhadap perkataan atau tindakan orang lain. Bahkan hal yang sebenarnya netral pun bisa dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu atau bernada negatif.

baca juga

Solusi dari Psikolog

Ternyata selain faktor suhu lingkungan, kondisi tubuh yang kurang fit juga berdampak pada kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya. Seperti dehidrasi dan kurang tidur dapat memperburuk kondisi fisik dan psikologis.

Karena itu, menjaga kesehatan dapat menjadi salah satu hal yang dapat diperhatikan ketika cuaca sedang panas. Salah satunya adalah dengan menjaga kualitas tidur.

Bagaimana kualitas tidur yang baik? Menurut Alifah, tidak hanya dilihat dari durasinya saja, tetapi apakah otak dan tubuh sudah mendapatkan waktu secara optimal untuk beristirahat? Karena pada dasarnya, tidur yang berkualitas dapat bantu memulihkan tubuh dan pikiran agar lebih siap dalam menjalani aktivitas esok hari.

β€œTidur itu bukan perkara lamanya, tapi kualitasnya,” tuturnya.

Selain itu, ketika merasa emosi sudah mulai memuncak, segera kurangi rangsangan yang membuat tubuh tidak nyaman. Bisa dimulai dengan melakukan langkah-langkah sederhana yang dapat membantu tubuh agar kembali rileks, seperti berteduh, minum air atau mencuci muka.

Di sisi lain, Kawan juga perlu mengenali emosi dan memahami hal-hal yang dapat memicu stres. Karena setiap orang sebenarnya berbeda-beda dalam menghadapi struggle-nya masing-masing. Dengan mengenali kondisi diri, hal itu dapat bantu mengetahui apa yang membuat suasana hati membaik dan apa yang membuat suasana hati memburuk.

β€œYang pertama itu simple, kita kenal emosi kita. Kita tahu hal-hal apa yang bisa membuat kita senang sama membuat kita bete,” ujarnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.