Seni bela diri tradisional Indonesia kembali memikat perhatian masyarakat dunia lewat ajang 1st International Pencak Silat Culture & Heritage Festival. Kegiatan ini diselenggarakan di kota Amersfoort, Belanda, pada Sabtu (10/10/2026) hingga Minggu (11/10/2026) waktu setempat.
Melalui festival budaya internasional ini, pencak silat tidak hanya ditampilkan sebagai seni pertarungan fisik semata. Kawan GNFI dapat melihat bagaimana perpaduan harmoni antara seni gerak, irama musik tradisional, hingga ajaran nilai-nilai luhur dipamerkan secara memukau di Eropa.
Jembatan Diplomasi Budaya di Amersfoort
Pemilihan Belanda sebagai tuan rumah penyelenggaraan acara perdana ini dinilai sangat strategis. Kedudukan kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai jembatan penting untuk memperluas pengenalan serta pengembangan tradisi pencak silat di benua Eropa.
Inisiatif besar ini digerakkan oleh Federasi Pencak Silat Belanda atau Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF). Lembaga tersebut saat ini menaungi sekitar 50 perguruan aktif dengan lebih dari 700 praktisi terdaftar di Negeri Kincir Angin.
Kehadiran komunitas lokal Belanda dalam menjaga tradisi Nusantara ini menjadi bukti nyata kuatnya hubungan antarmasyarakat (people-to-people relations). Sinergi kebudayaan ini turut didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui pengalokasian Dana Indonesia Raya.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan resmi yang dihadiri oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, bersama Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, L. Amrih Jinangkung. Sambutan hangat juga disampaikan oleh Presiden NPSF, Olivier Blancquaert, di hadapan para pengunjung yang antusias.
Keragaman Tradisi dari Tiga Perguruan Nusantara
Kehadiran delegasi khusus dari Indonesia menjadi magnet utama dalam ajang 1st International Pencak Silat Culture & Heritage Festival. Tiga perguruan silat historis diboyong langsung untuk memperagakan karakter unik dari daerah masing-masing.
Perguruan Panglipur membawa kekayaan gerakan khas dari Jawa Barat, sedangkan Harimau Singgalang memamerkan ketangkasan jurus tradisional asal Sumatra Barat. Sementara itu, Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun turut melengkapi keberagaman lewat gaya khas Jawa Timur.
Melalui peragaan pertunjukan, lokakarya interaktif, serta sesi pelatihan bersama, para maestro dan praktisi dari Indonesia saling berbagi pengetahuan dengan komunitas pesilat setempat. Pertukaran keterampilan ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh para peserta festival.
Langkah kolaborasi ini menjadi krusial mengingat tradisi pencak silat telah dicatat sebagai salah satu dari 3.277 elemen Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Bahkan, UNESCO telah menginskripsi tradisi ini dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity sejak 2019.
Langkah Menuju Panggung Olimpiade Dunia
Selain memperkuat nilai kebudayaan dan spiritualitas, penyelenggaraan ajang ini juga memikul misi besar di bidang olahraga. Indonesia terus berupaya menggalang dukungan internasional agar pencak silat dapat dipertandingkan secara resmi dalam ajang Olimpiade.
Aspirasi untuk membawa pencak silat ke kancah Olimpiade sebagaimana kerap ditekankan oleh Presiden Prabowo Subianto membutuhkan partisipasi aktif global. Oleh karena itu, keterlibatan aktif dari komunitas internasional menjadi kunci utama pencapaian target tersebut.
Dukungan finansial melalui dana abadi kebudayaan diharapkan mampu memberi dampak langsung bagi para seniman, maestro, dan praktisi budaya. Dukungan ini memfasilitasi mereka untuk terus mengembangkan kapasitas serta mempromosikan warisan leluhur ke tingkat global.
Festival di Amersfoort ini diharapkan tidak berhenti sebagai ajang seremonial belaka, melainkan tumbuh menjadi wadah kerja sama yang berkelanjutan. Kawan GNFI tentu berharap kebudayaan Indonesia senantiasa menjadi jembatan persahabatan yang kokoh antar-bangsa di masa depan.


