Stasiun Surabaya Kota (SB) adalah sebuah stasiun kereta api kelas besar tipe B yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Stasiun ini dikelola oleh Daerah Operasi VIII Surabaya dan KAI Commuter serta berada di ketinggian +4 meter di atas permukaan laut.
Kawan GNFI, stasiun yang sudah ada sejak era kolonial ini lumrah dikenal oleh warga Surabaya dan sekitarnya dengan sebutan Stasiun Semut. Apa alasannya?
Kenapa Stasiun Surabaya Kota Disebut Stasiun Semut?
Kawan GNFI jangan membayangkan kalau sebutan “Semut” dikarenakan banyak semut yang ada di wilayah itu. Nama “Semut” di sini tidak berkorelasi dengan hewan semut.
Melansir dari akun Instagram resmi PT KAI, @kai121, nama “Semut” konon berasal dari perkemahan militer Belanda bernama “Semoet”. Dari sinilah stasiun ini dikenal menjadi Stasiun Semut sampai sekarang.
Di sisi lain, ada pula yang menyebut penamaan Stasiun Semut berasal dari lokasinya yang ada di kawasan Kampung Semut.
Sejarah Stasiun Semut
Staatspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, mulai membangun jalur kereta api sendiri pada 1875. Jalur yang mereka bangun pertama adalah Surabaya—Pasuruan—Malang atau Oosterlijnen (lintas timur).
Stasiun Semut merupakan stasiun pertama di Surabaya dan Jawa Timur. Gedung stasiunnya diresmikan pada 16 Mei 1878 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-55, J.W. van Lansberge.
Pembukaan stasiun ini bebarengan dengan dibukanya jalur kereta api Surabaya—Pasuruan sepanjang 63 km. Melansir dari akun Instagram @sepur.8, di masa awal, jalur kereta api dibangun untuk mendukung mobilitas dan mengangkut hasil bumi serta perkebunan dari wilayah pedalaman Jawa Timur menuju pelabuhan.
Seiring dengan semakin ramainya pengguna moda transportasi kereta api, Stasiun Semut direnovasi pada tahun 1881. Empat tahun setelahnya, SS membangun jalur kereta api menuju Kalimas, kawasan pelabuhan Surabaya.
Jalur ini mendukung eksistensi Surabaya sebagai penghasil ekspor, utamanya gula, dan daerah industri serta perdagangan. Dalam perkembangannya, Stasiun Semut difokuskan sebagai stasiun pengangkutan barang.
Uniknya, pada tahun 1978, sebetulnya ada rencana Pemda Surabaya untuk menggusur stasiun ini. Akan tetapi, Kantor Pusat PJKA di Bandung mengusulkan agar bangunan bersejarah ini cukup dipugar dan direhabilitasi saja.
Walhasil, saat ini Stasiun Semut sudah berstatus sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Wali Kota No. 188.45/251/402.1.04/1996 dan SK Menteri No. PM.23/PW.007/MKP/2007.
Peran Penting Stasiun Semut
Stasiun yang masih mempertahankan gaya arsitektur khas Eropa ini melayani perjalanan kereta api lokal atau Commuter Line. Kereta ini mendukung mobilitas masyarakat menuju berbagai wilayah di Jawa Timur bagian selatan.
Namun, Stasiun Semut bukan hanya dimanfaatkan sebagai tempat naik turun penumpang saja. Stasiun ini juga digunakan sebagai lokasi langsiran kereta api. Langsiran kereta api adalah proses pergerakan lokomotif atau rangkaian kereta untuk berpindah jalur, diposisikan, atau dipersiapkan untuk perjalanan berikutnya. Selain itu, stasiun ini juga dipakai sebagai tempat parkir atau penyimpanan rangkaian kereta api.
Kawan GNFI, lokasi Stasiun Semut sangat strategis. Stasiun ini berada di kawasan Bongkaran, Pabean Cantian, Surabaya. Area ini adalah salah satu tempat strategis di Kota Surabaya.
Tak hanya itu, lokasinya dekat dengan pusat perdagangan dan pertokoan. Stasiun satu ini berdiri di kawasan bersejarah yang menjadi bagian dari perkembangan Kota Surabaya, sehingga cocok dijadikan tujuan wisata sejarah.
Mengutip dari Perpustakaan Nasional, di masa revolusi tahun 1945, stasiun ini menjadi markas para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamirkan kala itu.
Kawan GNFI ada yang pernah naik atau turun dari Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut?


