Embung Doho di Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kini berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai penampung air untuk pertanian. Kawasan ini mengintegrasikan irigasi, energi terbarukan, konservasi lingkungan, hingga potensi ekonomi berbasis masyarakat.
Pengembangan tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan air di tengah ketidakpastian iklim. Kolaborasi PT Coca-Cola Indonesia, Coca-Cola Foundation Indonesia, Yayasan Obor Tani, pemerintah daerah, dan masyarakat menghadirkan fasilitas pendukung untuk memperluas manfaat embung bagi warga.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mengatakan, embung seluas 1,5 hektare tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air sekaligus mendukung produktivitas pertanian.
βDampak positif pembangunan embung seluas 1,5 hektare ini yang utama adalah mampu menghadirkan fasilitas irigasi dan ketahanan ketersediaan air untuk budidaya pertanian,β kata Setyo di Embung Doho, Rabu (7/10/2026).
Embung yang mulai dibangun pada 2017 dan diresmikan pada 2018 itu memiliki kapasitas penampungan sekitar 15.872 meter kubik. Keberadaannya menjadi penopang bagi petani, terutama ketika aliran sungai setempat mengering pada musim kemarau.
Berdasarkan informasi pemerintah Kecamatan Girimarto, Embung Doho juga berkembang menjadi kawasan wisata yang dikelola melalui BUMDes Doho Bersinar. Perkembangan tersebut membuka peluang pemanfaatan kawasan untuk kegiatan ekonomi di luar sektor pertanian.Β
Panel Surya 2.340 Wp Bantu Pompa Air, Lebih dari 300 Petani Merasakan Manfaatnya
Saat ini, lebih dari 300 petani yang tergabung dalam tujuh gabungan kelompok tani (Gapoktan) memanfaatkan air Embung Doho untuk mengairi lahan mereka. Ketersediaan air menjadi penting ketika sumber pengairan lain mengalami penurunan debit selama musim kemarau.
Untuk mendukung distribusi air, kawasan ini dilengkapi empat unit panel surya dengan kapasitas masing-masing 585 watt peak (Wp). Total kapasitas terpasangnya mencapai 2.340 Wp.
Energi matahari dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa yang mengalirkan air dari embung menuju kebun dan persawahan warga. Instalasi panel surya di titik lainnya digunakan untuk menunjang kebutuhan listrik Taman Kuliner Doho.
Dengan demikian, pemanfaatan energi terbarukan tidak hanya menjadi fasilitas tambahan, tetapi juga mendukung operasional pertanian dan aktivitas ekonomi kawasan.
Pengembangan ini turut dipadukan dengan konsep pemanenan air hujan (rainwater harvesting) serta penggunaan kembali air untuk kebutuhan nonkonsumsi (water reuse).
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan Joko Purwidyatmo menilai, kelengkapan fasilitas perlu diimbangi dengan pemeliharaan kawasan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
βHarapan kita bersama, semakin lengkap fasilitas dan terjaganya kawasan Embung Doho ini dapat menjadi pemantik kelestarian lingkungan sekaligus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,β kata Joko.
Pendekatan tersebut sejalan dengan program pengelolaan air berbasis kolaborasi yang juga dijalankan Coca-Cola Foundation Indonesia bersama Yayasan Obor Tani di sejumlah wilayah. Dalam publikasi resminya, Coca-Cola menjelaskan bahwa pembangunan embung ditujukan untuk membantu menjaga pasokan air pertanian dan memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi persoalan ketersediaan air.
Bukan Cuma Keuntungan Perusahaan, Manfaat untuk Warga Jadi Tolok Ukur
Public Affairs and Communication Director PT Coca-Cola Indonesia sekaligus Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia, Triyono Prijosoesilo, mengatakan pembangunan embung merupakan bagian dari pendekatan perusahaan dalam mendukung pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Menurut Triyono, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga komitmen masyarakat untuk merawat dan mengelolanya.
βKomitmen dari masyarakatnya juga penting. Masyarakat berkomitmen bahwa pada waktu kita bangun ini, mereka akan mengelola dengan baik,β katanya.
Ia menegaskan, manfaat bagi masyarakat menjadi salah satu ukuran utama keberhasilan program tersebut.
βReturn yang kita lihat adalah return ke masyarakat,β ujar Triyono.
Dampak yang diperhatikan mencakup ketersediaan air, manfaat bagi petani, serta peluang meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan warga. Meski demikian, penerapan program di daerah lain tidak selalu bisa dilakukan dengan pola yang sama.
βKadang-kadang kita lihat kebutuhannya jauh. Ini kan cocok, tetapi apakah kita bisa menemukan lagi yang persis sama dengan komitmen yang sama di komunitas yang berbeda belum tentu,β katanya.
Dengan dukungan energi surya, konservasi air, dan pengelolaan berbasis masyarakat, Embung Doho menunjukkan bagaimana infrastruktur air dapat memiliki fungsi lebih luas. Keberlanjutan manfaatnya tetap bergantung pada pemeliharaan fasilitas dan keterlibatan warga agar pertanian, lingkungan, serta kegiatan ekonomi desa dapat tumbuh bersama.


