Masa depan pendidikan tinggi di tengah pesatnya perkembangan teknologi menjadi perhatian utama dalam QS Higher Ed Summit Asia-Pacific 2026. Lebih dari 1.500 pemimpin perguruan tinggi, pejabat pemerintah, hingga pakar industri dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik berkumpul di Bali untuk membahas tantangan sekaligus merumuskan arah pendidikan tinggi di masa mendatang.
Forum internasional bergengsi tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 November 2026, di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Bali. Pertemuan ini menjadi ruang strategis bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk bertukar gagasan, memperkuat kolaborasi, serta merespons perubahan global yang semakin dipengaruhi oleh transformasi digital.
Mengusung tema โAdvancing Education for Purpose and Impactโ, penyelenggaraan tahun ini menyoroti pentingnya pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat konkret bagi masyarakat.
Chief Executive Officer (CEO) QS Quacquarelli Symonds, Jessica Turner, menilai perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap dunia pendidikan, termasuk cara manusia memperoleh pengetahuan, bekerja, hingga menghasilkan penelitian.
Menurutnya, perubahan tersebut membuat kebutuhan keterampilan di dunia kerja berkembang semakin cepat. Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk memastikan bahwa pendidikan yang diberikan tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
โTeknologi telah mengubah cara kita belajar, bekerja, dan melakukan penelitian. Keterampilan yang dibutuhkan ekonomi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam situasi ini, universitas dituntut untuk membuktikan bahwa berkuliah itu bernilai dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,โ ujar Jessica Turner dalam sambutannya di Bali, Selasa (3/11/2026).
Jessica juga menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat institusi pendidikan kehilangan orientasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya diukur melalui kemampuan beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga dari kontribusinya dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Indonesia Dinilai Punya Peran Strategis dalam Pendidikan Global
Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah QS Higher Ed Summit Asia-Pacific 2026 mendapat apresiasi dari Jessica Turner. Ia memandang Indonesia memiliki posisi penting dalam perkembangan pendidikan tinggi di kawasan Asia-Pasifik.
Dengan populasi sekitar 290 juta jiwa, keberagaman budaya, serta ekosistem pendidikan yang terus berkembang, Indonesia dinilai mampu merepresentasikan berbagai tantangan sekaligus peluang yang dihadapi kawasan tersebut.
Jessica menyebut pendidikan tinggi memiliki peran lebih luas daripada sekadar menyediakan akses pembelajaran. Perguruan tinggi juga menjadi salah satu penggerak perubahan sosial, pertumbuhan ekonomi, dan lahirnya berbagai inovasi.
โPendidikan tinggi memiliki kekuatan transformatif untuk mengubah jalan hidup seseorang, memperkuat perekonomian, dan memicu inovasi untuk menjawab tantangan global,โ tambahnya.
Dalam forum tersebut, sejumlah isu strategis turut menjadi pembahasan. Mulai dari internasionalisasi perguruan tinggi, penguatan riset dan inovasi, kesiapan lulusan memasuki dunia kerja (employability), transformasi teknologi, hingga keberlanjutan lingkungan.
Penyelenggaraan konferensi ini merupakan hasil kerja sama QS Quacquarelli Symonds dengan Universitas Bina Nusantara (BINUS) sebagai tuan rumah. Universitas Padjadjaran (Unpad) dan The Education University of Hong Kong turut berperan sebagai mitra penyelenggara.
Kehadiran berbagai institusi pendidikan dari negara-negara Asia-Pasifik diharapkan membuka peluang kerja sama lintas negara, khususnya dalam pengembangan kualitas pendidikan, penelitian, dan pertukaran pengetahuan.
BINUS Soroti Tantangan Besar di Balik Pertumbuhan Mahasiswa
CEO Bina Nusantara (BINUS) Group, Bernard Gunawan, menyampaikan kebanggaannya karena Bali dipercaya menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin dan pemikir pendidikan dari berbagai belahan dunia.
Menurut Bernard, kawasan Asia-Pasifik kini memiliki pengaruh semakin besar dalam perkembangan pendidikan global. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan jumlah mahasiswa yang terus meningkat di berbagai negara.
Mengutip data UNESCO, Bernard mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar pendidikan tinggi secara global telah mencapai 269 juta orang. Dari angka tersebut, kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan menyumbang sekitar 137 juta pendaftar.
Sementara di Indonesia, jumlah mahasiswa aktif di perguruan tinggi telah melampaui 10 juta orang. Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan sekaligus peluang pengembangan pendidikan tinggi di Tanah Air.
Namun, Bernard mengingatkan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa harus diikuti dengan upaya memastikan kualitas dan relevansi pendidikan. Perguruan tinggi tidak cukup hanya memperluas akses, tetapi juga perlu menghasilkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
โPertumbuhan angka ini tidak hanya patut dirayakan, tetapi juga menantang kita untuk berpikir apa langkah selanjutnya. Pertanyaan utamanya adalah bagaimana kita memastikan bahwa pendidikan mampu menciptakan dampak dan tujuan yang lebih besar bagi masyarakat di era yang terus ditransformasi oleh teknologi,โ jelas Bernard.
Ia menambahkan, tema yang diangkat dalam QS Higher Ed Summit Asia-Pacific 2026 sejalan dengan perjalanan BINUS University selama 45 tahun dalam membina dan memberdayakan masyarakat demi membangun bangsa.
โKami berkomitmen untuk terus memperluas akses pendidikan berkualitas, mendorong inovasi riset, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor di tingkat nasional maupun internasional,โ katanya.
Melalui pertemuan internasional ini, para penyelenggara berharap tercipta kemitraan strategis dan gagasan kolaboratif yang dapat ditindaklanjuti dalam jangka panjang.
Lebih dari sekadar forum diskusi, QS Higher Ed Summit Asia-Pacific 2026 diharapkan menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi kembali perannya di tengah perubahan dunia. Tantangannya bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan pendidikan tetap memiliki tujuan, relevansi, dan dampak nyata bagi generasi mendatang.


