AI Overviews adalah fitur pada mesin pencari Google yang mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk memberikan ringkasan jawaban langsung di halaman hasil pencarian. Fitur AI ini mulai dipakai pertama kali di Amerika Serikat pada 2024 dan terus-menerus mengalami pemutakhiran supaya memudahkan pengguna internet ketika membuka informasi di situs Google.
Kehadiran AI Overviews memang dimaksudkan agar manusia sebagai pengguna bisa secara instan menggali informasi dalam waktu singkat berbekal kata kunci saja. Akan tetapi, kemudahan ini bisa menjadi buah simalakama bagi sang pengguna.
Masalahnya AI Overviews tidaklah kaya menyajikan informasi, masih memaparkan kekeliruan, dan berpotensi mengurangi kunjungan ke situs website media pemberitaan yang lebih kredibel dalam menyedikan informasi. Namun, di sisi lain, fitur ini membantu terutama bagi kalangan jurnalis yang dituntut memproduksi konten lebih cepat setiap waktunya.
Bagi mantan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), Janeo Arijanto adanya AI Overviews tidak dipungkiri membantu. Hanya saja perannya justru mematikan insting jurnalisme terutama mereka yang bekerja di bidang jurnalistik.
βDi sana jurnalisme hilang. Di sana jurnalisme semakin tipis dan kemudian interpretasi tidak dilakukan oleh seorang jurnalis,β ucap Janeo yang juga merupakan mantan CEO Dentsu One dalam acara GoodTalk Off-Air belum lama ini.
Peranan mesin pencari yang memanfaatkan algoritma memang berpengaruh dalam keberlangsungan media berbasis digital. Janeo melihat fenomena ini sudah terjadi sejak jauh-jauh hari sehingga eksistensi media menjadi kian minim, dan tergantikan dengan akun-akun media sosial wa bil khusus AI Overviews yang menyajikan berita berdasarkan algoritma internet.
βCara mengakses berita bukan lagi ke website di sebuah news portal, tapi sudah mulai ke akun-akun. Dan yang baru sama sekali dalam setahun ini adalah akses berita itu ke AI Overviews yang dibuat Google atau mungkin dibuat oleh banyak sekali platform,β ucapnya.
Penurunan Angka Kunjungan Website
AI Overviews memberikan dampak baik dan buruk bagi pengguna internet yang memakai jasa Google ketika mencari informasi tertentu. Baiknya informasi hadir lebih cepat, tetapi buruknya belum tentu informasi yang disajikan valid dan terpercaya.
Penurunan angka kunjungan website turut menjadi salah satu imbas dari hadirnya fitur AI Overviews. Bagi orang-orang yang bekerja di industri media jelas ini menjadi gelombang hebat karena kompetitor baru datang dari Google yang memanfaatkan sepenuhnya algoritma internet.
βSaya yang ngurusin teman-teman di The Conversation juga merasa bahwa penurunan itu rata-rata 33 persen bahkan 40 persen. Luar biasa!β kata Janeo yang merupakan mantan CEO agensi kreatif, Dentsu One.
Algoritma sebegitu mudahnya membentuk narasi layaknya manusia, khususnya mereka yang terbiasa menulis berita. Untuk orang awam kehadiran AI Overviews dengan algoritmanya tentu memanjakan, tetapi bagi Janeo justru menjadi masalah karena manusia menjadi bergantung dengan bantuan mesin.
βPersoalannya adalah bukan bagaimana berita itu pindah, tapi adalah narasi, pemaknaan, value, dan kemudian bahkan diksinya itu dibuat oleh bukan manusia. Thatβs the problem,β ucap dia.

