bukan sekedar berhubungan media relations harus punya nilai dan dampak nyata - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Sekedar Berhubungan, Media Relations Harus Punya Nilai & Dampak Nyata

Bukan Sekedar Berhubungan, Media Relations Harus Punya Nilai & Dampak Nyata
images info

GoodTalk Off-Air di Danone Space, RDTX Place, Jakarta Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026.


Dari namanya saja, tak sulit diterka jika media relations adalah perkara menjalin hubungan dengan awak media. Hanya saja, perlu diketahui bahwa hubungan tersebut sudah semestinya bisa saling memberikan nilai dan berdampak nyata bagi kedua belah pihak yang terlibat.

Hal itu menjadi fokus utama dalam GoodTalk Off-Air bertajuk “Media Relations That Matter: Membangun Hubungan, Bukan Sekadar Mengirim Press Release” yang diselenggarakan oleh Good News From Indonesia (GNFI) dan Perhumas. Bertempat di Danone Space, RDTX Place, Jakarta Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026, acara ini menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang akademisi, praktisi kehumasan, serta manajerial media massa. Dalam diskusi bersama audiens, mereka membahas tentang strategi menjalin hubungan dengan media yang optimal demi membangun kepercayaan dan reputasi organisasi di tengah padatnya persaingan informasi saat ini.

Narasumber pertama, Direktur Tempo Institute Qaris Tajudin, membahas tentang kehumasan dari perspektif jurnalis atau media massa. Ia mengemukakan bahwa hubungan antara jurnalis dan humas sudah semestinya berorientasi kepada penyediaan berita yang punya nilai. Dengan demikian, suatu berita dari press release yang dikirimkan humas tidak hanya sekadar naik karena kedekatan mereka dengan media massa.

“Apa yang dianggap penting oleh organisasi belum tentu penting bagi media. Kuncinya bukan seberapa dekat hubungan dengan wartawan, melainkan apakah informasi itu memiliki nilai berita yang layak diketahui publik,” ujarnya.

GoodTalk Off-Air di Danone Space, RDTX Place, Jakarta Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Dengan cara itulah, pada akhirnya bisa terjalin hubungan antara kedua belah pihak yang lebih profesional. Untuk itu pula, Qaris menekankan pentingnya humas untuk memperhatikan betul cara mereka berinteraksi dengan setiap media sesuai dengan karakternya masing-masing.

“Hubungan media yang sehat dibangun atas dasar saling menghargai dan profesionalisme, bukan sekadar transaksi jangka pendek. Media yang berkualitas perlu diapresiasi, sementara praktik yang tidak sehat tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan.”

Tak ketinggalan, Qaris memberi "bocoran" agar sebuah press release lebih berpeluang untuk dipublikasikan. Salah satunya adalah dengan menempatkan informasi paling penting di bagian awal naskah. Ini penting mengingat jurnalis biasanya tidak membaca setiap press release secara penuh.

“Media menerima puluhan hingga ratusan press release setiap hari. Jika informasi paling penting tidak muncul di judul dan paragraf awal, besar kemungkinan pesan itu tidak akan pernah terbaca,” tuturnya.

Dalam membangun hubungan yang sehat dan profesional antara humas dan media, tak bisa dipungkiri pada praktiknya terdapat banyak tantangan. External Communications Lead Aqua, Krishnu Senjaya, yang menjadi narasumber kedua, berbagi pengalamannya mengenai hal tersebut. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang ada adalah berubahnya cara publik mengonsumsi informasi. Di era digital seperti saat ini, informasi yang paling mendapat perhatian publik adalah yang viral.

Krishnu menekankan bahwa bagi Aqua, viralitas bukanlah kiblat utama. Lebih dari itu, yang terpenting adalah kepercayaan. Sebab, viralitas hanya mampu memberi perhatian, sementara publik membutuhkan informasi yang bisa dipercaya dan dipahami dengan baik.

"Yang lebih penting adalah membangun kepercayaan, karena publik tidak cukup hanya mendengar apa yang kita sampaikan, tetapi juga perlu memahami dan mempercayainya," kata Krishnu.

Krishnu tak menampik jika menyampaikan informasi yang berkualitas tidak mudah karena informasi tersebut harus bersaing dengan informasi-informasi lainnya yang membanjiri ruang media digital dewasa ini. Kendati demikian, ia mengingatkan agar humas tidak boleh ikut-ikutan menambah kebisingan. Sebaliknya, kepercayaan harus jadi hal yang terus dikedepankan.

"Data, konteks, kredibilitas, dan validitas harus menjadi dasar agar informasi yang disampaikan benar-benar dipercaya publik," lanjutnya.

Narasumber ketiga, Kepala Bidang Pengembangan Kampanye Kehumasan Perhumas sekaligus Head of PR, Marcomm, and Event Asuransi Astra, Laurentius Iwan Pranoto, berbagi tips agar praktisi kehumasan dapat membangun hubungan yang kuat dan berkelanjutan dengan media. Hal yang utama, humas harus menempatkan media sebagai stakeholder, setara dengan pihak seperti pemegang saham maupun konsumen.

GoodTalk Off-Air di Danone Space, RDTX Place, Jakarta Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026.

“Media bukan sekadar channel untuk menyampaikan pesan, tetapi stakeholder yang perlu dipahami, dihargai, dan dibangun kepercayaannya,” kata Iwan.

Senada dengan Qaris dan Krishnu, hubungan yang sehat dengan dilandasi kepercayaan dan komitmen untuk menghadirkan berita yang bermanfaat adalah fondasi utama dalam membangun media relations yang ideal. Oleh karena itulah, ukuran keberhasilan humas juga harus diperluas, lebih dari sekadar jumlah publikasi yang tayang atau jumlah pembaca.

“Jangan ukur keberhasilan media relations dari berapa banyak media yang datang atau berapa banyak berita yang terbit. Ukur dari apakah pesan dipahami, relevan bagi publik, dan mampu membangun kepercayaan,” lanjutnya.

Terakhir, Iwan mewanti-wanti agar humas bisa terus menjaga hubungan yang sudah terjalin dengan media. Masing-masing pihak harus saling berbagi posisi sebagai pihak yang saling membutuhkan, sekaligus memiliki hak untuk membuat dan mempublikasikan ceritanya masing-masing.

“Jangan menghubungi media hanya ketika kita membutuhkan publikasi. Media membutuhkan akses, kecepatan, narasumber, dan informasi yang relevan. Relasi yang baik dibangun jauh sebelum kita membutuhkan mereka,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.