jamu bisa jadi obat modern begini perjalanan ramuan tradisional naik kelas - News | Good News From Indonesia 2026

Jamu Bisa jadi Obat Modern? Begini Perjalanan Ramuan Tradisional Naik Kelas

Jamu Bisa jadi Obat Modern? Begini Perjalanan Ramuan Tradisional Naik Kelas
images info

Foto oleh Rita K di Unsplash


Segelas jamu mungkin terlihat sederhana. Ada kunyit, jahe, temulawak, kencur, atau tanaman lain yang diracik menjadi minuman yang telah akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun, ketika ramuan tersebut ingin disebut sebagai obat, ceritanya tidak lagi sesederhana resep turun-temurun. Di sinilah sains mengambil peran.

Sebuah jamu harus melewati proses panjang untuk membuktikan bahwa bahan yang digunakan aman, memiliki mutu yang konsisten, dan benar-benar memberikan khasiat sesuai klaimnya. Bahkan, tidak semua jamu otomatis bisa disebut fitofarmaka.

Kompas.com mencatat bahwa pengembangan produk herbal berbasis ilmiah membutuhkan berbagai tahapan penelitian, mulai dari pengujian toksisitas hingga uji khasiat sebelum dapat memperoleh pengakuan pada tingkatan yang lebih tinggi. Lantas, sejauh apa perjalanan jamu dari warisan leluhur hingga menjadi obat berbasis bukti ilmiah?

baca juga

Dari Resep Leluhur ke Bukti Ilmiah

Jamu pada dasarnya lahir dari pengalaman panjang masyarakat memanfaatkan tanaman untuk menjaga kesehatan. Pengetahuan tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Masalahnya, pengalaman empiris dan pembuktian ilmiah merupakan dua hal berbeda.

Sebuah tanaman mungkin telah digunakan selama puluhan tahun. Namun, ketika produknya hendak dikembangkan sebagai obat, peneliti tetap perlu mengetahui kandungan, keamanan, dosis, mekanisme kerja, hingga manfaatnya melalui penelitian. Perjalanan inilah yang membedakan jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka.

ANTARA menjelaskan bahwa jamu berada pada tingkat berbasis pengalaman empiris. Setelah melalui pengujian praklinis dan standardisasi, produk dapat masuk kategori OHT. Sementara fitofarmaka merupakan tingkat tertinggi karena telah melalui pembuktian praklinis dan klinis serta memenuhi persyaratan standardisasi.

Artinya, "naik kelas" bukan sekadar mengganti kemasan jamu menjadi lebih modern. Ada ilmu pengetahuan yang harus mengiringinya.

baca juga

Ketika Jamu Masuk Laboratorium

Bayangkan tanaman yang selama ini dikenal sebagai bahan jamu masuk ke laboratorium. Peneliti tidak cukup bertanya, "Apakah tanaman ini dipercaya berkhasiat?"

Pertanyaannya berubah menjadi: Senyawa apa yang terkandung di dalamnya? Seberapa aman? Berapa dosisnya? Bagaimana tubuh meresponsnya? Dan apakah manfaat tersebut benar-benar terbukti?

Menurut ANTARA, pengembangan fitofarmaka dapat dimulai dari penelitian kandungan senyawa, pengujian in vitro, kemudian dilanjutkan dengan uji praklinis sebelum masuk ke uji klinis pada manusia.

Tahap tersebut penting karena obat bukan sekadar persoalan "alami" atau "kimia". Sesuatu yang berasal dari alam tetap perlu dibuktikan keamanan dan manfaatnya.

baca juga

Bahkan, Kompas.com pernah mengulas bagaimana metode fingerprint digunakan untuk membantu memastikan konsistensi kandungan dalam produk herbal. Teknologi seperti kromatografi memungkinkan peneliti melihat komponen senyawa secara lebih rinci, bukan sekadar mengandalkan identitas tanaman secara kasatmata.

Dengan demikian, tantangan jamu modern bukan hanya menemukan tanaman yang berpotensi menjadi obat, tetapi juga memastikan setiap produk memiliki kualitas yang konsisten.

Contohnya Sudah Ada

Perjalanan tersebut bukan sekadar teori. Salah satu contoh yang banyak dibahas adalah pengembangan Tolak Angin.

Kompas.com melaporkan bahwa produk tersebut melalui uji toksisitas bersama Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada 2007, kemudian menjalani uji khasiat klinis bersama Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro pada 2010.

baca juga

Hasil penelitian tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan produk untuk mendapatkan status Obat Herbal Terstandar. Contoh ini memperlihatkan satu hal penting: membawa jamu ke ranah ilmiah membutuhkan waktu, fasilitas penelitian, biaya, serta kolaborasi antara industri dan akademisi.

Bahkan pada 2026, Kompas.com melaporkan penguatan fasilitas laboratorium farmakologi untuk mendukung riset produk herbal berbasis bukti ilmiah.

Jadi, transformasi jamu bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru sebaliknya, tradisi menjadi titik awal yang kemudian diteliti menggunakan perangkat ilmu pengetahuan modern.

Potensinya Besar, tetapi Jalannya Tidak Pendek

Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang besar. Namun, kekayaan bahan baku tidak otomatis membuat Indonesia menjadi pemain utama industri obat herbal dunia.

baca juga

Data yang disampaikan BPOM dan diberitakan ANTARA pada Mei 2025 menunjukkan bahwa dari puluhan ribu spesies tanaman yang ada di Indonesia, baru sebagian yang dikembangkan menjadi produk obat. Saat itu, tercatat sekitar 78 obat herbal terstandar dan 21 fitofarmaka yang telah terdaftar.

Angka tersebut menunjukkan adanya jarak antara potensi alam dan produk yang sudah terbukti secara klinis. Di sinilah tantangannya. Pengembangan fitofarmaka membutuhkan riset panjang, fasilitas laboratorium, standardisasi bahan baku, uji praklinis, uji klinis, investasi, serta industri yang mampu membawa hasil penelitian hingga menjadi produk.

ANTARA juga melaporkan bahwa Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Prof. Mahdi Jufri mendorong pemanfaatan teknologi, termasuk nanoteknologi, untuk meningkatkan efektivitas sediaan herbal.

Jika berhasil dikembangkan, teknologi tersebut bukan hanya membuat jamu "lebih modern", tetapi membuka peluang bagi Indonesia membangun industri obat berbasis kekayaan hayati sendiri.

baca juga

Jamu Masa Depan: Tetap Tradisional, tetapi Teruji

Pada akhirnya, masa depan jamu mungkin bukan tentang memilih antara tradisi atau sains. Keduanya justru dapat berjalan bersama.

Pengetahuan leluhur memberikan petunjuk mengenai tanaman yang berpotensi dimanfaatkan. Sains kemudian membantu menguji petunjuk tersebut secara objektif.

Karena itu, ketika suatu hari kita melihat obat berbahan tanaman Indonesia berada di rak apotek, mungkin yang terlihat hanya sebuah kemasan kecil. Padahal di belakangnya ada perjalanan panjang: pengetahuan masyarakat, tanaman yang diteliti, laboratorium, peneliti, uji keamanan, uji klinis, standardisasi, hingga regulasi.

Jamu tidak perlu kehilangan identitasnya untuk menjadi modern. Yang berubah adalah cara kita membuktikan manfaatnya.

baca juga

Dan mungkin, pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah jamu bisa menjadi obat modern. Melainkan: berapa banyak kekayaan hayati Indonesia yang hari ini masih menunggu giliran untuk dibuktikan oleh sains?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.