Minyak kelapa murni dan gula kelapa kristal organik dari Purworejo bisa bahkan berhasil di ekspor sampai ke Australia, Sri Lanka, hingga Eropa. Produk itu dikelola Koperasi Wanita (Kopwan) Srikandi, koperasi beranggotakan mayoritas perempuan yang berawal dari keprihatinan terhadap kemiskinan dan jeratan rentenir. Kopwan Srikandi secara efektif menggarap olahan kelapa mulai dari nira hingga kosmetik alami, dengan standar mutu yang harus dipenuhi sebelum produk bisa masuk pasar luar negeri.
Kopwan Srikandi resmi berbadan hukum pada 24 Desember 2014. Berdasarkan kajian kewirausahaan sosial Universitas Negeri Semarang yang dilansir dalam Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha, koperasi ini memang dibentuk untuk mewadahi ibu rumah tangga dan petani penderes nira agar mandiri secara finansial.
Usahanya berfokus pada hilirisasi, yakni mengolah nira dan membuat buah kelapa menjadi komoditas yang bernilai tambah.

Processing and cooking of coconut healing oil | Foto: Wikimedia Commons | Karya: Judgefloro
Sekretaris Umum Kopwan Srikandi, Nuke Isnayanti Putri, sempat menjelaskan lewat rilis beberapa media bahwa koperasi menggarap berbagai produk turunan pohon kelapa demi memenuhi misi memberdayakan masyarakat sekitar.
"Kegiatan utama Koperasi Wanita Srikandi ini adalah melaksanakan pemberdayaan masyarakat dibidang produksi olahan pohon kelapa dan turunannya yang meliputi minyak kelapa murni (ZICO), gula kelapa kristal organik, sabun Az-zico dan sebagainya," tutur Nuke.
Semenjak koperasi wanita ini berhasil berdiri dan beroperasi secara efektif, perempuan di pedesaan kini memiliki pendapatan rutin dari pengolahan pascapanen, yang berdampak pada kesejahteraan keluarga mereka.
Menjaga Standar Organik dari Kebun
Melansir laporan teknis standardisasi dari Universitas Muhammadiyah Magelang, Kopwan Srikandi menerapkan aturan penting pra-produksi kepada para petani nira. Lahan kelapa harus steril dari kontaminasi pupuk kimia.
Selain area ataupun lahan kelapa yang wajib steril, pohon kelapa yang disadap wajib berjarak minimal 100 meter dari limbah sumur dan minimal 1 kilometer dari aliran air sawah konvensional.
Di lapangan, tantangan terbesarnya adalah konsistensi penerapan prosedur organik oleh petani dan ancaman krisis regenerasi penderes nira muda. Koperasi menjawabnya dengan membentuk CentralProcessing Unit (CPU) di tingkat desa. CPU disini berfungsi sebagai pusat pengumpulan, pengepul, dan pengolahan awal hasil produk gula kelapa dari petani lokal sebelum dikirim ke pabrik utama.
Sehingga inilah yang menjadi pusat kontrol kualitas, edukasi, sekaligus wadah penyaluran bantuan alat produksi secara cuma-cuma kepada anggota. Melalui sistem tersebut, kualitas produk akhir dijaga agar tetap sesuai standar ekspor.
Sertifikasi Internasional sebagai Tiket Ekspor
Mutu itu mendapat pengakuan dari lembaga inspeksi pangan internasional. Berdasarkan data dari Dokumen Profil UMKM Karya Kreatif Indonesia binaan Bank Indonesia mencatat sertifikasi yang diraih koperasi ini. Dokumen itu merinci besarnya skala pencapaian yang diperoleh.

Pelepasan produk olahan kelapa di ekspor ke luar negeri, Australia | Sumber Foto: web Info Purworejo
"Produk-produk olahan berbasis kelapa yang dikelola telah ekspor dalam skala besar dan mendapatkan sertifikat organik Internasional, Sertifikat EU Organic Farming dari Eropa dan USDA organic dari Amerika, FFL (Fair For Life), ROC (Regenerative Organic Certified), FDA, ISO22000, HACCP dan KOSHER."
Meski dalam memenuhi standar kelayakan produksi dan mendapatkan sertifikasi internasional membutuhkan proses lama yang tidak mudah, Kopwan Srikandi kini berhasil berdayakan ekonomi masyarakat dan bisa mengayomi lebih dari 2.700 petani nira tersertifikasi hingga belasan kelompok pengrajin minyak kelapa.
Keberhasilan ekonomi tersebut ditopang sistem simpan pinjam bermodel tanggung renteng yang memperkuat solidaritas anggota. Koperasi juga menginisiasi fasilitas sosial, salah satunya pos pendidikan anak usia dini (PAUD) bagi warga desa setempat.


