Setiap tahun, jutaan orang masuk ke pasar kerja Indonesia. Mereka terdiri dari lulusan baru, pekerja yang terkena PHK, penganggur dari periode sebelumnya, dan masyarakat yang sedang mencari pekerjaan.
Pertambahan pencari kerja belum sepenuhnya diimbangi oleh pertumbuhan kesempatan kerja. Perusahaan juga mulai menggunakan teknologi untuk menjalankan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia.
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. R. Agus Sartono, MBA., menilai persoalan tersebut menunjukkan adanya jarak antara pasokan tenaga kerja dan kemampuan industri dalam menyerap pekerja.
Menurut Agus, peningkatan jumlah lulusan berpendidikan tinggi perlu diikuti pertumbuhan kesempatan kerja. Tanpa tambahan pekerjaan, persaingan akan tetap berlangsung meskipun tingkat pendidikan pencari kerja meningkat.
Otomatisasi menjadi salah satu faktor yang mengubah kebutuhan tenaga kerja. Teknologi dapat membuat proses kerja lebih efisien, tetapi perusahaan juga dapat mengurangi kebutuhan terhadap pekerja untuk fungsi tertentu.
βMemang teknologi juga membuka ruang untuk perusahaan, tapi berapa banyak orang yang bergantikan dengan mesin,β ujar Agus, dikutip dari UGM.
Perubahan itu terlihat pada layanan pelanggan dan perbankan. Interaksi yang sebelumnya dilakukan langsung oleh pekerja kini semakin banyak dialihkan ke mesin dan layanan daring.
Teknologi tidak selalu menciptakan pekerjaan dalam jumlah yang sama dengan pekerjaan yang hilang. Dampaknya bergantung pada jenis industri, keterampilan pekerja, dan kemampuan perusahaan mengembangkan bidang usaha baru.
Agus juga menyoroti perlambatan industrialisasi. Indonesia membutuhkan industri yang dapat menyerap banyak tenaga kerja untuk menampung jumlah pencari kerja yang terus masuk ke pasar.
Β
Investasi Besar Tak Selalu Membuka Banyak Pekerjaan
Agus menilai nilai investasi tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran untuk melihat dampak terhadap lapangan kerja. Investasi padat modal membutuhkan dana besar dan teknologi tinggi, tetapi kebutuhan pekerjanya dapat terbatas setelah proyek mulai beroperasi.
βJadi sebenarnya begini, investasi dari luar negeri yang masuk itu kebanyakan dari capital intensive,β ungkapnya.
Pembangunan proyek dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah tertentu. Namun, kebutuhan tersebut dapat menurun setelah pembangunan selesai dan perusahaan masuk ke tahap produksi.
Situasi itu membuat investasi bernilai besar belum tentu menciptakan banyak pekerjaan jangka panjang. Dampaknya terhadap pasar kerja juga berbeda dengan industri yang mengandalkan lebih banyak tenaga manusia.
Agus menilai arah investasi perlu mempertimbangkan kemampuan industri dalam menyerap pekerja. Ia menghubungkan pekerjaan dengan pendapatan dan daya beli masyarakat.
βKalau industri itu tidak mampu menyerap besar tenaga kerja, terus orang-orang ini tidak bekerja. Kalau dia tidak kerja, dia tidak punya penghasilan. Kalau dia tidak punya penghasilan, dia tidak punya daya beli, siapa yang akan membeli produk-produk industri?β paparnya.
Β
Ekonomi Daerah dan Industri Padat Karya
Agus mendorong penguatan ekonomi daerah untuk memperluas sumber pekerjaan. Kegiatan usaha di desa dapat menjadi salah satu penggerak apabila terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan pasar.
Usaha kecil di daerah dapat membuka pekerjaan dengan skala yang lebih dekat dengan masyarakat. Perputaran uang juga dapat berlangsung di wilayah tersebut ketika produksi, perdagangan, dan konsumsi melibatkan pelaku lokal.
Indonesia memiliki pasar domestik yang besar. Potensi itu dapat digunakan untuk mengembangkan usaha dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada investasi asing sebagai satu-satunya sumber pertumbuhan.
Agus tidak menilai investasi asing perlu ditinggalkan. Menurutnya, kebijakan ekonomi perlu melihat kontribusi investasi terhadap pasar domestik dan kesempatan kerja.
Industri padat karya dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyerap pekerja dalam jumlah besar. Namun, keberlangsungan industri tersebut tetap dipengaruhi biaya produksi, permintaan pasar, produktivitas, dan persaingan dengan produk impor.
Β
Menyikapi Perkembangan AI
Keterbatasan pekerjaan perlu dihadapi bersama dengan peningkatan kompetensi lulusan. Agus menilai kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah tetap dibutuhkan di dunia kerja.
Ia mengingatkan penggunaan kecerdasan buatan secara berlebihan dapat mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar. Mahasiswa tetap perlu memahami persoalan dan menyusun pemikiran secara mandiri.
βTidak apa-apa menggunakan ini, tapi menggunakan AI dan GPT itu justru akan merugikan diri sendiri, karena critical thinking skill-nya akan tergantikan oleh AI. Padahal untuk bekerja diperlukan anak seperti itu,β tuturnya.
Menurut Agus, teknologi dapat membantu mencari informasi dan menyelesaikan tugas. Penggunaannya tetap perlu disertai kemampuan mengevaluasi informasi dan menyusun argumen.
Kompetensi individu tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap tambahan pekerjaan. Pendidikan membantu pencari kerja mempersiapkan diri, sedangkan industri dan ekonomi daerah perlu menyediakan ruang untuk menggunakan keterampilan tersebut.

