Fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga bisa mengambil peran yang lebih luas untuk mendukung kegiatan pariwisata. Misalnya, ketika wisatawan membutuhkan tempat singgah dan penginapan, masjid yang nyaman kerap menjadi pilihan.
Potensi masjid di sektor pariwisata ini dibahas dalam diskusi panel Masjid Ramah Musafir pada Silaturahmi Nasional (Silatnas) Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Muhammadiyah di Dormitory Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY), pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Dalam sesi tersebut, perwakilan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Arif Sulfiantono, mengutip sebuah riset dari sektor pariwisata 2025 yang menunjukkan bahwa akomodasi menjadi pos belanja terbesar wisatawan, disusul makanan dan minuman atau oleh-oleh.
โIni sebagai peluang untuk mengembangkan masjid sebagai bisnis wisata,โ ujar Arif, seperti dikutip dari laman Berita Muhammadiyah.
Ia juga menjelaskan bahwa masjid ramah musafir perlu menyediakan fasilitas yang membuat pengunjung merasa nyaman. Mulai dari WiFi, minuman gratis, colokan listrik, kuliner halal, hingga layanan bagi penyandang disabilitas.
Yang dijadikan standar olehnya adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Karena masjid ini telah mengembangkan hotel masjid dengan 11 kamar dengan tingkat huniannya hampir mencapai 100 persen. Pada Januari hingga September 2026, masjid ini menerima 228 rombongan pengunjung.
Penginapan tersebut menjadi bagian dari upaya Masjid Jogokariyan dalam mengelola aset wakaf agar bisa membantu membiayai operasional masjid sekaligus mendukung pelayanan kepada masyarakat.
Dalam program Ruang Publik TVMu yang bertajuk โMasjid sebagai Pusat Ekonomiโ, Ketua 2 Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Masjid Jogokariyan, Subhan Rizal Nur, mengungkap bahwa penginapan itu mampu memberikan kontribusi bersih sebesar Rp35 juta hingga Rp40 juta setiap bulan, meski hanya memiliki 11 kamar.
Selain penginapan, Masjid Jogokariyan juga mengembangkan pabrik roti dengan omzet sekitar Rp13 juta per bulan. Hasil dari usaha ini digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan operasional masjid yang berkisar Rp25 juta hingga Rp40 juta setiap bulan.
โOperasional kita untuk setiap bulan itu sekitar 25 juta ya, 25 juta sampai 40. Ini semua sudah ter-cover dengan adanya wakaf produktif,โ kata Subhan.
Sementara itu, dana infak dikembalikan kepada jamaah melalui berbagai layanan, mulai dari bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan.
Dari Masjid Jogokariyan, Ekonomi Rakyat Bisa Bangkit
Berdasarkan riset yang bertajuk Pemberdayaan Ekonomi di Masjid Jogokariyan Yogyakarta (2023), masjid ini mengadakan pasar rakyat setiap Sabtu dan Minggu yang melibatkan sekitar 60 pelaku UMKM sekaligus memberikan voucher belanja kepada konsumen.
Mereka menjual beragam kebutuhan, mulai dari makanan, sembako, hingga produk usaha lainnya. Tak ayal, jika slogan โDari Masjid Ekonomi Rakyat Bangkitโ menjadi cerminan upaya Masjid Jogokariyan dalam menggerakkan perekonomian warga.
Selain membuka ruang bagi pelaku UMKM, Masjid Jogokariyan juga memberikan bantuan modal usaha dari dana zakat kepada warga yang belum bekerja dan warga yang tidak tahu mau melakukan apa. Bantuan ini menggunakan skema pinjaman tanpa imbalan yang bertujuan untuk mendorong lahirnya wirausaha baru, khususnya di kalangan warga Jogokariyan.
Dalam skema tersebut, warga yang berhasil memperoleh keuntungan dari usahanya mengembalikan modal kepada masjid. Sementara itu, mereka yang mengalami kerugian tidak perlu mengembalikan pinjaman tersebut.
Pengelolaannya Harus Transparan dan Akuntabel
Edy Suandi Hamid, Ketua Umum Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY, menyampaikan bahwa tokoh dibalik penggerak Masjid Jogokariyan, yaitu Muhammad Jazir ASP mewariskan tata kelola keuangan masjid yang transparan dan akuntabel.
Laporan keuangan masjid yang disampaikan oleh Muhammad Jazir juga selalu terbuka, sehingga dapat menumbuhkan rasa kepercayaan kepada masyarakat.
โDana harus bergerak, berputar, dan memberdayakan umat. Dana infak harus kembali kepada jamaah dalam bentuk program nyata yang dibutuhkan umat,โ ucap Edy, sebagaimana dikutip dari laman resmi MES.
Baginya, masjid tidak boleh hanya menjadi tempat untuk menunaikan ibadah. Karena itu, setiap program yang dijalankan Masjid Jogokariyan diupayakan bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh jamaah dan warga sekitar.
Atas dedikasinya tersebut, MES DIY pun memberikan penghargaan kepada Muahmmad Jazir sebagai Sang Inovator dan Konseptor Manajemen Masjid.
โPenghargaan ini bukan sekadar simbol, tetapi pengakuan atas dedikasi, integritas, dan keberanian beliau dalam menghadirkan model ekonomi syariah yang membumi,โ kata Edy.


