Batang pohon aren kerap tertinggal setelah pohon tidak lagi dimanfaatkan. Bagian tersebut belum banyak diolah, padahal empulurnya mengandung pati, amilosa, dan polisakarida.
Kandungan itu membuat batang aren dapat dikembangkan menjadi material dengan berbagai kegunaan.
Material ini memiliki bentuk jaringan yang dapat menyerap cairan. Pori-porinya juga dapat menangkap zat tertentu, sehingga penggunaannya tidak hanya ditujukan untuk satu bidang.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN Witta Kartika Restu mengatakan pati aren memiliki beberapa kelebihan. Bahan tersebut berasal dari batang tanaman hutan, tidak bersaing dengan kebutuhan pangan pokok, dan dapat terurai secara hayati.
βPati aren berasal dari tanaman hutan, langsung dari batangnya. Jadi tidak akan berkompetisi dengan bahan pangan, dan kita justru memanfaatkan bagian batang yang tadinya tidak terpakai. Selain biayanya rendah, kandungan amilosanya tinggi sehingga bisa kita kembangkan menjadi beragam aplikasi turunan,β ujar Witta dikutip dari BRIN.
Β
Membersihkan Limbah Tekstil
Salah satu penggunaan hidrogel pati aren adalah membersihkan air dari limbah industri tekstil. Limbah tekstil dapat mengandung zat warna yang membuat air berubah warna dan mencemari lingkungan.
Peneliti membentuk jaringan mikropori pada hidrogel. Pori-pori itu kemudian berfungsi menangkap polutan, termasuk metilen biru.
βSetelah mendapatkan hidrogel, kami mengamati struktur porinya yang berfungsi memerangkap polutan. Sehingga, air atau larutan yang dihasilkan bisa menjadi jauh lebih jernih,β kata Witta.
Kemampuan hidrogel dalam menangkap dan melepaskan senyawa juga dikaji untuk bidang pertanian. Peneliti mengembangkan hidrogel sebagai pembawa herbisida dengan memanfaatkan asam nonanoat dan senyawa aktif lainnya.
Tim peneliti mengamati permukaan dan bentuk hidrogel untuk memastikan pori-porinya dapat membawa bahan aktif. Salah satu target pengujiannya adalah gulma Mimosa pudica atau putri malu.
βKami mempelajari profil pelepasan baked hydrogel kami, dan setelah memperoleh karakteristik pelepasannya, kami mengaplikasikannya ke target gulma. Target gulma di sini adalah Mimosa pudica atau yang dalam bahasa Indonesia kita sebut putri malu,β ujar Witta.
Β
Menjadi Plester Jerawat
Hidrogel pati aren juga dikembangkan untuk kebutuhan perawatan kulit. Peneliti memadukannya dengan asam salisilat dan minyak pohon teh atau tea tree oil untuk membuat plester jerawat.
Plester bening itu dirancang untuk menyerap cairan dari jerawat atau eksudat. Hidrogel juga berfungsi membawa dan melepaskan bahan aktif pada permukaan kulit.
βKenapa plester jerawat? Karena praktis saat diaplikasikan, mampu memerangkap dan melepaskan senyawa aktif, dapat menyerap eksudat jerawat, serta tidak mengurangi nilai estetika penampilan saat digunakan,β tutur Witta.
Menurut Witta, cairan eksudat akan terserap ke dalam hidrogel. Proses tersebut membantu jerawat mengempis selama plester digunakan.
Tim peneliti memilih asam sitrat alami sebagai pengikat silang untuk memperkuat jaringan hidrogel. Bahan tersebut dipilih karena produk akan bersentuhan langsung dengan kulit.
Inovasi plester jerawat berbasis hidrogel pati aren telah memperoleh paten. Witta mengatakan produk tersebut masih perlu dikembangkan bersama mitra industri agar dapat diproduksi dalam skala yang lebih besar.
Menurut dia, produk plester jerawat lokal yang tersedia di Indonesia masih terbatas. Sebagian besar produk yang beredar berasal dari luar negeri.
βDi Indonesia, plester jerawat buatan lokal baru ada sekitar dua merek karena mayoritas produk berasal dari luar negeri. Kami berharap inovasi ini mampu bersaing dengan produk yang ada di pasar lokal. Produk ini juga telah kami patenkan agar ke depan dapat diproduksi dalam skala industri yang jauh lebih besar,β ujar Witta.


