quiet ambition - News | Good News From Indonesia 2026

Quiet Ambition, ketika Ambisi Karier Tak Lagi Harus Terlihat Besar

Quiet Ambition, ketika Ambisi Karier Tak Lagi Harus Terlihat Besar
images info

Quiet Ambition, Ketika Ambisi Karier Tak Lagi Harus Terlihat Besar | Pexels | Felicity Tai


Mendapat tawaran promosi biasanya jadi kabar yang menyenangkan. Jabatan naik, gaji bertambah, dan kesempatan untuk memimpin tim pun terbuka. Namun, bagi sebagian pekerja, kabar itu justru membuat mereka berpikir ulang. Apakah tanggung jawab yang bertambah sebanding dengan waktu dan energi yang harus diberikan?

Selama ini, karier sering dianggap berhasil ketika seseorang terus naik jabatan, dari staf hingga manajer dan posisi yang lebih tinggi. Namun, tidak semua orang ingin mengikuti jalur tersebut. Ada yang lebih memilih tetap mengembangkan keahlian di bidangnya tanpa harus menjadi manajer.

Lalu, apakah seseorang tetap dapat disebut ambisius jika tidak ingin menjadi manajer? Pertanyaan ini berkaitan dengan quiet ambition, yaitu cara sebagian pekerja memaknai kesuksesan tanpa menjadikan jabatan tinggi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Quiet Ambition, Ketika Ambisi Tidak Harus Berujung pada Kursi Manajer

Tidak ingin menjadi manajer bukan berarti seseorang kehilangan ambisi. Bisa jadi, ia tetap ingin meningkatkan kemampuan, mendapatkan penghasilan lebih baik, atau mengerjakan proyek yang menarik. Hanya saja, kenaikan jabatan bukan lagi satu-satunya tujuan yang ingin dicapai.

Pola pikir ini dikenal dengan istilah quiet ambition, yaitu cara seseorang memandang kesuksesan karier tanpa harus menjadikan jabatan, status, atau posisi tertinggi sebagai ukuran utama keberhasilan.

Gambaran mengenai hal ini terlihat dalam riset Visier pada Agustus 2023. Survei terhadap 1.000 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat yang berstatus individual contributor atau pekerja tanpa tanggung jawab utama mengelola tim menunjukkan bahwa 62% responden lebih memilih tetap menjadi individual contributor daripada menjadi manajer di organisasi tempat mereka bekerja saat itu.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa jalur menjadi manajer bukan pilihan semua pekerja. Ada yang lebih nyaman fokus pada bidang yang dikuasai, belajar hal baru, atau mengerjakan proyek yang memang mereka minati.

Selain pekerjaan, ambisi juga bisa berkaitan dengan kehidupan pribadi. Dalam survei yang sama, 67% responden menyebut menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman sebagai salah satu ambisi mereka. Artinya, pencapaian tidak selalu berkaitan dengan jabatan, tetapi juga bisa berupa kesempatan untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.

Meski begitu, tidak setiap orang yang menolak promosi otomatis memiliki quiet ambition. Keputusan tersebut bisa dipengaruhi berbagai pertimbangan. Istilah ini lebih tepat dipahami sebagai pola pikir dalam menentukan prioritas dan memaknai kesuksesan, bukan kategori kepribadian atau diagnosis psikologis.

Sederhananya, seseorang tetap bisa ambisius tanpa harus mengejar kursi manajer. Yang berbeda adalah tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana ia mendefinisikan keberhasilan bagi dirinya sendiri.

Istilahnya Baru Ramai pada 2023, tetapi Gagasan tentang Karier yang Tak Harus Menjadi Segalanya Jauh Lebih Lama

Sebenarnya, tidak ada catatan yang menunjukkan kapan tepatnya quiet ambition mulai muncul. Istilah ini baru ramai dibahas pada 2023, meski cara pandang bahwa karier tidak harus berujung pada jabatan tinggi sudah ada sejak lama.

Pada Mei 2023, WorkLife sudah menggunakan istilah quiet ambition untuk membahas perubahan cara pekerja melihat kesuksesan. Karier tidak lagi selalu dipandang sebagai perjalanan untuk terus naik dalam struktur perusahaan.

Beberapa bulan kemudian, istilah ini kembali banyak dibicarakan setelah Visier merilis hasil surveinya pada Agustus 2023. Survei tersebut melihat pilihan pekerja individual contributor yang lebih memilih tetap berada di posisi mereka dibandingkan menjadi manajer.

Sebenarnya, pilihan seperti ini bukan hal baru. Sejak dulu, ada pekerja yang memilih menjadi spesialis, tetap sebagai individual contributor, atau mencari pekerjaan yang memberi lebih banyak fleksibilitas. Yang berubah adalah istilah dan cara pembahasannya.

baca juga

Mengapa Sebagian Pekerja Mulai Mengubah Arti “Sukses” dalam Karier?

Promosi sebenarnya masih menjadi tujuan bagi sebagian pekerja. Namun, ada juga yang mulai mempertimbangkan hal lain, seperti waktu, energi, kesehatan, dan kehidupan di luar pekerjaan. Jadi, perubahan ini tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki ambisi. Bisa saja, ukuran sukses yang mereka gunakan sudah berbeda.

1. Tanggung Jawab Manajerial Tidak Selalu Seimbang dengan Imbalannya

Menjadi manajer berarti mendapat jabatan dan tanggung jawab yang lebih besar. Namun, pekerjaan tersebut juga bisa membawa tekanan tambahan.

Dalam survei Visier terhadap 1.000 pekerja individual contributor di Amerika Serikat, 40% responden mengatakan mereka enggan menjadi manajer karena memperkirakan stres dan tekanan akan meningkat. Sebanyak 39% khawatir harus bekerja lebih lama, sementara 37% merasa sudah puas dengan pekerjaan mereka saat ini. Artinya, sebagian pekerja tidak hanya melihat keuntungan dari promosi, tetapi juga mempertimbangkan beban yang ikut datang bersamanya.

2. Work-Life Balance Ikut jadi Ukuran Sukses

Bagi sebagian pekerja, pekerjaan bukan satu-satunya hal yang penting. Waktu untuk kehidupan pribadi juga menjadi pertimbangan.

Dalam survei yang sama, 55% responden mengatakan mereka mencari positive work-life balance dari tempat kerja. Karena itu, seseorang bisa saja ingin berkembang dalam pekerjaan, tetapi tetap ingin memiliki cukup waktu dan energi untuk kehidupan di luar kantor.

3. Ambisi Tidak Selalu Berkaitan dengan Pekerjaan

Ambisi juga bisa berada di luar karier. Dalam survei Visier, 67% responden ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, 64% ingin menjaga kesehatan fisik dan mental, dan 58% ingin bepergian

Jadi, bagi sebagian orang, pencapaian tidak hanya berarti mendapatkan jabatan lebih tinggi. Memiliki waktu untuk keluarga, menjaga kesehatan, atau mengejar hal yang disukai juga bisa menjadi bagian dari kesuksesan.

4. Karier Tidak Harus Selalu Naik Jabatan

Karier sering digambarkan seperti tangga, awalnya menjadi staf, kemudian supervisor, manajer, lalu direktur. Padahal, seseorang juga bisa berkembang tanpa mengikuti jalur tersebut. Misalnya, dengan memperdalam keahlian, menjadi spesialis, mengambil proyek yang lebih menantang, atau berpindah perusahaan untuk mendapatkan pengalaman baru. 

5. Beban Manajer Juga Bisa jadi Pertimbangan

Posisi manajer mungkin terlihat sebagai pencapaian, tetapi tanggung jawabnya juga lebih besar. Ada target tim, rapat, sampai tanggung jawab mengelola orang lain. Dalam survei Visier, 20% responden menyebut tugas administratif sebagai salah satu alasan mereka tidak tertarik menjadi manajer.

Tidak Mengejar Jabatan Bukan Berarti Berhenti Berkembang

Quiet ambition tidak punya satu bentuk yang pasti. Namun, ada beberapa perilaku yang dapat menunjukkan cara seseorang mulai memaknai ambisi dengan berbeda.

1. Memilih jadi Spesialis daripada Manajer

Seseorang bisa lebih tertarik memperdalam keahlian daripada mengelola sebuah tim, hal ini sejalan dengan hasil riset Visier, yang mana 62% responden lebih memilih tetap menjadi individual contributor daripada menjadi people manager. 

2. Tetap Ingin Berkembang

Tidak mengejar promosi bukan berarti berhenti belajar. Seseorang tetap bisa mengambil proyek baru, mempelajari kemampuan baru, mengikuti pelatihan, atau mencari kesempatan untuk memperdalam bidang yang dikuasai. 

3. Memilih Pekerjaan yang Memberi Ruang untuk Kehidupan Pribadi

Fleksibilitas dan waktu pribadi juga bisa menjadi pertimbangan ketika memilih pekerjaan. Dalam survei Visier, 55% responden mencari positive work-life balance dan 41% mencari pengaturan kerja yang fleksibel. 

4. Menggunakan Ukuran Sukses yang Lebih Personal

Kesuksesan tidak selalu diukur dari jabatan. Bagi sebagian orang, pekerjaan yang berkualitas, penghasilan yang cukup, kebebasan mengatur waktu, atau kesempatan belajar bisa menjadi pencapaian yang lebih penting.

5. Tidak Terlalu Mengejar Status Jabatan

Titel seperti manajer atau direktur memang bisa menjadi tujuan bagi sebagian orang. Namun, bagi pekerja dengan pola pikir quiet ambition, jabatan tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Selama pekerjaan masih memberi kesempatan untuk berkembang dan sesuai dengan prioritas mereka, tetap berada di posisi yang sama bukan selalu berarti gagal

6. Berani Mengatakan “Tidak” pada Promosi Tertentu

Ada kalanya seseorang menolak promosi bukan karena tidak mampu, tetapi karena tanggung jawab tambahan tidak sesuai dengan kondisi atau prioritas hidupnya.

7. Memisahkan Identitas Pribadi dari Pekerjaan

Karier tetap penting, tetapi bukan satu-satunya sumber pencapaian. Dalam survei Visier, tujuan seperti menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman (67%), menjaga kesehatan fisik dan mental (64%), serta bepergian (58%) lebih banyak dipilih dibandingkan menjadi people manager (9%). Artinya, sebagian pekerja juga menempatkan kehidupan di luar pekerjaan sebagai bagian dari hal yang ingin mereka capai.

8. Tetap Serius terhadap Pekerjaan

Ini yang membedakan quiet ambition dari sekadar tidak peduli dengan pekerjaan. Dalam survei Visier, 63% responden mengatakan mereka ingin bekerja dengan baik, tetapi tidak mau mengorbankan work-life balance. 

Quiet Ambition Bisa Mengubah Cara Perusahaan Melihat Talenta

Quiet ambition bukan cuma mengubah cara pekerja melihat karier. Perusahaan juga perlu memikirkan kembali bagaimana mereka memberi ruang untuk berkembang.

Bagi pekerja, pola ini bisa memberi lebih banyak pilihan dalam membangun karier. Di saat yang sama, pekerjaan bisa tetap berjalan tanpa mengambil seluruh waktu dan energi.

Bagi perusahaan, ini berarti perkembangan karier tidak harus selalu berakhir di posisi manajerial. Pekerja juga bisa berkembang sebagai spesialis atau individual contributor. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan dual career ladder, sehingga seseorang bisa naik secara profesional lewat keahliannya tanpa harus mengelola tim. 

Tentu ada tantangannya. Jika semakin sedikit pekerja yang tertarik menjadi manajer, perusahaan bisa lebih sulit menyiapkan calon pemimpin untuk posisi di masa depan. Di sisi lain, perusahaan yang hanya menganggap promosi sebagai tanda perkembangan juga berisiko melewatkan pekerja yang sebenarnya masih ingin belajar dan berkontribusi. Karena itu, perusahaan perlu menyediakan lebih dari satu jalur untuk berkembang.

Quiet Ambition Bukan Quiet Quitting, Meski Keduanya Sama-sama “Quiet”

Namanya memang mirip, tetapi quiet ambition dan quiet quitting menggambarkan hal yang berbeda.

Quiet ambition masih memiliki unsur ambisi dan keinginan untuk berkembang. Seseorang bisa tetap serius dengan pekerjaannya dan berusaha menghasilkan pekerjaan yang baik, tetapi tidak tertarik mengejar posisi manajerial. 

Sementara itu, quiet quitting lebih berkaitan dengan membatasi pekerjaan pada apa yang memang menjadi tanggung jawabnya dan tidak memberikan usaha tambahan. Jadi quiet quitting kondisi ketika pekerja tidak lagi memberikan usaha lebih dan secara psikologis mulai menjauh dari pekerjaannya. 

baca juga

Ketika Karier Tetap Penting, tetapi Bukan Lagi Segalanya

Quiet ambition bukan berarti berhenti mengejar karier atau kehilangan keinginan untuk berkembang. Bagi sebagian pekerja, sukses tidak selalu berarti naik jabatan dan menjadi manajer. Menjadi ahli di bidang tertentu, punya waktu untuk keluarga, atau tetap punya ruang untuk kehidupan di luar pekerjaan juga bisa menjadi bagian dari keberhasilan.

Cara pandang ini menunjukkan bahwa setiap orang bisa punya tujuan karier yang berbeda. Karier tetap penting, tetapi tidak harus menjadi segalanya. Berkembang dalam pekerjaan pun tidak selalu berarti harus terus naik jabatan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.