polyworking - News | Good News From Indonesia 2026

Polyworking, Ketika Satu Pekerjaan Tak Lagi menjadi Satu-satunya Pilihan Karier

Polyworking, Ketika Satu Pekerjaan Tak Lagi menjadi Satu-satunya Pilihan Karier
images info

Polyworking, Ketika Satu Pekerjaan Tak Lagi Menjadi Satu-satunya Pilihan Karier | Pexels | https://kaboompics.com/


Kini, memiliki lebih dari satu pekerjaan bukan lagi hal yang asing di dunia kerja. Setelah menyelesaikan pekerjaan utama, sebagian pekerja melanjutkan aktivitas sebagai freelancer, kreator, pengajar, hingga menjalankan bisnis sendiri.

Praktik memiliki pekerjaan tambahan sebenarnya bukan hal baru. Namun, perkembangan kerja digital membuat pola tersebut semakin mudah dilakukan sekaligus melahirkan istilah polyworking yang belakangan banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut.

Lalu, apa sebenarnya polyworking, sejak kapan istilah ini muncul, dan mengapa semakin banyak dibicarakan dalam perubahan dunia kerja saat ini? Yuk, simak pembahasannya, Kawan GNFI!

Polyworking Bukan Sekadar Punya Side Hustle, Lantas Apa Artinya?

Polyworking adalah kondisi ketika seseorang menjalankan lebih dari satu pekerjaan atau aktivitas profesional yang menghasilkan pendapatan secara bersamaan. Bentuknya beragam, mulai dari karyawan yang menerima proyek freelance, pekerja paruh waktu yang memiliki dua pekerjaan, hingga seseorang yang menjalankan pekerjaan utama sekaligus mengelola bisnis sendiri.

Polyworking sering disamakan dengan istilah side hustle, padahal keduanya memiliki penekanan berbeda. Side hustle biasanya merujuk pada pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama, sedangkan polyworking mencakup pola kerja dengan beberapa pekerjaan atau peran sekaligus.

Polyworking juga berbeda dari freelance. Freelance merupakan bentuk pekerjaan, sementara polyworking menggambarkan kondisi ketika seseorang menjalankan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Adapun multiple job-holding adalah istilah yang lebih umum untuk seseorang yang memiliki lebih dari satu pekerjaan.

Meski sering dikaitkan dengan Gen-Z, polyworking tidak terbatas pada kelompok usia tertentu. Seseorang bisa menjalaninya untuk menambah penghasilan, mengembangkan keterampilan, mengeksplorasi minat, atau membangun peluang karier lain. Jadi, punya beberapa pekerjaan tidak selalu berarti seseorang merasa tidak betah dengan pekerjaan utamanya.

Jika praktik memiliki lebih dari satu pekerjaan sebenarnya sudah lama ada, mengapa istilah polyworking baru ramai dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir?

baca juga

Istilahnya Baru Ramai, tetapi Bekerja di Banyak Tempat Bukan Fenomena Baru

Memiliki lebih dari satu pekerjaan sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum istilah polyworking dikenal, orang sudah menjalankan pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau menambah penghasilan. Di Indonesia sendiri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengenal konsep pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).

Kata polyworking sudah muncul dalam diskursus dunia kerja sekitar 2021. Namun, catatan tersebut bukan bukti bahwa polyworking resmi diciptakan pada tahun tersebut.

Pandemi COVID-19 turut memperluas pembicaraan mengenai pola kerja ini. Kerja jarak jauh membuka kesempatan bagi sebagian pekerja untuk menjalankan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Perkembangan platform digital, pasar freelance, dan dunia konten kreator juga menyediakan lebih banyak cara untuk memperoleh penghasilan dari berbagai aktivitas profesional.

Jadi, praktiknya polyworking sebenarnya sudah ada sebelum pandemi, tetapi dengan terus berkembangnya pola dunia kerja dan teknologi digital,Β istilah ini kini semakin dikenal.

baca juga

Dari Biaya Hidup hingga Fleksibilitas, Mengapa Orang Memilih Polyworking?

Alasan seseorang menjalani beberapa pekerjaan bisa berbeda-beda. Beberapa faktor yang dapat membuat polyworking semakin berkembang antara lain

1. Pertimbangan Ekonomi

Bagi sebagian pekerja, pekerjaan tambahan dapat menjadi cara untuk menambah pendapatan. Ekonom UGM Qisha Quarina menjelaskan bahwa pekerjaan tambahan bisa menjadi pilihan ketika pendapatan dari pekerjaan utama belum cukup memenuhi standar hidup.Β 

2. Diversifikasi Pendapatan

Memiliki lebih dari satu sumber pendapatan juga dapat menjadi pertimbangan bagi sebagian pekerja. Dengan begitu, penghasilan tidak hanya berasal dari satu pekerjaan.Β 

3. Fleksibilitas Kerja

Perkembangan sistem kerja remote dan hybrid membuat sebagian pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih fleksibel. Kondisi ini dapat membuka ruang bagi seseorang untuk menjalankan pekerjaan atau proyek lain.Β 

4. Platform Digital

Teknologi juga membuat pekerjaan tambahan lebih mudah ditemukan. Platform freelance, media sosial, dan berbagai layanan digital mempertemukan pekerja dengan klien, proyek, maupun audiens yang lebih luas. Karena itu, teknologi dapat dilihat sebagai salah satu hal yang memungkinkan polyworking berkembang

5. Eksplorasi Karier

Bagi sebagian orang, pekerjaan tambahan bukan sekadar soal pendapatan. Aktivitas tersebut dapat digunakan untuk mencoba bidang baru, menambah keterampilan, membangun portofolio, atau memperluas jaringan.

Ketika Satu Orang Menjalani Banyak Pekerjaan, Apa yang Berubah?

Polyworking dapat membawa keuntungan sekaligus tantangan. Dampaknya pun tidak selalu sama karena bergantung pada berbagai aspek yang sedang dijalani.

Bagi Pekerja

Menjalani beberapa pekerjaan dapat memberikan tambahan pendapatan sekaligus kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang berbeda. Pekerja juga bisa memiliki portofolio dan jaringan profesional yang lebih beragam, termasuk kesempatan mencoba bidang baru.

baca juga

Namun, semakin banyak pekerjaan yang dijalani, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dikelola. Beban kerja dapat membuat waktu istirahat dan waktu pribadi berkurang. Konflik jadwal juga mungkin terjadi, terutama ketika beberapa pekerjaan memiliki tenggat atau jam kerja yang berdekatan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas pekerjaan.

Bagi Perusahaan

Dari sisi perusahaan, pekerja yang menjalani beberapa pekerjaan dapat membawa pengalaman dan keterampilan yang diperoleh dari lingkungan profesional lain. Hal tersebut dapat menjadi nilai tambah dalam pekerjaan.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu mempertimbangkan persoalan seperti kerahasiaan informasi dan komitmen waktu. Karena itu, dampak polyworking terhadap perusahaan dapat berupa dampak positif atau negatif tergantung bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan.Β 

Polyworking Bukan Berarti Semua Gen-Z Ingin Punya Banyak Pekerjaan

Polyworking sering dikaitkan dengan Gen-Z karena generasi ini memasuki dunia kerja di tengah perubahan pola kerja yang semakin fleksibel. Namun ternyata memiliki lebih dari satu pekerjaan tidak didominasi oleh Gen Z.Β 

baca juga

Data Sakernas Agustus 2024 yang diolah UGM menunjukkan sekitar 19,29 juta pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan. Kelompok usia 45–54 tahun justru menjadi bagian terbesar, yaitu 25,83%, disusul usia 55 tahun ke atas sebesar 25,66% dan usia 35–44 tahun sebesar 25,40%. Sementara itu, kelompok usia 15–24 tahun mencapai 4,95% dan usia 25–34 tahun sebesar 18,17%. UGM juga menegaskan bahwa pekerjaan tambahan tidak spesifik pada generasi tertentu.

Artinya, keputusan untuk menjalani beberapa pekerjaan dapat muncul dari berbagai kondisi dan faktor yang memengaruhinya.Β 

Fenomena polyworking menunjukkan bahwa cara orang bekerja dan membangun karier semakin beragam. Ada yang memilih satu pekerjaan, ada pula yang menjalani beberapa pekerjaan sekaligus. Setiap orang memiliki pertimbangan yang berbeda dalam menentukan pilihan kariernya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.