bed rotting - News | Good News From Indonesia 2026

Bed Rotting, Ketika Tempat Tidur jadi Ruang untuk “Istirahat Seharian”

Bed Rotting, Ketika Tempat Tidur jadi Ruang untuk “Istirahat Seharian”
images info

Bed Rotting, Ketika Tempat Tidur Menjadi Ruang untuk “Istirahat Seharian”︱Sumber: Pixnio - Marko Milivojevic


Bagi banyak orang, pulang ke rumah setelah menjalani hari yang panjang sering kali diikuti oleh satu kebiasaan sederhana, yaitu langsung merebahkan diri di tempat tidur. Setelah menghadapi pekerjaan, tugas kuliah, perjalanan yang melelahkan, atau derasnya informasi dari ponsel, tempat tidur terasa seperti ruang paling nyaman untuk beristirahat.

Awalnya mungkin hanya ingin berbaring beberapa menit. Namun tanpa disadari, waktu terus berjalan sambil menonton film, menggulir media sosial, mendengarkan musik, membaca, bermain gim, atau bahkan hanya berdiam diri tanpa tujuan tertentu. Belakangan, kebiasaan ini semakin sering dibahas di media sosial dan dikenal dengan istilah bed rotting.

Istilah yang populer di TikTok dan berbagai platform digital tersebut digunakan untuk menggambarkan keinginan seseorang mengambil jeda dari rutinitas dan tekanan sehari-hari.

Bed Rotting, Saat Tempat Tidur jadi Tempat untuk Melakukan Hampir Segalanya

Secara sederhana, bed rotting adalah istilah populer di media sosial untuk menggambarkan kebiasaan menghabiskan waktu lama di tempat tidur bukan hanya untuk tidur.

baca juga

Aktivitas yang dilakukan selama bed rotting bisa sangat beragam. Sebagian orang menggunakannya untuk menonton film atau serial, scrolling media sosial, membaca buku digital, mendengarkan podcast, bermain gim, makan camilan, atau sekadar berbaring tanpa melakukan aktivitas tertentu.

Meskipun memiliki konotasi yang dramatis, bed rotting tidak dikategorikan sebagai istilah klinis maupun diagnosis dalam dunia medis. Fenomena ini lebih tepat didefinisikan sebagai label budaya populer yang merujuk pada konsep intentional rest, yaitu keinginan untuk berhenti sejenak dari aktivitas yang terasa melelahkan secara fisik maupun mental.

Bed rotting juga berbeda dari beberapa aktivitas lain yang sering dianggap serupa. Tidur normal bertujuan memulihkan tubuh melalui proses tidur. Tidur siang biasanya berlangsung dalam periode tertentu untuk mengembalikan energi. Sementara itu, lazy day atau hari santai dapat melibatkan berbagai aktivitas di luar tempat tidur.

Bed rotting tidak selalu identik dengan kemalasan. Yang menjadi ciri utamanya adalah penggunaan tempat tidur sebagai ruang utama untuk beristirahat atau menarik diri sejenak dari aktivitas harian. Karena itu, konteks dan dampaknya sering kali lebih penting daripada menghitung berapa lama seseorang berada di atas kasur.

Istilahnya Viral di TikTok, tetapi Keinginan untuk Rebahan Jauh Lebih Tua

Popularitas istilah bed rotting memang banyak dikaitkan dengan TikTok dan media sosial dalam beberapa tahun terakhir. Video-video yang menampilkan seseorang menghabiskan akhir pekan di tempat tidur sambil menonton atau scrolling membuat istilah ini semakin dikenal luas.

Namun, praktik yang digambarkan oleh istilah tersebut sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum media sosial memberi nama khusus untuk kebiasaan itu, banyak orang sudah memilih menghabiskan waktu santai di tempat tidur ketika merasa lelah atau membutuhkan jeda.

Perbedaannya terletak pada cara kebiasaan tersebut dibicarakan. Media sosial memiliki kemampuan untuk mengubah aktivitas sehari-hari menjadi fenomena budaya dengan memberikan nama, estetika, dan narasi tertentu. Hal yang sebelumnya dianggap biasa kini menjadi topik diskusi, konten, bahkan identitas sementara bagi sebagian pengguna internet.

Karena itu, lebih tepat melihat bed rotting sebagai istilah yang menjadi populer, bukan sebagai perilaku yang baru muncul. Yang viral adalah bahasanya, bukan kebutuhan manusia untuk beristirahat.

Mengapa Seharian di Tempat Tidur Terasa Begitu Menggoda?

Kelelahan setelah bekerja dan beraktivitas

Banyak orang menjalani hari yang penuh dengan tuntutan. Pekerjaan, studi, perjalanan, pekerjaan rumah, hingga interaksi sosial dapat menguras energi fisik maupun mental.

Dalam kondisi tersebut, tempat tidur menjadi pilihan yang sangat menarik karena tidak menuntut banyak usaha. Seseorang tidak perlu berpindah tempat, menyiapkan aktivitas khusus, atau mengeluarkan energi tambahan untuk menikmati waktu istirahat.

Tekanan untuk selalu produktif

Di tengah budaya yang sering mengaitkan nilai diri dengan produktivitas, waktu luang kadang terasa seperti sesuatu yang harus dimanfaatkan.

Tidak mengherankan jika sebagian orang mulai mencari cara untuk benar-benar berhenti sejenak. Dalam konteks ini, bed rotting dapat dipahami sebagai respons terhadap kelelahan karena terus merasa harus melakukan sesuatu.

baca juga

Meski demikian, bed rotting tidak otomatis menjadi solusi untuk tekanan produktivitas. Kebutuhan istirahat dan kebutuhan menyelesaikan tanggung jawab tetap perlu diseimbangkan.

Media sosial dan budaya self-care

Media sosial turut memengaruhi cara orang memandang istirahat. Aktivitas yang sebelumnya mungkin dianggap sekadar rebahan kini sering dibingkai sebagai bagian dari self-care.

Di satu sisi, hal ini membantu membuka percakapan tentang pentingnya beristirahat. Di sisi lain, tidak semua aktivitas yang terasa nyaman otomatis memberikan pemulihan yang dibutuhkan tubuh dan pikiran.

Kenyamanan dan aksesibilitas

Tempat tidur adalah salah satu ruang paling mudah diakses untuk beristirahat. Tidak membutuhkan biaya tambahan, perencanaan khusus, atau perlengkapan tertentu.

Bagi banyak pekerja muda dan mahasiswa, tempat tidur menjadi lokasi paling praktis untuk melepaskan diri sejenak dari berbagai tuntutan sehari-hari.

Perubahan cara memandang waktu luang

Meningkatnya pembahasan mengenai work-life balance, slow living, dan anti-hustle culture menunjukkan adanya perubahan cara sebagian generasi muda memandang waktu luang.

Mereka tidak selalu melihat setiap jam kosong sebagai kesempatan untuk menjadi lebih produktif. Dalam konteks tersebut, bed rotting muncul sebagai salah satu simbol dari keinginan untuk memberi ruang bagi istirahat.

Istirahat atau Justru Membuat Tubuh Terlalu Lama Tidak Bergerak?

Penting untuk diingat bahwa beristirahat di tempat tidur sesekali bukan berarti sesuatu yang buruk.

Masalah biasanya mulai muncul ketika pola tersebut dilakukan terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika sebagian besar waktu luang dihabiskan dalam posisi yang sama dan aktivitas fisik semakin berkurang, seseorang berisiko menjalani gaya hidup yang terlalu sedentari atau kurang bergerak.

Selain itu, penggunaan tempat tidur untuk berbagai aktivitas selain tidur dapat memengaruhi kebiasaan tidur sebagian orang. Banyak ahli kesehatan tidur menyarankan agar tempat tidur tetap memiliki asosiasi yang kuat dengan aktivitas tidur sehingga tubuh lebih mudah mengenali waktu istirahat.

Ketika tempat tidur terus-menerus digunakan untuk bekerja, menonton, makan, atau scrolling media sosial, sebagian orang mungkin mengalami kesulitan memisahkan waktu aktif dan waktu tidur.

Dampak lain yang dapat muncul adalah berkurangnya interaksi sosial atau aktivitas harian jika kebiasaan tersebut berkembang menjadi pola yang dominan. Namun penting untuk membedakan antara memilih rebahan pada hari tertentu dengan kondisi yang benar-benar mengganggu fungsi sehari-hari.

baca juga

Bed rotting sendiri bukan diagnosis kesehatan mental. Namun jika seseorang mulai kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai, terus-menerus kesulitan bangun dari tempat tidur, atau mengalami gangguan fungsi dalam pekerjaan, pendidikan, maupun hubungan sosial, kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Hal yang perlu diwaspadai bukanlah pada istilah bed rotting, melainkan perubahan pola hidup jangka panjang yang lambat laun merusak kualitas hidup seseorang.

Tak Harus Selalu Memilih Tempat Tidur untuk Beristirahat

Bagi sebagian orang, berbaring di tempat tidur selama beberapa waktu memang terasa memulihkan. Namun ada pula bentuk istirahat lain yang tetap ringan tanpa harus mengubah waktu luang menjadi aktivitas produktif.

Berjalan santai di sekitar lingkungan rumah, duduk di ruang terbuka, membaca buku, mendengarkan musik, melakukan peregangan ringan, menikmati hobi, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman dapat menjadi pilihan yang sama-sama menenangkan.

Sebagian orang juga merasa lebih segar setelah menghabiskan waktu di alam, membuat karya kreatif, atau sekadar duduk tanpa tuntutan apa pun.

Tidak ada satu jenis istirahat yang cocok untuk semua orang. Yang terpenting adalah apakah aktivitas tersebut benar-benar membantu seseorang merasa lebih pulih, bukan sekadar membuat waktu berlalu.

Mungkin yang Dibutuhkan Bukan Lebih Banyak Produktivitas, Melainkan Istirahat yang Lebih Beragam

Diskusi seputar bed rotting kerap kali terbelah menjadi dua pandangan ekstrem: menganggapnya sebagai bentuk self-care yang ideal atau melihatnya sebagai tanda kemalasan.

Kebutuhan untuk berhenti sejenak dari rutinitas adalah hal yang wajar. Tempat tidur memang dapat menjadi ruang yang nyaman untuk mengambil jeda. Namun pada saat yang sama, istirahat tidak harus selalu berarti menghabiskan berjam-jam di bawah selimut.

baca juga

Yang membedakan istirahat yang membantu dan pola yang mulai mengganggu sering kali bukan tempatnya, melainkan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Selama seseorang masih memiliki kendali atas pilihannya dan mampu kembali menjalani aktivitas yang penting baginya, waktu untuk rebahan sesekali bukanlah sesuatu yang perlu dipandang secara berlebihan.

Mungkin hal paling menarik dari fenomena bed rotting bukan sekadar kebiasaan berbaring di tempat tidur. Melainkan munculnya bahasa baru yang digunakan banyak orang untuk mengatakan satu hal yang sebenarnya sangat manusiawi: mereka sedang membutuhkan jeda.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizkia Putri Fahira lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizkia Putri Fahira.

RP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.