Laut Bercerita bukan sekadar film. Di sana, ada pesan agar kita tidak melupakan hal yang perlu diingat.
Hal yang dimaksud adalah perjuangan untuk menumbangkan rezim Orde Baru dengan segala kenyataan pahitnya. Sebagaimana diketahui, reformasi 1998 memang sukses mengakhiri kekuasaan Orde Baru pimpinan Soeharto yang berlangsung selama 32 tahun, tetapi di baliknya ada harga yang harus dibayar sangat mahal: hilangnya nyawa beberapa aktivis yang menggerakkannya.
Filmย Laut Bercerita diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Leila S. Chudori. Kisahnya menyajikan lika-liku kehidupan seorang mahasiswa di Yogyakarta bernama Biru Laut Wibisono. Selain kuliah, ia bersama rekan-rekannya di kelompok studi Winatra juga aktif melontarkan kritik terhadap pemerintah dan memperjuangkan kebebasan.
Bersama Winatra, Biru menghadapi berbagai tantangan, mulai dari gagalnya melakukan aksi demonstrasi bersama petani hingga menjadi buronan yang memaksanya hidup berpindah-pindah dengan identitas samar. Puncaknya, ia ditangkap oleh aparat dan dijebloskan ke penjara karena dianggap berencana menggulingkan presiden.
Laut Bercerita memang fiksi, namun jalan ceritanya merefleksikan apa yang pernah terjadi di negeri ini. Sejarah mencatat, puluhan aktivis dan mahasiswa yang menjadi korban penculikan dan penghilangan paksa pada periode 1997โ1998. Sebagian di antaranya berhasil bebas, namun ada pula yang hingga kini keberadaannya masih menjadi misteri.
Dalamย Laut Bercerita, terdapat potongan cerita di mana di Kepulauan Seribu ditemukan kerangka manusia, namun keluarga aktivis diliputi ketidakpastian apakah itu merupakan kerangka anggota keluarganya yang hilang. Ini juga merupakan hal yang benar-benar pernah terjadi.
Pada Mei 1998 di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, ditemukan tiga kerangka manusia. Komnas HAM sampai melakukan penyelidikan apakah kerangka itu terkait dengan aktivis yang diculik pada 1997 hingga 1998. Laporan menyebut beberapa jenazah ditemukan dalam kondisi terikat atau tanpa bagian telapak tangan.

Dengan cerita yang berangkat dari sejarah gelap yang belum juga menemukan titik terangnya itulah,ย Laut Bercerita seakan mengingatkan penontonnya bahwa ada urusan yang masih belum selesai di masa lalu, dan itu jangan dulu dilupakan sebagai pelajaran berharga bagi negeri ini.
Penulisย Laut Bercerita, Leila S. Chudori, sendiri juga mengingatkan pentingnya membaca berbagai literasi tentang tragedi 1998. Menurutnya, itu merupakan hal penting bagi masyarakat masa kini.
"Kita harus rajin membaca berbagai versi tentang 65 dan 98, apalagi 98. Buat sejarawan itu cukupย recent ya. Masih baru, masih di sini," ujar Leila dalam podcastEndgame bersama Gita Wirjawan yang tayang pada Oktober 2026 lalu.
Leila mengingatkan pentingnya menghadirkan literasi terkait peristiwa 98 agar generasi muda bisa mehaminya. Apalagi, generasi yang lahir pada 2000-an alias tidak mengalami peristiwa 1998 kini sudah berusia dewasa.
"Mereka adalah angkatan yang tidak mengalami 98. Jadi sudah waktunya kita mempunyai atau mendorong para sejarawan untuk berani menulis berbagai aspek tentang 98," kata Leila lagi.
ยย


