Dua karya komik alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berhasil mendapat pengakuan di panggung Asia melalui The Monsoon Awards 2026, yang diselenggarakan dalam rangkaian Bangkok Comics Art Festival ke-5 di Bangkok, Thailand.
Mereka adalah Friska Angela Gijantoro dan Nadhira Amelia yang membuktikan bahwa komik bisa menjadi ruang untuk menyuarakan isu sosial dan kemanusiaan.
Friska meraih penghargaan kategori BestNonfiction Comic dengan mengangkat isu representasi penyandang disabilitas melalui komik debutnya yang bertajuk Disability Through the Lens of Comics.
Melalui karyanya, ia mengajak pembaca untuk melihat kembali bagaimana perspektif masyarakat terhadap disabilitas dalam media maupun kehidupan sehari-hari agar dapat membangun ruang refleksi yang lebih inklusif dalam komunikasi visual.
Sementara itu, sosok Sundel Bolong yang lekat dengan folklor Indonesia ternyata bisa menjadi pintu masuk untuk membahas isu kekerasan seksual di lingkungan akademik. Khususnya, yang berkaitan dengan ketimpangan relasi kuasa, budaya yang menormalisasi kekerasan, hingga pengalaman penyintas dalam menghadapi trauma dan proses pemulihan.
Dengan memadukan unsur budaya lokal dengan isu sosial kontemporer, Nadhira membuat komik yang berjudul My Body as a Whole sebagai wadah untuk menyampaikan kritik sosial dan membangun kesadaran masyarakat. Dan ia berhasil meraih penghargaan kategori Best Graphic Novel.
Seputar The Monsoon Awards
The Monsoon Awards merupakan ajang penghargaan independen pertama yang digagas oleh seniman komik Juliette Yu-Ming Lizeray asal Singapura dan Boris Aravindabalan asal Prancis.
Dalam keterangan yang dipublikasikan melalui PRWeb, salah satu pendiri The Monsoon Awards, yaitu Juliette menyebut bahwa komik Asia telah berkontribusi dalam membentuk budaya global selama beberapa dekade terakhir, mulai dari manga, manhua, zine independen, hingga webtoon.
Dan yang mengejutkannya adalah ternyata kawasan Asia telah menghasilkan beberapa karya penceritaan visual paling inovatif di dunia.
Namun, masih banyak kreator yang kesulitan menemukan wadah untuk memperkenalkan karya mereka. Maka dari itu, ajang penghargaan ini bertujuan untuk memperkenalkan karya komik Asia di panggung global sekaligus memberi ruang bagi para kreator untuk memperoleh pengakuan atas karya mereka.
Selain itu, penyelenggara juga ingin mempererat hubungan antara kreator dan komunitas komik di berbagai negara Asia.
Kredibilitas The Monsoon Awards juga terlihat dari jajaran jurinya yang tidak kaleng-kaleng. Salah satunya ada ilustrator dan penulis asal Indonesia, yaitu Ditta Amelia Saraswati.
Selan itu, ada Adisak Das Pongsampan seorang seniman manga asal Thailand yang karyanya telah diterbitkan dalam hampir 100 volume. Kemudian ada Nicolas Verstappen, sejarawan komik sekaligus penulis buku The Art of Thai Comics yang masuk nominasi Eisner Award, dan ada Paolo Herras seorang penulis novel grafis dan direktur Philippine International Comics Festival dari Filipina.
Tentu masih ada banyak lagi kreator komik, ilustrator, animator, akademisi, dan pegiat seni visual dari berbagai negara Asia yang turut membawa pengalaman serta perspektif mereka dalam menilai karya-karya peserta.
Ajang ini tentu bisa menjadi peluang bagi kreator komik Asia, termasuk Indonesia, untuk memperkenalkan karya mereka kepada khalayak yang lebih luas hingga ke tingkat internasional, seperti yang sudah dibuktikan oleh 2 alumni mahasiswa dari ISI Yogyakarta, Friska dan Nadhira.
Menariknya, perjalanan karya mereka yang bisa sampai di panggung internasional ini semua bermula dari tugas akhir saat masih duduk di bangku perkuliahan. Lalu, dikembangkan lagi menjadi karya yang memadukan visual dan cerita untuk mengangkat sebuah isu kemanusiaan yang layak mendapatkan perhatian luas.


