kawula17 goes to school jakarta dorong pelajar asah nalar kritis dan rumuskan solusi atas persoalan lingkungan - News | Good News From Indonesia 2026

Kawula17 Goes to School Jakarta Dorong Pelajar Asah Nalar Kritis dan Rumuskan Solusi atas Persoalan Lingkungan

Kawula17 Goes to School Jakarta Dorong Pelajar Asah Nalar Kritis dan Rumuskan Solusi atas Persoalan Lingkungan
images info

Kawula 17 Goes to School Jakarta @AIESEC in Indonesia


Ikuti GNFI di WhatsApp

Kawula17 Goes to School (KGTS) Jakarta menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengasah nalar kritis, memahami akar permasalahan di lingkungan sekitar, serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan secara nyata.

Bertempat di Balai Kota DKI Jakarta, kegiatan ini melibatkan pelajar SMA/SMK sederajat di wilayah DKI Jakarta dalam rangkaian lokakarya partisipatif yang mendorong keterlibatan aktif anak muda dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan lingkungan.

Diinisiasi oleh Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas (PP17) bersama AIESEC, Kawula17 Goes to School 2026 hadir untuk mendorong perubahan peran generasi mudaโ€”dari "hanya" menjadi penonton atau pengamat pasif (spectator)โ€”menjadi warga negara yang terinformasi, kritis, dan mampu mengambil bagian dalam menciptakan perubahan (frontliner).

Melalui pendekatan pembelajaran yang terstruktur, peserta diajak untuk tidak hanya mengenali persoalan, tetapi juga menelusuri akar masalah dan mengembangkan gagasan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dan Kawula17, serta pengenalan Kawula17 dan Youth yang disampaikan oleh Angel.

Pada sesi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai tujuan, ekspektasi, aturan pelaksanaan, dan struktur program sebagai bekal untuk mengikuti keseluruhan proses pembelajaran.

Memasuki sesi pembelajaran, peserta mengikuti problem initiation untuk mengidentifikasi persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar. Proses ini dilanjutkan dengan metode 5 Whys, sebuah instrumen analisis yang mendorong peserta menggali penyebab suatu persoalan secara berulang hingga menemukan akar masalahnya.

Melalui diskusi kelompok dan presentasi singkat, peserta diajak untuk melihat persoalan secara lebih mendalam, tidak hanya berdasarkan gejala yang tampak di permukaan.

Selanjutnya, peserta mempelajari pendekatan stakeholder mapping untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan persoalan yang telah dirumuskan.

Pemetaan ini membantu peserta memahami peran, kepentingan, dan potensi kontribusi berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung penyelesaian masalah.

Dengan demikian, peserta dapat melihat bahwa perubahan yang berdampak membutuhkan pemahaman terhadap persoalan sekaligus keterlibatan berbagai pihak.

Perspektif peserta kemudian diperkaya melalui sesi talkshow yang dibagi ke dalam empat ruang diskusi berdasarkan klaster dan difasilitasi oleh empat mitra komunitas. Melalui dialog bersama komunitas, peserta memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai tantangan sosial dan lingkungan serta berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapinya.

Sesi ini menjadi penghubung antara proses analisis yang telah dilakukan peserta dengan pengalaman nyata komunitas dalam menghadapi persoalan di masyarakat.

Setelah sesi istirahat dan wawancara, peserta melanjutkan proses pembelajaran melalui pendekatan How Might We. Metode ini membantu peserta mengubah permasalahan yang telah dianalisis menjadi pertanyaan terbuka sebagai dasar untuk mengembangkan solusi yang inklusif dan relevan. Peserta kemudian merumuskan aspirasi secara berkelompok dengan mempertimbangkan hasil identifikasi masalah, analisis akar persoalan, serta pemetaan pemangku kepentingan yang telah dilakukan sebelumnya.

Sebanyak 12 kelompok peserta kemudian menghimpun aspirasi mereka ke dalam empat klaster. Melalui sesi perumusan dan presentasi aspirasi yang didukung oleh graphic recorder, berbagai gagasan pelajar disusun menjadi rangkuman yang merepresentasikan perspektif, kebutuhan, dan harapan generasi muda.

Proses ini mendorong peserta untuk menghasilkan rekomendasi aksi yang tidak hanya berangkat dari kepedulian, tetapi juga memiliki dasar analisis dan dapat dijalankan sesuai konteks permasalahan.

Puncak kegiatan ditandai dengan penyampaian aspirasi pelajar yang diwakili oleh Angel kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Aspirasi tersebut menjadi representasi gagasan dan harapan pelajar SMA/SMK sederajat di wilayah DKI Jakarta terhadap berbagai persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar. Penyampaian ini sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk membawa hasil proses pembelajaran dan analisis mereka ke hadapan pemangku kepentingan.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan sambutan penutup sebagai tanggapan atas aspirasi yang telah disampaikan para pelajar. Acaraย dilanjutkan dengan penyerahan plakat, sesi foto bersama Gubernur DKI Jakarta, serta pemberian penghargaan dan apresiasi kepada peserta.

Melalui Kawula17 Goes to School Jakarta, pelajar diharapkan dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis dan mengembangkan cara berpikir yang runtut dalam menghadapi persoalan sosial dan lingkungan.

Aktivitas ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong terbentuknya generasi muda yang mandiri, kreatif, dan mampu bergotong royong dalam menciptakan solusi yang layak dijalankan. Sejalan dengan semangat KGTS 2026, pelajar tidak lagi ditempatkan sebagai penonton di tengah krisis, melainkan sebagai warga negara muda yang terinformasi, berdaya, dan berani menyuarakan aspirasi demi perubahan yang berdampak bagi masyarakat.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.