Memimpin sebuah organisasi tidak cukup hanya dengan visi yang menarik. Seorang pemimpin juga harus mampu meyakinkan orang-orang yang akan berjalan bersamanya.
Gagasan inilah yang terasa kuat dalam Confidence Vote (Convote) AIESEC in President University yang digelar pada 12 September 2026 di FabLab President University.
Convote adalah forum bagi para anggota untuk mengenal calon Local Committee President (LCP), menguji gagasannya lewat tanya jawab, lalu memberikan suara. Pada penyelenggaraan kali ini, Rike menjadi satu-satunya kandidat yang maju.
Sekitar 50 anggota hadir dan menggunakan hak suaranya, sebuah angka yang menunjukkan bahwa proses ini dianggap penting oleh anggota.
Selama sekitar 8 jam, para anggota mengikuti seluruh rangkaian mulai dari pengenalan kandidat hingga pengumuman hasil. Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan dan pengenalan kandidat, lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dibagi menjadi tiga tahap.
Pada tahap pertama, Executive Board (EB) menggali pandangan kandidat tentang visi, leadership, management, hingga arah perkembangan AIESEC in President University.
Tahap kedua membuka ruang bagi para anggota untuk bertanya langsung. Tahap terakhir menghadirkan perspektif alumni dan pimpinan dari tingkat nasional melalui Alga Pamungkas, MCVP Partnership Development AIESEC in Indonesia, yang memberi sudut pandang dari sisi jaringan dan organisasi.
Suasana ruangan terasa serius, tetapi juga penuh perhatian. Para anggota menyimak jawaban kandidat, terutama ketika pertanyaan masuk ke hal-hal yang lebih spesifik.
Rike memaparkan beberapa rencana, dan salah satu yang paling menonjol adalah pembuatan website untuk AIESEC in President University.
Ide ini menarik karena menunjukkan perhatian pada kehadiran digital. Dengan platform yang tertata, organisasi bisa tampil lebih visible dan lebih mudah dikenal, baik oleh anggota sendiri maupun pihak luar.
Di luar isi gagasannya, keberanian maju dan menjawab pertanyaan langsung di hadapan seluruh anggota patut dihargai.
Dari sesi tanya jawab itu, terlihat jelas standar yang dipegang para pemilih. Mereka tidak berhenti pada pertanyaan "apa visinya", tetapi lanjut ke "bagaimana mewujudkannya", mulai dari implementation, timeline, measurement, hingga antisipasi tantangan.
Menurut Iris Azalea sebagai Ketua Divisi Partnership Development, hal ini justru menegaskan makna Convote.
"Convote bukan sekadar formalitas, melainkan ruang bagi anggota untuk menyampaikan pandangan dan memberikan kepercayaan kepada calon pemimpin Local Committee (LC) AIESEC in President University," ujarnya.
Pada tahap pemungutan suara, kandidat belum memperoleh jumlah dukungan yang dibutuhkan. Karena itu, proses pemilihan LCP akan dilanjutkan melalui Convote berikutnya pada Oktober 2026.
Menurut penulis, hal ini bukan tanda kemunduran. Proses yang menuntut kepercayaan nyata dari anggota justru menunjukkan organisasi yang sehat, karena kepemimpinan tidak diberikan begitu saja, melainkan dipercayakan.
Iris juga melihat ruang pengembangan untuk penyelenggaraan berikutnya. Format tiga tahap dinilai sudah baik karena menghadirkan perspektif yang beragam. Namun, sesi bisa lebih berdampak bila diperkaya pertanyaan berbasis kasus nyata, misalnya konflik tim, masalah kinerja, atau tantangan keuangan.
Kandidat juga dapat diminta memaparkan rencana 90 hari pertama jika terpilih agar anggota melihat langkah konkret di balik visi.
Bagi calon yang akan maju pada Oktober, proses ini menjadi bekal yang berharga. "Kandidat berikutnya bisa mempersiapkan pemahaman mendalam tentang kondisi LC dan menyusun rencana strategis yang konkret, lengkap dengan target, jadwal, dan cara mengukur keberhasilan," sebut Iris Azalea sebagai Ketua Divisi Partnership Development.
Pada akhirnya, Convote kali ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan dibangun dari tiga hal: gagasan yang jelas, kemampuan menjelaskannya, dan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpin. Pintu kesempatan masih terbuka lebar pada Oktober 2026. Bagi para anggota yang punya visi dan kesiapan, inilah saatnya melangkah maju.


