"Belum makan kalau belum makan nasi." Ungkapan yang begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia itu menjadi salah satu hal yang coba dipertanyakan kembali oleh siswa kelas XI di MAN 3 Sleman.
Bukan melalui ceramah panjang, para siswa justru diajak menyuarakan gagasan tentang pangan lokal melalui karya visual. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada Rabu (2/9/2026), ruang kelas berubah menjadi ruang kreatif untuk membahas ketahanan pangan Indonesia sekaligus mengenalkan kembali beragam sumber karbohidrat lokal selain beras.
Kegiatan tersebut dikemas dalam proyek pembelajaran berbasis isu dan dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas.Β Siswa tidak hanya belajar memahami struktur dan kaidah Teks Argumentasi, tetapi juga diajak melihat bagaimana kemampuan berbahsa dapat digunakan untuk merespons persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari sana, lahirlah puluhan poster argumentatid yang mengangkat berbagai pangan lokal seperti singkong,jagung, ubi jalar, sagu, tiwul, talas dan kimpul.
Ketika Pelajaran Bahasa Indonesia Berangkat dari Persoalan Nyata
Pembelajaran dimulai dengan mengajak siswa memahami persoalan ketahanan pangan melalui berbagai informasi dan data. Mereka melakukan riset sederhana untuk menemukan fakta mengenai kandungan gizi, potensi daerah, manfaat hingga nilai ekonomi berbagai komoditas pangan lokal.
Informasi tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun argumen.
Dengan demikian, siswa tidak sekadar membuat poster yang menarik secara visual. Mereka juga belajar memastikan bahwa pesan yang disampaikan memiliki alasan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Proses tersebut membuat Teks Argumentasi terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka. Kemampuan menemukan ide pokok, menyusun gagasan, membedakan fakta dan opini, hingga menyampaikan pendapat secara logis dituangkan langsung ke dalam karya.
Pangan lokal pun menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas, bagaimana Indonesia dapat mengenali kembali kekayaan pangannya sendiri.
Dari Tugas Menjadi Pesan untuk Masyarakat
Hal menarik dari proyek ini adalah perubahan potensi siswa dalam pembelajaran. Mereka hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi penyusun dan penyampai pesan.
Melalui poster, siswa berusaha mengajak pembaca mengenal alternatif pangan sumber karbohidrat selain nasi. Pesan tersebut dikemas dengan perpaduan argumentasi, data, ilustrasi, dan desain visual agar lebih mudah dipahami.
Bagi siswa, pengalaman tersebut sekaligus menjadi latihan untuk memahami bahwa sebuah tulisan dapat memiliki fungsi sosial. Bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan gagasan dan mengajak masyarakat melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Menumbuhkan Literasi, Menghidupkan Kembali Pangan Lokal
Siswa membaca berbagai inforrmasi, memirsa referensi visual, mengolah data, menulis argumen, kemudian mengubahnya menjadi poster.
Keterampilan tersebut sejalan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Lebih dari itu, pembelajaran mengenai pangan lokal memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenali bahwa Indonesia memiliki keragaman sumber pangan yang sangat luas.
Singkong, jagung, sagu, ubi, talas, dan tiwul bukan sekadar nama makanan yang ditemukan dalam buku pelajaran. Komoditas tersebut merupakan bagian dari kekayaan pangan yang tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah di Indonesia.
Karena itu, mengenalkan kembali pangan lokal kepada generasi muda dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran mengenai pentingnya keberagaman pangan.
Dari Ruang Kelas untuk Indonesia
Kegiatan edukasi literasi tersebut didampingi oleh Armita Milan Prastiwi, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta.
Melalui proyek ini, pembelajaran Bahasa Indonesia ditempatkan sebagai ruang bagi siswa untuk membaca persoalan di sekitarnya, mengolah informasi, menyusun pendapat, dan menyampaikan gagasan kepada publik.
Pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya persoalan pemerintah atau petani. Kesadaran mengenai keberagaman pangan juga dapat tumbuh dari meja belajar, dariΒ diskusi antarsiswa, dan dari sebuah karya yang mengajak orang lain untuk berpikir kembali.
Sebab, ketika generasi muda mengenal kembali pangan lokalnya, menjaga keberagaman pangan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi wacana, tetapi menjadi bagian dari kesadaran sehari-hari.


