ketika kamera remaja smp bercerita sungai sawah dan tembakau di tanah pandalungan - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Kamera Remaja SMP Bercerita: Sungai, Sawah, dan Tembakau di Tanah Pandalungan

Ketika Kamera Remaja SMP Bercerita: Sungai, Sawah, dan Tembakau di Tanah Pandalungan
images info

Peserta didik dengan lembar narasinya masing-masing. Dokumentasi pribadi.


Ikuti GNFI di WhatsApp

Di balik lekukan perbukitan lereng Gunung Argopuro, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, tersimpan denyut kehidupan agraris yang khas. Daerah ini berada di kawasan budaya Pandalunganโ€”ruang perjumpaan harmonis antara tradisi Jawa dan Madura. Namun, di tengah gempuran modernisasi dan tantangan pendidikan pedesaan, bagaimana para remaja setempat memandang ruang hidup mereka sendiri?

Sebuah jawaban menarik terungkap melalui proyek dokumentasi visual berbasis partisipatif (photovoice) yang diusung Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Airlangga di SMPN 2 Gading. Proyek ini merupakan upaya meningkatkan kualitas pendidikan siswa melalui pengamatan terhadap alam dan ekspresi visual diri, dengan pendekatan Eco-Cultural Language Learning (ECLL).

Ketika siswa diminta memotret dan mendeskripsikan sungai, sawah, serta lanskap alam lainnya dengan kalimat mereka sendiri, mereka tidak hanya mengasah keterampilan berbahasa, tetapi juga merefleksikan hubungan mereka dengan alam.

Kegiatan ini sejalan dengan upaya mendukung SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui program unggulan AirLearn (Airlangga Inclusive and Resilient Lifelong Education, Access, Resources, and Network) dengan pendekatan pembelajaran berbasis tempat (place-based education). Sekolah tidak lagi terpisah dari realitas lingkungan siswa.

baca juga

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian dari Fakultas Ilmu Budaya Unair yang bermitra dengan SMPN 2 Gading, Probolinggo, pada Septemberโ€“Oktober 2026. Seluruh siswa mengikuti kegiatan ini dengan pendampingan guru bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kegiatan didanai oleh LPMB Universitas Airlangga dalam skema PKM-DB tahun 2026.

Kegiatan utama terdiri atas peningkatan kesadaran lingkungan dan pelatihan narasi. Pertama, siswa diajak berdiskusi, berkontemplasi, dan mengamati situasi alam di sekeliling mereka dengan lebih cermat. Selanjutnya, siswa memilih objek atau lokasi alam untuk direkam melalui kamera mereka. Tahap kedua adalah pelatihan narasi untuk menyusun konteks dan kisah berdasarkan foto-foto terpilih yang telah mereka hasilkan.

Dr. Samidi, dosen Ilmu Sejarah FIB UNAIRmemberikan materi penulisan narasikepada peserta didik SMPN 2 Gading
info gambar

Dr. Samidi, dosen Ilmu Sejarah FIB UNAIRmemberikan materi penulisan narasikepada peserta didik SMPN 2 Gading


Melalui bidikan kamera, sebanyak 43 siswa dari kelas 7, 8, dan 9 merekam 117 foto lingkungan di sekitar mereka. Bukan sekadar gambar biasa, karya siswa ini menyajikan narasi visual yang jujur tentang sungai, sawah, dan ladang tembakau sebagai tiga pilar utama yang menopang identitas serta perekonomian masyarakat Gading.

Dari seluruh foto yang terkumpul, pemandangan sungai menjadi tema paling dominan. Para siswa banyak mengabadikan air jernih yang mengalir di antara bebatuan kali, alur irigasi, pintu air, hingga bendungan kecil. Ada pola visual yang unik: sebagian besar siswa memilih berdiri di tepi air atau di atas batu saat memotret, memposisikan diri sebagai pengamat yang cermat.

baca juga

Dalam kacamata budaya Pandalungan, sungai memegang peran istimewa. Berbeda dengan petak sawah yang dimiliki secara pribadi, sungai adalah milik bersama (communal space)โ€”ruang publik yang terbuka dan egaliter, tempat air dimanfaatkan bersama untuk irigasi, bermain, maupun mandi. Foto-foto ini memperlihatkan bahwa sungai di Gading bukan sekadar lanskap alam murni, melainkan lingkungan hidup yang dikelola dan dirawat secara sosial oleh warga.

Sementara itu, sawah menjadi lanskap kedua yang paling banyak diabadikan. Kamera siswa berhasil menangkap seluruh tahapan siklus pertanian secara mendetail: mulai dari petak sawah yang baru ditanami bibit muda di atas genangan air, hamparan padi hijau yang membentang luas, bulir-bulir kuning yang siap panen, hingga tanah kering yang menunggu musim berikutnya.

Pematang sawah sering dijadikan pijakan utama tempat siswa mengambil sudut pandang foto. Komposisi ini menegaskan keterikatan kuat masyarakat setempat dengan alam agraris. Pertanian memang menjadi tulang punggung perekonomian Probolinggo. Melalui lensa siswa, sawah tidak dipandang sebagai properti pribadi yang terisolasi, melainkan sebagai satu kesatuan ekosistem budaya tempat pengetahuan lokal diturunkan dari generasi ke generasi.

Hal yang tak kalah menarik terlihat pada dokumentasi ladang tembakau. Visual yang dihadirkan terasa sangat personal. Siswa memotret dari dalam rimbunnya tanaman tembakau hijau berdaun lebar dan menjulang. Tidak ada satu pun foto yang merekam proses panen atau penjemuran tembakau.

baca juga

Keheningan visual ini justru menyimpan makna mendalam. Bagi anak-anak desa Gading, membantu orang tua di ladang tembakau saat musim panen adalah bagian dari realitas hidup sehari-hari. Pekerjaan fisik yang melelahkan tersebut telah menjadi bagian dari kenormalan hidup yang tidak lagi dianggap sebagai objek estetis untuk dipamerkan, melainkan ritme ekonomi yang harus dijalani.

Foto-foto siswa SMPN 2 Gading di atas membuktikan bahwa remaja desa bukanlah penonton pasif di tanah kelahirannya. Melalui kamera, mereka menunjukkan cara memahami ruang hidup: lingkungan yang tidak memisahkan alam dengan aktivitas manusia, melainkan lanskap budaya yang hidup, berdenyut, dan patut dijaga keberlanjutannya. Alam menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar dan pembentukan identitas remaja Gading.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.