Departemen Pengabdian Ikatan Keluarga Sastra Indonesia (IKSI) berkolaborasi dengan tim dosen Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) dan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI) mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Meningkatkan Motivasi Gemar Bersayur bagi Siswa Kelas 5 Sekolah Master Indonesia melalui Pengalaman Menanam Kangkung dengan Sistem Akuaponik. Kegiatan ini dilaksanakan di Sekolah Master Indonesia pada Kamis (8/10) dengan melibatkan siswa kelas lima sebagai peserta.
Kegiatan ini dihadiri oleh Apt. Tri Wahyuni, S.Farm., M.Biomed., Ph.D., selaku dosen sekaligus ketua tim pengmas dari Fakultas Farmasi UI, Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, M.A., selaku dosen anggota tim pengmas dari FIB UI, serta anggota dan pemagang Departemen Pengabdian IKSI.
Tim dosen pengabdi lainnya yang turut mendukung kegiatan pengmas ini meliputi Prof. Dr. Apt. Anton Bahtiar, M.Biomed., Prof. Dr. Apt. Fadlina Chany Saputri, M.Si., Apt. Meidi Utami Puteri, M.Sc., Ph.D., Apt. Nuriza Ulul Azmi, M.Sc., Ph.D., dan Ratri Syafira Putri, S.Psi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan keberangkatan para panitia dari Stasiun Depok Baru menuju Sekolah Master Indonesia. Setibanya di lokasi, rombongan disambut oleh Wakil Kepala Sekolah Master Indonesia.
Acara dibuka oleh Zahra Syahrani dan Ni Luh Ayu Gayatri Jyoti Prayascitta, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2026. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari pihak sekolah dan perwakilan tim pengmas. Untuk membangun suasana yang menyenangkan, para siswa diajak mengikuti ice breaking berupa lagu dan tepuk tangan sebelum memasuki sesi materi.

Kegiatan Pengmas Dibuka dengan Didampingi Wali Kelas (Ibu Dian) | Dokumentasi Pribadi
Materi bertajuk βMengenal Kangkung: Sayuran Hijau yang Sehat dan Bermanfaatβ disampaikan oleh Apt. Tri Wahyuni, S.Farm., M.Biomed., Ph.D. Dalam pemaparannya, siswa diperkenalkan dengan karakteristik kangkung, mulai dari bentuk daun, batang, dan akar hingga proses pertumbuhannya. Kangkung merupakan sayuran hijau dengan nama ilmiah Ipomoea aquatica yang dapat tumbuh di tanah lembap maupun lingkungan berair.
Selain mengenal karakteristiknya, siswa juga mendapatkan penjelasan mengenai proses penanaman kangkung, termasuk melalui sistem akuaponik. Sistem ini menggabungkan pemeliharaan ikan dan budidaya tanaman dalam satu lingkungan yang saling mendukung. Kotoran ikan diolah oleh bakteri menjadi nutrisi bagi tanaman, kemudian tanaman menyerap nutrisi tersebut melalui akarnya. Air yang telah melalui proses tersebut selanjutnya kembali ke kolam ikan.
Materi juga membahas kandungan gizi dan manfaat kangkung bagi kesehatan. Kangkung mengandung vitamin, mineral, dan serat yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh. Vitamin A mendukung kesehatan mata, kulit, dan sistem kekebalan tubuh. Vitamin C membantu menjaga daya tahan tubuh dan pembentukan kolagen.
Sementara itu vitamin K berperan dalam pembekuan darah dan pemeliharaan kesehatan tulang. Kandungan zat besi untuk mencegah anemia, kalsium untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi, serta seratnya yang membantu melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan usus, dan memberikan rasa kenyang lebih lama. Tak hanya itu, kangkung dapat diolah menjadi beragam hidangan, seperti sayur bening, pecel, urap, dan bakwan.
Menanam kangkung tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga baik untuk lingkungan sekitar. Kangkung mudah ditanam di halaman rumah, balkon, atau tempat yang terkena sinar matahari. Kangkung bisa tumbuh dengan baik meskipun pada lahan yang kecil.
Kangkung dapat ditanam dalam pot, wadah bekas, atau sistem sederhana seperti hidroponik atau akuaponik. Dengan menanam kangkung, mereka belajar menghargai alam, menjaga kebersihan, dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik menanam kangkung menggunakan sistem akuaponik. Para siswa dibagi menjadi enam kelompok dan mendapatkan media berupa galon bekas, saringan, benih kangkung, ikan cupang, serta pelet ikan. Mereka mengikuti kegiatan dengan antusias dan berkesempatan menjawab pertanyaan selama praktik berlangsung.

Dipandu mahasiswa IKSI, siswa praktik membuat mini akuaponik | Dokumentasi pribadi
Setelah sesi istirahat untuk makan dan bermain, para siswa kembali mengikuti praktik penanaman dengan menggunakan media yang lebih besar, yaitu pada drum dan ikan lele. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai manfaat sayuran, tetapi juga diperkenalkan dengan cara menanam kangkung melalui pengalaman langsung.

Tim dosen pengmas, Rias A. Suharjo menunjukkan cara menanam kangkung dengan sistem akuaponik | Dokumentasi pribadi
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penjelasan mengenai cara merawat tanaman kangkung yang disampaikan oleh Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, M.A. Acara diakhiri dengan penyerahan cendera mata dari pihak Universitas Indonesia kepada Sekolah Master Indonesia.
Melalui kolaborasi ini, Departemen Pengabdian IKSI bersama tim pengmas dari Fakultas Iilmu Pengetahuan Budaya dan Fakultas Farmasi UI berupaya mengenalkan manfaat sayuran sekaligus memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan kepada siswa.
Kegiatan menanam kangkung dengan sistem akuaponik diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap sayuran serta mengenalkan praktik bercocok tanam yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar.


