Perempuan di Desa Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali, turut menjaga tradisi kepandean melalui keterlibatan mereka dalam menempa besi menjadi berbagai peralatan, mulai dari perkakas pertanian hingga perangkat gamelan. Di tengah bara api dan dentang martil di perapen, para perempuan bekerja bersama anggota keluarga untuk mempertahankan keterampilan mengolah logam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Suara dentang besi terdengar berulang dari perapen, tempat para pande bekerja. Besi dipanaskan hingga memerah, kemudian dihantam martil berkali-kali untuk membentuknya sesuai kebutuhan. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga, ketelitian, dan pengalaman, sekaligus menghadirkan risiko dari suhu tinggi dan serpihan besi panas.
Namun, di balik aktivitas yang kerap diasosiasikan dengan pekerjaan laki-laki tersebut, perempuan juga mengambil bagian dalam proses penempaan. Para perempuan terlihat berdiri di dekat perapen, memegang martil, lalu mengayunkannya secara terukur ke arah besi panas. Setiap pukulan membantu membentuk logam menjadi benda yang dibutuhkan. Bersama anggota keluarga lainnya, mereka menjalankan pekerjaan yang tidak hanya menuntut kekuatan fisik, tetapi juga keterampilan dan koordinasi.
Perempuan dalam Tradisi Kepandean
Keterlibatan perempuan di perapen memperlihatkan bahwa tradisi kepandean tidak hanya berkaitan dengan produk yang dihasilkan. Di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan, dan pembagian peran yang berkembang dalam kehidupan keluarga pande.
Dentang martil yang terdengar berulang menjadi bagian dari keseharian mereka. Di balik peralatan yang dihasilkan, terdapat pengalaman para perajin yang terus menjalankan keterampilan mengolah logam. Perempuan yang turut menempa besi menjadi bagian dari praktik budaya tersebut, sekaligus memperlihatkan keberagaman peran dalam keberlangsungan tradisi lokal.

Aktivitas keluarga pande: suami beserta istri menempa besi | Dokumentasi Pribadi
Aktivitas ini menarik perhatian tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Indonesia yang melakukan kegiatan di Desa Sawan. Tim mendokumentasikan kehidupan para pande sebagai bagian dari penyusunan profil kepandean di desa tersebut.
Tim terdiri atas Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, Tri Wahyuni, Ph.D., dan Dr. Ari Prasetiyo, dengan melibatkan tiga mahasiswa, yaitu Zhafira Salsabila Nur Ramadhania, Salsa Amelia Safitri, dan Khalila Putri Fajri. Dalam kegiatan lapangan, tim turut didampingi staf Kantor Perbekel Desa Sawan, Komang Mirah Andari dan I Kadek Angga Setia Ananta.
Dokumentasi tersebut mencakup aktivitas kerja dan berbagai sisi kehidupan yang menyertai tradisi kepandean. Upaya ini menjadi bagian dari pencatatan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat, termasuk keterlibatan perempuan yang mungkin belum banyak diketahui oleh khalayak luas.

Aktivitas keluarga pande: suami dan istri berbagi tugas | Dokumentasi Pribadi
Merawat Warisan dari Perapen
Bagi masyarakat yang tidak akrab dengan proses pengolahan logam, perapen mungkin tampak sebagai ruang kerja yang keras dan penuh risiko. Namun, bagi keluarga pande, tempat ini merupakan ruang berlangsungnya keterampilan yang memiliki peran dalam kehidupan masyarakat.
Api membantu melunakkan besi agar dapat dibentuk, sementara pukulan martil mengarahkan logam menuju wujud yang dibutuhkan. Proses tersebut mengandalkan pengalaman dan keterampilan yang diasah melalui praktik sehari-hari.

Bapak Nawa dan istri menempa besi panas | Dokumentasi Pribadi
Ketika perempuan turut mengayunkan martil di tengah bara, tradisi kepandean memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berlangsung melalui upacara atau pertunjukan semata. Ia juga hadir dalam pekerjaan sehari-hari, keterampilan yang terus digunakan, dan keterlibatan orang-orang yang menjaganya.
Dari perapen Desa Sawan, dentang besi menjadi pengingat bahwa warisan budaya tetap hidup melalui manusia yang menjalankannya. Perempuan yang bekerja di antara bara dan besi panas turut menjadi bagian dari cerita tersebut, menjaga agar keterampilan kepandean tetap hadir dalam kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.


