Jika biasanya masuk ke hutan harus menempuh perjalan jauh ke tempat terpencil, di Jakarta ada hutan yang berlokasi di pusat kota dan uniknya hutan ini berada di bawah tanah yang sehari-harinya menjadi titik sibuk lalu-lalang perkantoran.
Penasaran bagaimana ceritanya?
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan dan Asosiasi Museum Indonesia DKI Jakarta “Paramita Jaya” (AMI) untuk menghadirkan suasana hutan ke Stasiun MRT Bundaran HI.
Berlangsung sampai seminggu ke depan, suasana hutan ini bukan hanya sebuah instalasi karena adanya sebuah tren. Namun, juga menghadirkan ruang pembelajaran yang interaktif lewat visual dan dapat dijangkau mudah oleh semua kalangan.
Berada di Stasiun MRT Bundaran HI, suasana hutan ini merupakan bagian dari Pameran “Hutan dan Peradaban” yang akan berlangsung hingga 18 Oktober 2026.
Bukan hanya untuk turut meramaikan momentum Hari Museum Nasional, pameran tersebut adalah langkah Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan AMI “Paramita Jaya” membawa museum lebih dekat ke warga di ruang publik.
Mengenal Biota Endemik dan Cerita Penamaan Wilayah Jakarta
Pameran ini terbagi menjadi 5 panel utama. Koleksi yang dibawa di sini merupakan sebuah narasi tentang ekosistem hutan dan alam di wilayah Jakarta. Bukan hanya dengan narasi dan replika, tetapi juga dari semua koleksi yang dibawa, Kemenhut turut menyajikan data dan statistik.
Di sini, para pengunjung akan diajak untuk berkenalan dengan hewan-hewan endemik yang masih bisa ditemukan di kota ini. Selain burung gereja dan burung pipit, tetapi ada julang Papua, kepodang kuduk, dan punai gading. Sama halnya dengan yang ada di perairan. Lewat pameran ini pengunjung dapat melihat replika dari buaya muara dan penyusSisik.

Koleksi di Pameran Hutan dan Peradaban di Jakarta | Dok. Almer Sophian
Pameran ini tidak hanya menyuguhkan visual dan narasi singkat, berisi insight penting terkait objek yang ditampilkan. Memanfaatkan ruang yang terbatas, Kemenhut seolah menyampaikan beberapa hal, termasuk penamaan sejumlah wilayah di Jakarta yang tadinya adalah hutan, seperti Rawa Buaya, Jatinegara, Kemang, Utan Kayu, dan Bintaro.
Ruang Edukasi dari Data dan Statistik dari Kemenhut
Bukan hanya itu, di salah satu panel, ditujukan juga luas dari hutan kota yang masih ada di Jakarta, seperti Hutan Kota, Hutan Konservasi, hingga Taman Nasional Kepulauan Seribu. Ada juga buku-buku yang dapat dibaca tentang ekosistem hutan dan beberapa cerita tentang sejarahnya.
Semua buku tidak hanya disusun oleh internal Kemenhut, melainkan hasil kolektif dari instansi, lembaga pendidikan, hingga komunitas.

Panel Interaksi tentang hasil hutan di Stasiun MRT Bundaran HI | Dok. Almer Sophian
Tak kalah penting dari yang lainnya, lewat pameran ini juga, Kemenhut ingin memperkenalkan sekaligus merubah perspektif “hutan bukan hanya sumber kayu”. Ditampilkan berbagai sumber kesejahteraan seperti minyak, kopi, dan rotan.
Dapat dikunjungi oleh publik secara gratis di dekat pintu keluar arah Kedutaan Besar Jepang, nantinya di akhir peka,n Pameran Hutan dan Peradaban akan mengadakan dua agenda lokakarya.
Pertama ada lokakarya minyak Atsiri di tanggal 17 Oktober dan membuat batik bersama Dharmawanita Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta pada 18 Oktober 2026.


