SUATU hari di pertengahan 2013, Ibu Martha Tilaar berkunjung ke Setana Kunci, sebuah dusun kecil di sudut Desa Grenggeng, Kebumen. Sebuah desa yang mayoritas para ibunya menjadi penganyam daun pandan.
Ini sebuah kunjungan informal yang tetap saja mengundang kehebohan buat warga sekitar. Sambil duduk lesehan di teras rumah, Bu Martha berbincang akrab dengan para perajin itu. Saat hendak pulang, seperti biasa beliau memesan beberapa hasil kerajinan.
Ada pesan menarik yang beliau ucapkan saat nota ditulis, βSaya nggak mau gratis, tapi juga jangan dimahalin. Kalian harus belajar profesional. Siapa pun konsumennya harus dilayani dengan baik dengan standar yang sama. Usaha boleh kecil, tapi sikap harus selalu professional. Jangan karena yang datang artis atau pejabat, lalu kalian sungkan menetapkan hargaβ.
Hingga beberapa puluh tahun silam, tak banyak yang tahu bahwa Bu Martha adalah putri Kebumen. Beliau lahir di Gombong pada 4 September 1937 dengan nama Martha Handana. Sebagian masa kecilnya dihabiskan di rumah sang kakek, Liem Siauw Lam, di Jl. Sempor Lama Gombong.
Sering dikisahkan oleh Bu Martha, bagaimana tahun-tahun hidupnya di Gombong sangat membentuk karakter dirinya. Adalah sang nenek, yang biasa dipanggil Makco yang menjadi panutan bagi Martha kecil. Makco adalah seorang ahli pembuat jamu yang berjiwa sosial tinggi, menjadi andalan bagi masyarakat Gombong yang sakit, terutama di masa-masa sulit selama Perang Dunia II.
Baca Selengkapnya

