Suara perlawanan bisa datang dari mana saja. Tidak hanya aliansi mahasiswa serta berbagai lapisan masyarakat yang turun langsung ke lapangan melakukan aksi demonstrasi, aspirasi atas sebuah keresahan juga bisa datang dari arah lainnya.
Setelah aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa serta masyarakat di Bundaran HI, Jakarta pada 28 Oktober 2026 lalu, gelombang aspirasi masyarakat masih terasa hingga sekarang. Tidak hanya lewat aksi demonstrasi besar-besaran, suara aspirasi ini juga digaungkan di berbagai ruang publik lainnya.
Baru-baru ini, beberapa gereja di Indonesia juga turut bersuara terkait kondisi yang terjadi beberapa waktu belakangan. Penyampaian aspirasi dari gereja di berbagai daerah ini juga turut mendapatkan perhatian, khususnya dari warganet di media sosial.
Gestur "3 Jari" Jadi Simbol Aspirasi Utama
Dinukil GNFI dari akun Instagram bigalphaid, sejumlah gereja di berbagai daerah di Indonesia terlihat melakukan aksi tiga jari atau "Three-finger salute" saat menjalani kegiatan peribadatan pada Minggu, 1 November 2026 lalu. Para pemuka agama pun turut menampilkan gestur ini saat memberikan khotbah di hadapan para jamaah yang hadir pada momen tersebut.
Gestur "3 jari" memang menjadi salah satu simbol yang banyak digunakan usai aksi demonstrasi #IndonesiaSadar pada 28 Oktober 2026 lalu. Tidak hanya di Jakarta, gestur ini juga digunakan di berbagai daerah lainnya, seperti Yogyakarta yang juga menggelar aksi demonstrasi di hari yang sama.
Berasal dari waraba film The Hunger Games, simbol "3 jari" ini digunakan sebagai bentuk solidaritas serta perlawanan terhadap kekuasaan yang bersifat otoriter. Pesan mendalam yang terdapat dari simbol "3 jari" inilah yang membuat gestur ini digunakan sebagai salah satu bentuk aspirasi masyarakat terhadap keresahan yang dirasakan dari situasi belakangan ini.
Tidak hanya menampilkan gestur ini saja, para pemuka agama juga membahas kondisi Indonesia saat sekarang. Penanganan kebakaran hutan serta kabut asap yang terjadi di beberapa daerah menjadi salah satu isu yang diangkat.
Potongan Khotbah Minggu dari Pendeta Rena Sesaria di GKI Gejayan, Yogyakarta pada 1 November 2026 lalu, menjadi salah satu buktinya. Lewat khotbah yang disampaikan, sambil mengangkat tangan dan memperlihatkan simbol "3 jari", Pendeta Rena Sesaria menegaskan jika kita tidak oleh diam dan menurut saja, tetapi juga harus bersuara, berpihak, dan menuntut atas ketidakadilan.
Sejak Dulu Melawan
Jika Kawan merasa mengapa gereja bisa ikut bersuara terhadap kondisi masyarakat dan tidak hanya fokus pada bidang kerohanian saja, maka kejadian ini sebenarnya bukanlah hal baru dalam perjalanan sejarah Indonesia. Sebab faktanya, sejak dulu, bahkan pada momen kemerdekaan sekalipun, gereja di Indonesia juga turut andil dalam memperjuangkan dan melawan bentuk ketidakadilan.
Disitat GNFI dari publikasi Sutarti, dkk., "Peran Gereja dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia" yang terbit di Jurnal Therapeuo Teologi dan Pendidikan Kristen, pada masa kolonial, gereja di Indonesia tidak hanya berfokus pada kegiatan rohani saja. Akan tetapi, gereja juga berkontribusi untuk menumbuhkan kesadaran nasional di kalangan masyarakat Indonesia waktu itu.
Hal ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang menyasar berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga sosial. Tidak hanya itu lewat kegiatan ibadah, khotbah, serta pengajaran, gereja juga menyebarkan nilai kebersamaan, persatuan, hingga cinta tanah air pada para jamaat.
Nilai-nilai ini sangat penting untuk meningkatkan rasa persatuan, terlebih di kalangan masyarakat yang waktu itu hidup dalam tekanan serta berbagai macam bentuk ketidakadilan. Lewat nilai-nilai yang disampaikan ini, gereja membantu masyarakat agar bisa paham bahwa sebuah bangsa mesti bersatu untuk melawan segala bentuk penindasan yang terjadi.



