Di kawasan pesisir, cangkang kerang hijau sering berakhir sebagai limbah setelah bagian dagingnya diambil. Jika tidak dimanfaatkan, tumpukan cangkang dapat memenuhi ruang dan menimbulkan permasalahan lingkungan, terutama di wilayah yang memiliki aktivitas pengupasan kerang yang cukup tinggi.
Namun, limbah tersebut ternyata masih dapat diberi nilai baru. Sejumlah mahasiswa dan sejarawan di Indonesia mencoba mengolah cangkang kerang hijau menjadi sabun yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Inovasi ini tidak hanya menawarkan cara baru untuk mengurangi limbah pesisir, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Salah satunya dilakukan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melalui program KKN-BBK 6 di Desa Ngawen, Gresik. Melalui program “Shell Soap”, mereka mengajak masyarakat memanfaatkan cangkang kerang hijau yang sebelumnya menumpuk dan belum digunakan secara optimal.
Sulap Limbah Jadi Produk Berguna
Gagasan pengolahan ini bermula dari permasalahan yang ditemukan mahasiswa UNAIR ketika melakukan survei awal di Desa Ngawen. Tumpukan cangkang yang semakin mendorong mereka mencari cara agar limbah tersebut tidak terus mencemari lingkungan.
Ketua kelompok KKN-BBK 6 UNAIR, Abdur Rahman Akhtar, menjelaskan bahwa persoalan limbah menjadi alasan utama mereka mengembangkan inovasi tersebut.
“Dari situ kami mencari solusi bagaimana agar limbah tersebut tidak menumpuk terlalu banyak dan mengotori lingkungan,” jelas Akhtar.
Upaya serupa juga dilakukan masyarakat Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, melalui program Shell of Hope dari FMIPA Universitas Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, sekitar tujuh kilogram limbah cangkang dihasilkan masyarakat setiap bulan, sementara tiga kilogram di antaranya berhasil diolah menjadi sabun dalam satu sesi pelatihan.
Sabun hasil pengolahannya diberi nama OceanGlow dan diperkenalkan sebagai sabun yang dapat digunakan untuk mencuci tangan maupun mencuci piring. Tim juga pelaksana melihat peluang agar produk tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas lokal Pulau Harapan.

Gambar Kerang Hijau/Perna viridis | Foto: Wikimedia Commons | Pengarang: Chaloklum Diving
Bagaimana cara mengolahnya?
Pada program UNAIR, proses pembuatannya diawali dengan mencuci cangkang kerang hijau hingga bersih, kemudian mengeringkannya di bawah sinar matahari. Setelah itu, cangkang dibakar selama sekitar tujuh hingga delapan jam hingga menjadi material yang lebih mudah dihancurkan.
Hasil pembakaran selanjutnya memisahkannya dari arang. Bahan tersebut kemudian digunakan dalam campuran bersama minyak goreng, abu soda, dan air. Campur diaduk hingga merata, lalu ditempatkan dalam wadah untuk melalui proses pendiaman sebelum menjadi sabun.
Cara pengolahannya tidak selalu sama karena formula dapat disesuaikan dengan jenis sabun yang ingin dibuat. Dalam pelatihan FMIPA UI, misalnya bubuk cangkang dicampurkan dengan minyak jelantah, soda api atau NaOH, serta bahan pewarna dan pewangi alami.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa cangkang kerang tidak hanya dicampurkan begitu saja. Bahan-bahan tersebut harus melalui pengolahan tertentu dan dipadukan dengan bahan pendukung agar dapat menjadi bagian dari produk sabun.
Dari Limbah Menjadi Peluang Ekonomi
Manfaat pengolahan cangkang tidak berhenti pada pengurangan limbah. Ketika bahan yang sebelumnya dibuang dapat diubah menjadi produk fungsional, masyarakat memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan yang sekaligus berkaitan dengan ekonomi lokal.
Hal tersebut terlihat dalam penelitian yang dilakukan di Desa Tanggul Indah, Serang, Banten. Nuryadin dan rekan-rekannya mencatat bahwa rumah kupas kerang di wilayah tersebut menghasilkan sekitar 50 kilogram cangkang kerang hijau basah setiap hari. Penelitian itu kemudian memberikan pelatihan pembuatan sabun batang berbahan cangkang dan Spirulina kepada 15 warga.
Hasil evaluasi penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai pembuatan sabun meningkat sebesar 100 persen. Peserta juga dinyatakan mampu membuat sabun batang tersebut secara mandiri setelah mengikuti pelatihan. Temuan ini menarik bahwa pengolahan limbah dapat berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan masyarakat.
Selain keterampilan, inovasi tersebut juga menyimpan peluang pengembangan produk lokal. Tim FMIPA UI berharap OceanGlow tidak hanya berfungsi sebagai sabun, tetapi dapat berkembang menjadi produk khas yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Pulau Harapan. Salah satu penggagasnya bahkan menyebut harapan agar produk itu dapat menjadi ikon daerah.
“Kelak, sabun ini bisa menjadi ikon Pulau Harapan dan menginspirasi daerah lain untuk memanfaatkan limbah secara bijak,” ujar Dr. Retno Lestari.
Pemanfaatan cangkang kerang hijau menunjukkan bahwa permasalahan limbah pesisir dapat dijawab dengan pendekatan yang lebih produktif. Mahasiswa, akademisi, dan masyarakat sama-sama memiliki ruang untuk mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi produk yang bermanfaat. Dalam program UNAIR, harapan itu juga diarahkan pada nilai ekonomi. Akhtar menegaskan,
“Kami juga berharap semoga sabun yang dihasilkan dapat bernilai ekonomis,” imbuh Akhtar
Bagi Kawan GNFI, cerita ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mengolah limbah yang dekat dengan kehidupan masyarakat juga dapat menjadi langkah sederhana untuk menciptakan manfaat baru, sekaligus membuka peluang yang lebih panjang bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


