“Anak-anaknya pada berani untuk menjawab. Saat aku beli aku juga tanya-tanyakan, pokoknya responsif dan keren banget sih.”
Begitulah kesan Nazwa, salah satu anggota Komunitas Literasi Remaja Tambun Selatan, ketika berinteraksi dengan peserta didik SMP Adisa dalam Bazaar Karya Juara di Bantargebang, Bekasi.
Kehadiran komunitas tersebut tidak sekadar meramaikan kegiatan. Bersama PEDAL JUARA, mereka turut menghadirkan ruang interaksi dan pengalaman belajar bagi anak-anak di wilayah Bantargebang, sekaligus membawa semangat penguatan literasi ke lingkungan marginal.
Bagi peserta didik SMP Adisa, pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di luar lingkungan keseharian mereka. Mereka memperkenalkan hasil karya, menjelaskan produk, menjawab pertanyaan, hingga berinteraksi langsung dengan orang yang baru mereka temui.
Bazaar Karya Juara merupakan salah satu rangkaian program PEDAL JUARA, Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) yang diinisiasi oleh mahasiswa IPB University di SMP Adisa. Program ini memadukan penguatan karakter dan pengenalan kewirausahaan berbasis lingkungan sebagai upaya mendorong motivasi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya membawa hasil karya yang telah dibuat selama rangkaian pembelajaran. Mereka juga diberi kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan berkomunikasi dengan menawarkan dan menjelaskan produk kepada masyarakat.
Kehadiran Komunitas Literasi Remaja Tambun Selatan kemudian membuat ruang belajar tersebut semakin terbuka. Interaksi yang berlangsung tidak hanya terjadi antara penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk berlatih menyampaikan gagasan, menjawab pertanyaan, dan membangun keberanian untuk berkomunikasi.
Bagi komunitas, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk upaya untuk menghadirkan pengalaman literasi lebih dekat dengan anak-anak di wilayah marginal seperti Bantargebang. Literasi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan memahami lingkungan, menyampaikan pikiran, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain.
“Anak-anaknya pada berani untuk menjawab. Saat aku beli aku juga tanya-tanyakan, pokoknya responsif dan keren banget sih,” ujar Nazwa.
Interaksi sederhana tersebut juga memperlihatkan perubahan pada peserta. Pada awal kegiatan, sebagian dari mereka masih terlihat menunggu pembeli datang ke stan. Namun, perlahan mereka mulai berinisiatif menyapa, menawarkan produk, dan menjelaskan hasil karya yang dibawa.
Bagi Nia, salah satu peserta PEDAL JUARA, pengalaman tersebut membuatnya tertarik untuk mencoba kembali membuat dan memasarkan produk.
“Setelah berjualan aku jadi lebih tertarik untuk membuat produk dan memasarkannya juga,” ujar Nia.
Antusiasme peserta kemudian mendapat respons positif dari masyarakat. Seluruh produk yang dibawa dalam Bazaar Karya Juara berhasil terjual.
Namun, bagi PEDAL JUARA, habisnya produk bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan kegiatan. Lebih dari itu, peserta mendapatkan pengalaman bahwa karya yang mereka buat dapat diperkenalkan kepada orang lain, mendapatkan respons, dan memiliki nilai.
Pengalaman tersebut juga diamati oleh pihak sekolah. Zaenal, Kepala Sekolah Adisa, melihat adanya perkembangan dalam keberanian peserta setelah mengikuti rangkaian program hingga kegiatan bazaar.
“Setelah mengikuti program sampai bazaar ini, anak-anak terlihat lebih ingin buat pergi ke sekolah ya, Kak. Apalagi anak-anak juga semakin percaya diri untuk menjawab,” ujar Zaenal.
Keterlibatan komunitas dalam kegiatan ini turut memperlihatkan bahwa ruang literasi dapat dibangun melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak. Ketika peserta berbicara dengan pembeli, menjelaskan karya, dan mendengarkan respons orang lain, mereka sedang mempraktikkan kemampuan yang tidak selalu diperoleh hanya melalui pembelajaran di dalam kelas.
Pada akhirnya, Bazaar Karya Juara menjadi ruang pertemuan antara karya, masyarakat, dan gerakan literasi. Di tengah lingkungan Bantargebang, peserta tidak hanya belajar menjual produk, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berbicara, didengar, dan berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas.
Kehadiran Komunitas Literasi Remaja Tambun Selatan bersama PEDAL JUARA menunjukkan bahwa penguatan literasi bagi anak-anak di wilayah marginal dapat hadir melalui berbagai bentuk pengalaman. Dari sebuah pertemuan sederhana di stan bazaar, anak-anak mendapat ruang untuk belajar bahwa suara mereka penting, karya mereka bernilai, dan keberanian untuk berinteraksi merupakan bagian dari proses tumbuh.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


