Di tengah permukiman padat warga di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, tersimpan situs bersejarah dari abad ke-14 yang namanya tercantum dalam Kitab Nagarakertagama.
Candi Gayatri, yang juga dikenal sebagai Candi Boyolangu, adalah kompleks pendharmaan Gayatri Rajapatni, permaisuri keempat Raden Wijaya sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit. Lokasinya hanya sekitar 12 km dari pusat Kota Tulungagung dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit berkendara.
Gayatri Rajapatni bukan tokoh biasa dalam sejarah Majapahit. Ia adalah ibu dari Tribhuwana Wijayatunggadewi, ratu Majapahit ketiga, dan nenek dari Hayam Wuruk, raja yang membawa Majapahit ke masa kejayaannya.
Setelah wafat, abu jenazahnya disimpan di candi yang namanya kemudian diabadikan, yakni Pradjnaparamitapuri, yang kini lebih dikenal sebagai Candi Gayatri. Kitab Nagarakertagama menyebut tempat ini dengan nama Bayalangu atau Bhayalango, yang secara harfiah berarti tempat penyucian, dan dari nama itulah nama Boyolangu berasal.
Bagi Kawan GNFI yang sedang menjelajahi Tulungagung, Candi Gayatri adalah destinasi wisata sejarah yang tidak memerlukan biaya masuk dan menyimpan lapisan cerita yang cukup kuat tentang perempuan-perempuan berpengaruh di masa Majapahit.
Sekilas Mengenai Candi Gayatri
Candi ini ditemukan kembali pada 1914 dalam kondisi tertimbun tanah. Berdasarkan angka tahun yang terpahat pada tangga batu candi, yaitu 1289 Çaka (1367 M) dan 1291 Çaka (1369 M), candi ini diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk antara tahun 1359 hingga 1389 M.
Meski digolongkan sebagai candi Hindu, Candi Gayatri juga berfungsi sebagai tempat pemujaan agama Buddha, mencerminkan praktik keagamaan di Majapahit yang tidak memisahkan keduanya secara ketat.
Gayatri sendiri semasa hidupnya dikenal sebagai bhikkhuni atau pendeta perempuan Buddha, dan setelah wafat ia didewaikan sebagai Dhyani Buddha Wairocana, dewa tertinggi dalam tradisi Buddha Vajrayana.
Semasa hidup Gayatri, ia memegang pengaruh besar dalam kehidupan politik Majapahit meskipun tidak pernah bertakhta sendiri. Ketika Tribhuwana Wijayatunggadewi menjadi ratu, Gayatri masih hidup dan diyakini menjadi penasihat yang kuat di belakang layar.
Saat Gayatri wafat, Tribhuwana turun takhta dan Hayam Wuruk, cucu Gayatri, mengambil alih kekuasaan. Peristiwa-peristiwa itu sendiri sudah menjadi konteks yang cukup kuat untuk memahami mengapa candi ini dibangun dan mengapa namanya diabadikan sedemikian rupa.
Daya Tarik Utama Candi Gayatri
Kompleks Candi Gayatri terdiri dari satu candi induk dan dua candi perwara yang terletak di sebelah selatan dan utaranya.
Untuk memasuki kawasan percandian, pengunjung harus melalui sebuah lorong selebar 2,5 meter yang dibatasi tembok setinggi 75 cm dengan panjang sekitar 50 meter, sebuah akses yang cukup khas dan tidak lazim ditemukan di situs candi lainnya.
Candi induk berukuran 11,40 x 11,40 meter dan menghadap ke arah barat. Di dalamnya terdapat arca wanita berukuran besar, yaitu arca Gayatri Rajapatni dengan tinggi 120 cm, lebar 168 cm, dan tebal 140 cm. Arca ini menggambarkan seorang perempuan dalam posisi duduk bersila dengan ekspresi tenang, dianggap sebagai representasi Gayatri dalam wujud dewanya.
Di candi perwara sebelah selatan terdapat arca Nandi, arca Dwarapala, dan arca Mahisasura Nandini.
Sementara di candi perwara sebelah utara terdapat dua patung yoni yang disangga kepala naga, arca Ganesha, dan sebuah patung Jaladwara. Keberagaman arca dari tradisi Hindu dan Buddha dalam satu kompleks ini menggambarakan tentang karakter keberagamaan Majapahit yang sinkretis.
Akses Menuju Candi Gayatri
Candi Gayatri beralamat di Dusun Boyolangu, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Dari pusat Kota Tulungagung, jaraknya sekitar 12 km dengan waktu tempuh sekitar 20 menit menggunakan kendaraan pribadi.
Lokasinya berada di tengah permukiman warga, sehingga akses jalannya sudah beraspal dan bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Tidak ada angkutan umum yang langsung menuju lokasi, sehingga kendaraan pribadi adalah pilihan paling praktis.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Candi Gayatri terbuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Tidak ada tiket masuk. Pengunjung cukup melapor kepada juru pelihara yang bertugas di lokasi.
Fasilitas di kawasan ini masih sederhana, dengan area parkir terbatas dan kondisi lingkungan sekitar yang merupakan permukiman warga.
Disarankan berpakaian sopan saat berkunjung mengingat situs ini masih digunakan untuk kegiatan keagamaan tertentu, termasuk peringatan Sraddha Agung Bhinneka Tunggal Ika yang digelar setiap 26 Desember di kawasan ini.
Ayo Berkunjung ke Candi Gayatri!
Candi Gayatri cocok untuk Kawan GNFI yang tertarik pada sejarah Majapahit dari sudut yang lebih personal, tentang perempuan-perempuan berpengaruh yang ada di balik kejayaan kerajaan itu.
Datanglah pagi hari saat suasana masih sepi dan cahaya matahari masuk dari arah barat, arah hadap candi induk.
Setelah dari sini, Kawan juga bisa melanjutkan ke Candi Sanggrahan yang berjarak tidak jauh dan berkaitan langsung dengan kisah yang sama tentang Gayatri Rajapatni!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


