bukan untuk membenci tapi memahami belajar memproses duka atas figur ayah - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan untuk Membenci, tapi Memahami: Belajar Memproses Duka atas Figur Ayah

Bukan untuk Membenci, tapi Memahami: Belajar Memproses Duka atas Figur Ayah
images info

Ayah dan Anak © Magnific


Apakah Kawan GNFI familiar dengan istilah Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR)? GEMAR adalah sebuah gerakan resmi dari Kementerian dan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN untuk mendorong para ayah untuk hadir secara langsung ke sekolah untuk mengambil rapor anak.

Gerakan ini menarik perhatian masyarakat sosial media karena sebelumnya dikabarkan bahwa Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan angka krisis fatherless tertinggi di dunia. Fatherless atau ketiadaan figur ayah secara emosional kini bukan isu asing lagi di kalangan generasi muda.

Diskusi mengenai isu fatherless ini kian ramai, karena para Gen Z yang sekarang adalah pengguna paling masif di media sosial saling mencurahkan hatinya mengenai kekosongan batin yang disebabkan oleh sosok ayah, sosok yang seharusnya menjadi pelindung utama.

Berangkat dari diskurs online di sosial media, mulai banyak yang menyebarkan awareness mengenai isu fatherless ini dalam berbagai bentuk, seperti buku hingga film layar lebar.

baca juga

Salah satu karya yang mengangkat isu fatherless adalah buku terbitan Gradien Mediatama yang baru saja rilis di Agustus 2026 ini, berjudul Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada? Buku ini hadir bukan hanya untuk mengedukasi isu fatherless yang sedang marak dibahas, melainkan sebuah ruang aman bagi siapa saja yang sedang berjuang dalam menyembuhkan luka dari sosok ayah.

“Pak, aku ingin menjadi anak kecil lagi.

Aku ingin Bapak ajari aku lagi

bagaimana menjalani hidup saat dunia

terlalu menyakitkan untuk dijalani.

Pak, ayo kita ulang.”

Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada?, hlm. 52

Buku Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada? menggambarkan luka mendalam yang diberikan oleh sosok ayah terhadap anaknya. Buku ini dapat menjadi sebuah bentuk refleksi bagi pembaca yang memiliki hubungan kompleks dengan sosok ayah yang tidak hadir secara emosional.

Kutipan di atas merupakan salah satu prosa yang ditulis penulis dalam bukunya, menggambarkan kerinduannya kepada Bapak yang hilang ketika dunia dewasa mulai terasa terlalu berat baginya. Melalui tulisannya, penulis menyampaikan bahwa duka akibat kosongnya peran Bapak tidak melulu dari kemarahan, melainkan dari kerinduan yang terlalu dalam untuk dimiliki kembali.

Menurut Zaki Nur Fahmawati, MPsi., seorang Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, fatherless akan mengakibatkan ketidakseimbangan dalam pola pengasuhan yang pada akhirnya akan memengaruhi kondisi psikologis anak.

Hal ini juga selaras dengan buku Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada?, di mana penulis menggambarkan adanya kekosongan yang ia tidak pernah ketahui namanya hingga ia beranjak dewasa.

Bagaimana luka yang ia miliki, yang terus ia pendam, terus menggerogoti dirinya hingga ia tak sanggup lagi menjalani hidup. Karena sejatinya, sosok Bapak adalah seseorang yang mengajarkan anak dalam bertahan hidup, cara anak memandang sebuah tanggung jawab, mengontrol emosinya, dan ketahanan anak dalam menghadapi dunia luar. 

baca juga

Uniknya, buku ini tidak mengajak pembaca untuk membenci sosok Bapak yang dianggap tidak memberikan perannya dengan baik. Melainkan, melalui narasi yang menyentuh, buku ini memvalidasi bahwa luka kecewa adalah respons yang wajar atas hubungan yang tidak ideal. 

“Aku tidak lagi mencari siapa

yang harus disalahkan,

aku hanya ingin menjadi

seseorang yang tetap lembut,

setelah hidup mengajarkanku

begitu banyak kehilangan.”

Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada?, hlm. 138)

Begitulah yang disampaikan oleh penulis, pembaca diajak untuk menyadari bahwa mengakui keinginan untuk dilihat dan dicintai adalah sebuah proses dalam menyembuhkan luka. Sebelum seseorang dapat benar-benar ‘sembuh’, ia harus berani mengakui keberadaan lukanya terlebih dahulu yang selama ini ia pendam dalam dirinya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

JR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.