masih bisakah naik delman di jakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Masih Bisakah Kita 'Naik Delman' di Ibu Kota?

Masih Bisakah Kita 'Naik Delman' di Ibu Kota?
images info

Masih Bisakah Kita 'Naik Delman' di Ibu Kota? | Wikimedia Commons | Herusutimbul


“Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota…” Penggalan lagu Naik Delman ciptaan Ibu Sud ini mungkin pernah begitu akrab di telinga kita saat masih kecil. Bagaimana kita membayangkan duduk di atas delman sambil menikmati perjalanan menjadi salah satu kenangan sederhana tentang Jakarta yang dulu.

Kini, suasana ibu kota tentu sudah jauh berbeda. Transportasi mengalami transformasi besar, kini TransJakarta, KRL, MRT, taksi, hingga ojek online menjadi bagian dari keseharian masyarakat untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Di tengah padatnya kendaraan dan berkembangnya berbagai moda transportasi, delman mulai terasa seperti moda transportasi dari masa lalu. Nah, apakah delman sudah tidak bisa ditemukan di Jakarta? Masih bisakah masyarakat naik delman di ibu kota saat ini?

Yuk, simak pembahasannya sampai habis, Kawan GNFI!

Dulu, Delman Pernah menjadi Bagian dari Mobilitas Ibu Kota

Bagi masyarakat Betawi, delman atau sado pernah menjadi bagian dari keseharian sebelum Jakarta berkembang dengan berbagai kendaraan bermesin. Kendaraan ini berupa kereta yang digerakkan oleh kuda dan dikendalikan oleh seorang kusir. Bentuknya dapat menggunakan dua maupun empat roda.

Penggunaan delman dulu tidak hanya untuk perjalanan santai seperti kebutuhan wisata. Kendaraan ini digunakan masyarakat untuk bepergian bahkan mengangkut barang.

Penggunaan kuda sebagai penggerak adalah karena kuda memiliki kekuatan sekaligus kemampuan untuk menempuh perjalanan dengan cukup cepat. Maka dari itu, delman pun menjadi salah satu pilihan transportasi ketika belum banyak kendaraan bermesin. 

Penyebutan “delman” sendiri kerap dikaitkan dengan nama Charles Theodore Deeleman. Ia merupakan seorang insinyur yang tinggal di Batavia dan dikenal membuat berbagai jenis kereta pada masa Hindia Belanda. Sementara itu, istilah “sado” disebut berasal dari kata dos-à-dos dalam bahasa Prancis, yang merujuk pada posisi tempat duduk yang saling membelakangi.

Pada masa Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, delman digunakan sebagai angkutan antar daerah. Tercatat pada tahun 1885, Forbes pernah menyewa delman untuk perjalanan dari Bogor menuju Bandung dengan biaya €16 yang ditempuh selama tiga belas jam perjalanan.

Namun, transportasi Jakarta terus berubah. Kehadiran kendaraan bermesin seperti kereta api, mobil, dan motor membuat minat masyarakat terhadap delman berkurang. Hal itu terjadi karena kendaraan bermesin kini dapat membawa penumpang dan barang yang lebih banyak juga cepat. 

Perubahan ini turut menggeser keberadaan delman di Jakarta. Jika dahulu delman digunakan umtuk mobilitas masyarakat sehari-hari, kini kendaraan ini lebih banyak dijumpai di tempat-tempat tertentu, seperti kawasan wisata atau perkampungan. 

Saat Jakarta Makin Modern, Mengapa Delman Mulai Tersingkir?

Semakin berkembangnya Jakarta, semakin besar pula kebutuhan masyarakat untuk bermobilisasi. Karena padatnya aktivitas masyarakat Jakarta, tentu saja kini dibutuhkan transportasi yang mampu membawa banyak penumpang dan memiliki waktu perjalanan yang lebih efisien. Maka dari itu, kini delman perlahan tidak lagi menjadi pilihan utama masyarakat.

Perubahan tersebut tentu tidak terjadi dalam semalam. Transformasi transportasi di Jakarta berlangsung secara bertahap, mulai dari adanya trem yang pernah beroperasi di Batavia, kemudian angkutan roda empat seperti oplet, mikrolet, metromini dan kopaja. 

Kemudian Jakarta mulai mengembangkan transportasi massal. TransJakarta mulai beroperasi pada 2004 sebagai sistem Bus Rapid Transit (BRT), kemudian disusul MRT Jakarta yang resmi beroperasi pada 2019. Ada juga KRL dan LRT yang dapat menghubungkan masyarakat Jakarta beraktivitas antar kota. 

Dibandingkan dengan kendaraan bermotor, delman memiliki keterbatasan dari sisi kecepatan dan kapasitas. Sementara itu, angkutan umum bermotor dapat membawa lebih banyak penumpang dalam satu kali perjalanan, bahkan hingga ribuan. 

Waktu tempuh juga sangat mempengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih moda transportasi. Bagi pekerja atau anak sekolah di Jakarta, moda transportasi modern saat ini sudah memiliki jadwal operasi yang tetap sehingga dapat membantu mereka untuk menghindari telat ke tempat tujuan. 

baca juga

Masih Eksis, tapi Kini Beralih Fungsi

Meski sudah tidak menjadi pilihan utama untuk bepergian, kendaraan tradisional tersebut tidak sepenuhnya hilang di Jakarta. Salah satu tempat di mana delman masih dapat ditemukan adalah kawasan Monumen Nasional (Monas).

Di kawasan ini, delman beroperasi terutama pada akhir pekan untuk menyokong aktivitas wisata. Pemerintah Kota Jakarta Pusat juga mengatur keberadaan delman di sekitar Monas yaitu hanya pada Sabtu dan Minggu dan maksimal 8 jam beroperasi.

Perubahan fungsi ini membuat delman lebih cocok digunakan untuk perjalanan santai, di mana penumpang hanya berkeliling dan menikmati suasana sekitar kawasan tempat wisata. Bagi para kusir hal ini juga sangat membantu mereka. Pemerintah Jakarta Pusat juga memberikan pelayanan berupa pengecekan kesehatan kuda untuk delman di kawasan Monas. 

Dengan adanya peraturan ini, delman masih bisa bertahan di tengah modernya moda transportasi Jakarta.

Tarif Naik Delman di Kawasan Monas

Bagi Kawan GNFI yang ingin berkeliling kawasan Monas menggunakan delman, harga naik delman di Monas yaitu sebesar Rp150.000 untuk satu kali keliling, dilansir dari Instagram Disparekraf DKI Jakarta. 

Kemudian, perjalanan wisata di kawasan Monas ini juga sudah memiliki rute tersendiri, yaitu dimulai dari dari parkir IRTI Monas, kemudian mengelilingi Monas, Balaikota, hingga ke Patung Arjuna Wiwaha. Perlu diingat jika delman di kawasan Monas hanya beroperasi di hari Sabtu dan Minggu.

baca juga

Jadi Kawan, Mau 'Naik Delman' di Hari Minggu Ini?

Lagu naik delman mungkin masih akrab di telinga kita sampai sekarang, dari generasi ke generasi pasti jarang yang tak mengenal lagu ini, meskipun kini kendaraan yang digambarkan di dalam lagu tersebut sudah tidak lagi menjadi bagian dari mobilitas sehari-hari masyarakat Jakarta, delman tetap hadir di tengah-tengah kita walau fungsinya berbeda.

Kini, ketika ingin bepergian, masyarakat punya banyak pilihan, seperti TransJakarta, KRL, MRT, taksi, hingga ojek online. Namun, perlu diingat bahwa naik delman menawarkan pengalaman yang berbeda, di mana kita bisa melakukan perjalanan santai sambil menikmati suasana.

Nah, bagaimana Kawan GNFI, akhir pekan ini ingin mencoba sesuatu yang sedikit berbeda dengan naik delman di Jakarta? 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.