Orang Bajo adalah salah satu suku bangsa yang ada di daerah Sulawesi Selatan. Konon ada sebuah legenda yang menceritakan tentang asal usul Orang Bajo yang ada di daerah Sulawesi Selatan dulunya.
Menurut kisahnya, orang-orang Bajo ini bukanlah suku asli yang berasal dari daerah tersebut. Suku yang hidup nomaden di atas laut ini diyakini berasal dari daerah Malaysia dulunya.
Bagaimana kisah di balik legenda asal usul Orang Bajo tersebut? Simak cerita lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Legenda Asal Usul Orang Bajo, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Dikutip GNFI dari buku Jemmain yang berjudul Cerita Rakyat Bugis, dikisahkan pada zaman dahulu orang-orang Bajo asli berasal dari daerah Johor, Malaysia. Di sana memimpin seorang raja yang memiliki seorang putri.
Pada suatu hari, sang putri tengah pergi bermain ke pantai bersama para dayangnya. Putri ini bermain perahu di tepi pantai tersebut.
Langit pada awalnya cerah dan bersahabat. Namun situasi ini berubah beberapa saat kemudian.
Angin kencang dan ombak besar tiba-tiba muncul di tepi pantai. Ombak besar ini menerjang semua perahu yang ada di pinggir pantai.
Hal ini ternyata juga menerjang perahu milik sang putri. Alhasil perahu tersebut hanyut terbawa arus ombak yang kencang.
Sore hari pun tiba. Sang putri belum juga terlihat kembali ke istana kerajaan.
Melihat hal tersebut, Raja Bajo di Johor mulai merasa khawatir. Dia tidak tahu mengapa sang putri belum kembali juga.
Padahal putrinya selalu pulang tepat waktu sebelumnya. Dia pun merasa jika sang putri tengah berada dalam bahaya.
Sang raja kemudian memerintahkan pengawalnya untuk pergi ke tepi pantai. Mereka disuruh untuk mencari keberadaan sang putri.
Akhirnya berangkatlah para pengawalnya ini ke tepi pantai. Setibanya di sana, para pengawal melihat para nelayan yang tidak pergi ke laut.
Mereka bertanya mengapa para nelayan tidak pergi bekerja. Para nelayan ini menjawab jika badai besar baru saja terjadi, sehingga mereka tidak berani untuk pergi melaut.
Para pengawal ini kemudian bertanya apakah mereka melihat putri raja berada di sana. Para nelayan ini berkata jika mereka tidak melihat putri raja sebelumnya.
Mereka pun khawatir jika putri raja ikut terdampak dari badai besar yang baru saja terjadi. Apalagi ada beberapa perahu milik nelayan yang hanyut oleh ombak besar akibat bencana tersebut.
Setelah mendengarkan penjelasan nelayan, para pengawal ini kemudian memutuskan untuk kembali ke istana. Setibanya di sana, mereka melaporkan informasi yang baru saja didapatkan pada sang raja.
Raja Bajo tentu terkejut mendengarkan laporan tersebut. Sang raja kemudian mengumpulkan semua orang Bajo ke istana.
Mereka kemudian disuruh untuk mencari sang putri yang hilang. Raja Bajo melarang masyarakatnya untuk naik ke darat jika belum berhasil menemukan putrinya.
Akhirnya pergilah masyarakat Bajo menelusuri lautan. Mereka menggunakan perahu dan melaksanakan perintah sang raja.
Orang-orang Bajo kemudian pergi ke berbagai daerah. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, Filipina, hingga Sulawesi dilalui semuanya.
Kembali ke sang putri, ternyata dirinya berhasil selamat dari bencana yang menghanyutkan perahu yang dia naiki. Sang putri terdampar di sebuah muara Sungai Cerekang yang ada di daerah Luwu, Sulawesi Selatan.
Di sana sang putri kemudian mendirikan sebuah perkampungan. Lama kelamaan masyarakat yang mendiami kampung tersebut pun makin ramai.
Saat masyarakat Bajo yang mencari sang putri sampai di Teluk Bone, mereka mendengar kabar tentang keberadaan kampung ini. Akhirnya orang-orang Bajo ini pergi ke daerah tersebut dan menetap di sana.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


