kerajaan sriwijaya - News | Good News From Indonesia 2026

Kerajaan Sriwijaya, Jejak Kekuatan Maritim yang Pernah Menguasai Jalur Dagang Nusantara

Kerajaan Sriwijaya, Jejak Kekuatan Maritim yang Pernah Menguasai Jalur Dagang Nusantara
images info

Kerajaan Sriwijaya, Jejak Kekuatan Maritim yang Pernah Menguasai Jalur Dagang Nusantara | Illustrated by Gemini


Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara modern, Kerajaan Sriwijaya telah hadir sebagai raksasa maritim yang menguasai jaringan perdagangan internasional, terutama di sepanjang Selat Malaka. Wilayah Sumatra dan jalur perairan strategisnya memang menghubungkan para pedagang dari Tiongkok, India, hingga Timur Tengah.

Uniknya, meski keberadaannya kerap disebut oleh sejarah, bukti fisik kehidupan kerajaan ini tidak hadir dalam bentuk kompleks istana megah seperti yang kerap Kawan GNFI bayangkan. Para sejarawan dapat merekonstruksi kejayaan sebuah peradaban maritim yang begitu berpengaruh melalui peninggalan seperti prasasti, temuan arkeologis, serta catatan pengembara asing yang mengabadikannya melalui karya mereka.

baca juga

Asal-usul Kerajaan Sriwijaya

Menurut laman pembelajaran Kemendikdasmen, kemunculan Sriwijaya diperkirakan bermula sekitar abad ke-7 di wilayah Sumatra bagian selatan, tepatnya berdiri di dekat pantai dan tepian Sungai Musi, Palembang.

Dikutip dari situs UIN Alauddin Makassar, secara etimologis, kata Sri memiliki arti cahaya dan Wijaya bermakna kemenangan yang gemilang. Bukti tertua keberadaan kerajaan ini terekam dalam Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 683 M, yang mengisahkan perjalanan suci (siddhayatra) Dapunta Hyang Sri Jayansa membawa pasukan dan armada untuk menguasai beberapa wilayah hingga mendirikan wanua Sriwijaya.

Letak Kerajaan Sriwijaya: Palembang dan Jaringan Pusat Kekuasaan di Sumatra

Letak Kerajaan Sriwijaya dan Wilayah Kekuasaannya: Meliputi Selat Malaka hingga Selat Sunda
info gambar

Letak Kerajaan Sriwijaya dan Wilayah Kekuasaannya: Meliputi Selat Malaka hingga Selat Sunda | Ruang Murid Kemendikdasmen


Menjawab pertanyaan mengenai letak Kerajaan Sriwijaya, bukti sejarah mengarah pada kawasan Palembang di sekitar tepi Sungai Musi.

Dikutip dari jurnal Pramartha (2017), kekuasaan Sriwijaya terbagi ke dalam tiga zona utama: daerah ibu kota muara yang berpusat di Palembang, lembah Sungai Musi sebagai daerah pendukung, serta daerah-daerah muara saingan di sekitarnya.

Keberadaan Sungai Musi sendiri memang memberikan akses vital bagi Sriwijaya menuju pedalaman untuk mengumpulkan komoditas lokal bernilai tinggi seperti kayu, resin aromatik, dan rempah-rempah, membuat kerajaan ini menjadi "pemenang" perdagangan, baik dari Jawa maupun yang akan berangkat ke India.

Bahkan Suswandari dkk. (2021) memaparkan bahwa jangkauan pengaruh Sriwijaya membentang ke seluruh wilayah Asia Tenggara hingga Madagaskar. Peradaban mereka pun meliputi seluruh Nusantara hingga kawasan Thailand dan Malaysia.

Mengapa Sriwijaya Bisa Menjadi Kerajaan Maritim yang Berjaya?

Keberhasilan Kerajaan Sriwijaya tidak sekadar berasal dari pemungutan pajak kapal yang melintas. Posisi strategisnya di Selat Malaka menjadikan pelabuhannya sebagai titik temu pedagang India, Cina, dan pedagang lokal juga berperan membuat kerajaan ini mencapai masa kejayaannya.

Sebagaimana dicatat oleh Pradani (2017), kekuatan utama Sriwijaya adalah penguasaan penuh atas Selat Malaka yang menjadi kunci pelayaran dagang ke Tiongkok dan kawasan barat.

Di samping itu, letak geografis wilayah Palembang yang rendah dan rata sebagai ibu kotanya pun memudahkan akses ke laut, membuat kapal-kapal laut bisa menyusuri sungai hingga ibu kota tanpa perlu melakukan bongkar muat bawaan.

Letak wilayah kekuasaan yang strategis itu memungkinkan Sriwijaya menghubungkan komoditas bernilai tinggi dari pedalaman Sumatra, seperti rempah-rempah, ke pasar dunia.

Sriwijaya juga membangun armada laut tangguh yang bertugas menjaga keamanan jalur pelayaran dari ancaman perompak. Meski begitu, di penelitian lain seperti milik Pradani (2017) juga diceritakan bahwa Kerajaan Sriwijaya memiliki strategi pengamanan maritim yang unik dengan menggandeng kepala bajak laut menjadi bagian dari organisasi perdagangan kerajaan sekaligus pengaman jalur-jalur pelayaran serta memberikan sejumlah bagian yang telah ditentukan raja kepada para perompak ini.

Di samping itu, buku Sejarah SMA/MA Kelas XI disinggung bahwa kekuatan politik dan ekonomi ini makin kokoh saat terjadi perluasan jaringan diplomasi serta pengaruh ke wilayah Jawa Tengah bagian selatan di bawah kepemimpinan Raja Balaputeradewa.

baca juga

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Ketika Pengaruhnya Meluas di Nusantara

Puncak masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya berlangsung pada rentang abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Pengaruhnya tidak hanya berpusat pada dominasi perdagangan laut, tetapi juga berkembang sebagai pusat keagamaan dan intelektual agama Buddha terbesar di Asia Tenggara.

Meski begitu, ada pula sumber literatur lain seperti milik Kemendikdasmen yang menyebut bahwa Kerajaan Sriwijaya meraih kejayaan pada abad ke-9 Masehi, dibuktikan dengan perluasan wilayah kerajaan hingga menjangkau sebagian Jawa bagian tengah, sebagian Kalimantan, dan Semenanjung Melayu.

Catatan perjalanan pendeta asal Tiongkok, I-Tsing, juga memperlihatkan betapa tersohornya Sriwijaya. Kerajaan ini menerima banyak orang China untuk belajar bahasa Sanskerta dan menyalin kitab suci Buddha sebelum melanjutkan perjalanan studi mereka ke Nalanda, India.

Mahsyurnya Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat pendidikan tak lepas dari pengaruh Sayakitri. Beliau adalah pengarang kitab Hastadandasastra sekaligus guru tersohor yang ahli di bidang kesusastraan Buddha.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya, Sumber Penting untuk Membaca Sejarahnya

Prasasti Telaga Batu, Salah Satu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya | Indonesia Kaya
info gambar

Prasasti Telaga Batu, Salah Satu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya | Indonesia Kaya


Sebagian besar pengetahuan kita tentang kerajaan ini berdiri di atas bukti material tertulis. Salah satunya prasasti Kedukan Bukit yang merekam kisah perjalanan siddhayatra Dapunta Hyang bersama puluhan ribu pasukannya dan fondasi awal perkampungan Sriwijaya.

Ada juga prasasti Talang Tuo yang menurut penjelasan Sholeh (2017) memuat perkembangan agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya. Tidak hanya itu, Indonesia Kaya berbagi bahwa prasasti ini juga memuat kisah pembangunan Taman Sriksetra dan bahkan menyinggung soal tanaman sagu.

Selain itu, terdapat pula prasasti Telaga Batu yang berisi daftar jabatan birokrasi kerajaan mulai dari jajaran putra mahkota, orang yang berperan dalam hal agama, hingga tukang cuci istana. Arkeolog menyebut peninggalan ini sebagai prasasti persumpahan yang menandakan kesetiaan para abdi negara kepada raja.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Masih Bisa Ditelusuri hingga Kini

Bukit Siguntang, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Masih Bisa Ditelusuri hingga Kini | Indonesia Kaya
info gambar

Bukit Siguntang, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Masih Bisa Ditelusuri hingga Kini | Indonesia Kaya


Ragam peninggalan Kerajaan Sriwijaya masih dapat Kawan GNFI saksikan hingga hari ini. Salah satunya adalah Situs Bukit Siguntang di Palembang, kompleks perbukitan bersejarah tempat ditemukannya arca Buddha berukuran besar hingga 2,77 meter.

Kawan GNFI juga dapat berkunjung ke Museum Sriwijaya di Palembang yang menyimpan koleksi prasasti, arca, stupa, kemudi kapal kuno, keramik, serta artefak sisa-sisa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Museum Sriwijaya sendiri buka setiap hari kecuali hari Senin dan momen libur nasional. Kawan bisa menghindari hari-hari tersebut agar bisa berwisata dengan khidmat melihat beragam bukti kehadiran kerajaan maritim besar Nusantara.

Bagaimana Sriwijaya Mengalami Kemunduran?

Kemunduran Sriwijaya tidak terjadi secara mendadak akibat satu peristiwa tunggal, melainkan melalui proses geopolitik dan perubahan lingkungan yang panjang.

Menurut laman belajar Kemendikdasmen, serangan besar Raja Rajendracola dari Kerajaan Colamandala asal India pada abad ke-11, tepatnya pada tahun 1017 dan 1025 Masehi, menandai kemunduran Kerajaan Sriwijaya.

Sementara itu, kekuasaan Sriwijaya benar-benar tutup buku setelah diserang armada laut Kerajaan Majapahit pada tahun 1377 Masehi.

Laman UIN Alauddin Makassar juga menjelaskan hal serupa. Mereka menyebut bahwa serangan Raja Chola yang terjadi pada 1025 Masehi tersebut menyebabkan kehancuran pada sejumlah besar kekuatan maritim Sriwijaya.

Hal itu memantik munculnya banyak kerajaan baru, seperti Dharmasraya di Sumatera dan Majapahit di Jawa. Efeknya, pengaruh Kerajaan Sriwijaya menjadi makin sempit dan pusat perdagangan tergeser.

Setelah itu, Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa maritim Nusantara makin mengalami kemunduran dan pada sekitar abad ke-13 Masehi namanya berhenti disebut sebagai kekuatan besar dalam sejarah Indonesia.

Di samping tekanan militer regional, faktor alam turut memegang peranan kunci. Dikutip dari jurnal Pramartha (2017), terjadi fenomena pendangkalan Sungai Musi dan mundurnya garis pantai yang perlahan menutup akses kapal-kapal dagang besar untuk berlabuh di Palembang dan membuat situasi kerajaan memburuk.

Warisan Sriwijaya dan Jejaknya dalam Sejarah Nusantara

Meski kejayaan politiknya telah lama pudar, warisan Sriwijaya tetap hidup dalam kebudayaan kita. Penggunaan bahasa Melayu Kuna sebagai bahasa perantara (lingua franca) dalam jejaring dagang Sriwijaya menjadi cikal bakal penting perkembangan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia modern.

Kisah Sriwijaya memberi pelajaran berharga bahwa sejarah Nusantara dibentuk oleh kemampuan mengelola konektivitas bahari dan keberanian untuk terhubung dengan dunia luar. Kerajaan ini membuktikan betapa tangguhnya peradaban maritim Indonesia di masa lampau.

Kawan GNFI tertarik untuk menyelami lebih banyak kisah sejarah dan kekayaan budaya Nusantara lainnya? Yuk, baca beragam artikel menarik dan berwawasan di Good News From Indonesia untuk terus merawat rasa bangga kita terhadap sejarah bangsa!

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.