kayu besi kalimantan mengapa ulin sangat tahan dan mengapa populasinya perlu dilindungi - News | Good News From Indonesia 2026

Kayu Besi Kalimantan, Mengapa Ulin Sangat Tahan dan Populasinya Perlu Dilindungi?

Kayu Besi Kalimantan, Mengapa Ulin Sangat Tahan dan Populasinya Perlu Dilindungi?
images info

Kayu Besi Kalimantan. Mengapa Ulin Sangat Tahan dan Mengapa Populasinya Perlu Dilindungi | Sumber: Generated AI


Indonesia dianugerahi kekayaan flora yang luar biasa, salah satunya adalah kayu ulin (Eusideroxylon zwageri). Pohon khas hutan hujan tropis ini kerap dijuluki sebagai "kayu besi" atau kayu tabalien oleh masyarakat Kalimantan Tengah karena kekuatannya yang di atas rata-rata.

Ketahanan luar biasa kayu ulin bahkan pernah menjadi simbol keteguhan hubungan diplomasi tanah air kita. Saat berkunjung ke Indonesia, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud bersama Presiden Joko Widodo menanam bibit kayu besi ini di Istana Merdeka dengan harapan kerja sama kedua negara dapat berdiri kokoh layaknya karakter kayu ulin.

Mengapa Kayu Ulin Sangat Kuat dan Tahan Lama?

Spesies ini tergolong ke dalam kelas kuat I dan kelas awet I, menjadikannya material alami yang paling tangguh di habitat aslinya. Pohon yang mampu tumbuh hingga tinggi 35-50 meter dan berdiameter lebih dari 120 cm ini memiliki rahasia struktur fisik yang terbilang unik.

Secara anatomi, kayu ulin memiliki struktur serat yang sangat rapat dan hampir tidak berongga atau bercelah udara. Rapatnya serat ini efektif membatasi penetrasi air maupun uap lembap, sehingga jamur perusak dan mikroorganisme enggan bersarang di dalamnya.

Selain kerapatan serat, kayu ulin mengandung zat ekstraktif alami berupa eusiderin (termasuk eusiderin A dan eusiderin I). Senyawa turunan phenolic ini berfungsi sebagai pengawet alami yang bersifat antijamur, antirayap, dan memberikan rasa pahit yang tidak disukai hama penggerek kayu.

Minyak alami ini juga menjadikan kayu ulin sangat kedap air serta tahan terhadap perubahan suhu ekstrem. Dengan berat jenis berkisar antara 0,8 hingga 1,2 g/cm³, material ini begitu padat sampai-sampai tenggelam saat dimasukkan ke dalam air.

Keunikan lain dari kayu besi ini adalah daya tahannya yang justru makin kuat saat terpapar air hujan, air laut, atau bahkan ketika terpendam di dalam tanah. Batang ulin yang terpendam di tanah mampu bertahan utuh hingga ratusan bahkan ribuan tahun tanpa mengalami pembusukan.

Karena keunggulannya tersebut, kayu ulin menjadi material favorit suku Dayak sejak zaman dahulu untuk membangun Rumah Betang, ukiran adat, hingga gagang senjata Mandau. Hingga kini, ulin dimanfaatkan secara luas sebagai bahan pembuatan tiang pancang dermaga, konstruksi jembatan, rangka kapal, hingga atap sirap.

baca juga

Kondisi Populasi Kayu Ulin Saat Ini

Meskipun secara alami tersebar di Sumatra bagian selatan, Bangka Belitung, hingga Kalimantan, keberadaan pohon ulin kini makin mengkhawatirkan. Di beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, keberadaan spesies ini bahkan dinyatakan hampir punah.

Kelangkaan ini merupakan dampak dari eksploitasi besar-besaran dan pembalakan liar selama beberapa dekade terakhir. Tingginya permintaan pasar yang tidak diimbangi dengan tata kelola pemanenan yang berkelanjutan membuat stok kayu ulin di hutan alam kian menipis.

Secara biologis, pohon ulin tergolong tumbuhan yang sangat toleran terhadap naungan, namun memiliki laju pertumbuhan yang sangat lambat. Dalam uji coba konservasi, penambahan tinggi bibit ulin berumur di bawah 18 bulan hanya mencapai sekitar 17,58 cm dalam kurun waktu satu tahun penuh.

Sifat tumbuhnya yang cenderung soliter serta penyebaran bijinya yang terbatas membuat regenerasi alami kayu ulin di hutan sangat lambat. Kelangkaan ini pada akhirnya membuat harga kayu ulin di pasaran menjadi sangat mahal.

Saat ini, salah satu penanda kejayaan kayu ulin yang masih berdiri dapat disaksikan di Wisata Alam Sangkima, bagian dari Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Di tempat ini tumbuh pohon ulin raksasa berdiameter 2,47 meter dan tinggi 20 meter yang diperkirakan telah berusia lebih dari 1.000 tahun.

baca juga

Upaya Konservasi Kayu Ulin dari Kepunahan

Melihat kondisinya yang terancam, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan kayu ulin sebagai sumber daya alam yang dilindungi secara ketat. Pengawasan terhadap lalu lintas perdagangan dan pemanfaatan kayu ini terus diperketat.

Langkah strategis konservasi terus dilakukan, baik secara in-situ maupun ex-situ. Konservasi in-situ difokuskan pada kawasan habitat aslinya, seperti penetapan area konservasi ulin di Berau seluas 100 hektare dan Samboja seluas 48 hektare di Kalimantan Timur.

Sementara itu, konservasi ex-situ dilaksanakan di luar habitat alami guna menjaga keragaman genetiknya, seperti kawasan konservasi di Samboja (1 hektare) serta di Bondowoso, Jawa Timur (3 hektare).

Perkembangbiakan kayu ulin secara vegetatif dikenal cukup rumit karena tingginya kandungan getah alami. Teknik stek pucuk memiliki tingkat keberhasilan yang rendah, sehingga metode terbaik yang direkomendasikan adalah melalui propagasi generative menggunakan biji ulin.

Inovasi pembibitan juga terus dikembangkan, salah satunya melalui kerja sama antara KLHK dan Tropenbos Belanda. Metode ini dilakukan dengan memotong biji ulin menjadi beberapa bagian untuk disemaikan, di mana tiap potongan mampu mengeluarkan tunas baru yang sehat.

Upaya penyelamatan pohon besi Kalimantan tidak hanya bergantung pada teknologi pembibitan semata. Penegakan hukum terhadap perdagangan liar serta keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan menjadi kunci utama agar kayu ulin tetap lestari di tanah Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Revaldy Maulana Latumeten lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Revaldy Maulana Latumeten.

RM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.