Tahukah Kawan GNFI jika ada orang Indonesia yang pernah menjadi menteri di Belanda? Ia adalah Raden Adipati Ario Soejono alias Ario Soejono, tokoh kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Soejono merupakan orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang pernah menjadi menteri di Kabinet Belanda.
Kala itu, di London, 9 Juni 1942, pemerintah Belanda menjalankan pemerintahan dalam pengasingan di tengah Perang Dunia II yang membara. Perdana Menteri Pieter Sjoerd Gerbrandy secara resmi melantik Soejono sebagai menteri tanpa portofolio dengan tugas khusus di Kementerian Jajahan. Bahkan, Soejono juga menjadi Muslim pertama yang menduduki jabatan strategi situ.
Menariknya, selama ia memegang jabatan puncak tersebut, Soejono justru memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri serta kemerdekaan penuh bagi bangsa Indonesia.
Profil Ario Soejono
Ario Soejono lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada 31 Maret 1886. Ia berasal dari lingkaran keluarga priyayi.
Pada tahun 1915, Soejono mempersunting putri Bupati Purwodadi dan dikaruniai empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki. Salah satu putranya, Irawan Soejono, kelak gugur sebagai pahlawan perlawanan mahasiswa di Belanda pada tahun 1945.
Mengutip dari parlement.com yang dikelola oleh Montesquieu Insitituut Belanda, kariernya di dunia politik sejak awal memang sudah mentereng. Tahun 1908-1915, ia menjad Pegawai Negeri Sipil di Departemen Dalam Negeri Hindia Belanda. Setelahnya, di usia sekitar 30 tahun, ia dipercaya menjabat sebagai Bupati Pasuruan dari tahun 1915 hingga 1927.
Di samping tugas pemerintahan daerah, Soejono juga berkiprah di lembaga perwakilan Volksraad di Batavia sejak tahun 1920. Bersama Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat dan Raden Mas Adipati Ario Koesoemo Oetoyo, ia dikenal sebagai bagian dari kelompok nasionalis moderat yang kooperatif.
Keandalan diplomatik Soejono membuatnya sering ditugaskan ke Eropa, termasuk menjadi penghubung Kementerian Jajahan di Den Haag pada 1936 hingga 1940. Sekembalinya ke Jawa pada awal 1940, ia diangkat menjadi anggota Dewan Hindia Belanda (Raad van Indië) sebagai penasihat tertinggi Gubernur Jenderal.
Orang Indonesia Pertama yang Jadi Menteri di Belanda
Invasi pasukan Jepang ke Hindia Belanda pada Maret 1942 memaksa Soejono mengungsi ke Australia bersama Lieutenant Governor-General Hubertus van Mook. Dari Australia, mereka melanjutkan perjalanan ke London tempat kabinet darurat Belanda berkantor di Mexborough House, Berkeley Street.
Pada 9 Juni 1942, Soejono resmi dilantik menjadi menteri tanpa departemen dalam kabinet Gerbrandy II. Peristiwa ini mengukir sejarah ganda, yakni sebagai orang Indonesia pertama sekaligus Muslim pertama yang berhasil masuk ke dalam jajaran kabinet Belanda. Uniknya, jabatan ini diembannya atas saran dari van Mook.
Di kabinet, Soejono mendesak agar Ratu Belanda dan Belanda memberikan pengakuan prinsipil atas hak Indonesia untuk merdeka. Sayangnya, tuntutan progresif mengenai hak menentukan nasib sendiri tersebut mendapat penolakan keras dari mayoritas menteri Belanda lainnya.
Di tengah gigihnya memperjuangkan prinsip kemerdekaan tanah air, Soejono mengalami serangan jantung secara mendadak. Ia mengembuskan napas terakhir di London pada 5 Januari 1943 dalam usia 56 tahun, tepat tujuh bulan setelah menjabat menteri.
Upacara pemakaman dilangsungkan di pemakaman Muslim Woking, Surrey, dengan dihadiri para pejabat pemerintah serta prajurit Angkatan Laut asal Indonesia. Soejono wafat jauh dari tanah kelahirannya sebelum sempat menyaksikan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Ratu Wilhemina memberikannya gelar Pangeran pada Oktober 1942 karena dianggap berjasa kepada kerajaan. Selain itu, nama putranya, Irawan Soejono, juga diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Belanda, Irawan Soejonostraat.
Sebagai informasi, Soejono dan keluarganya memang sangat “pro”-Indonesia. Selain dirinya yang getol menyuarakan kemerdekaan Indonesia, putranya, Irawan juga diakui sebagai salah seorang yang berjasa di Belanda.
Irawan merupakan mahasiswa Indonesia yang bergabung dalam Binnenlandsche Strijdkrachten (Tenaga Pejuang Dalam Negeri) cabang Leiden untuk melawan Nazi Jerman di Belanda. Ia wafat di umur 23 tahun pada 13 Januari 1945 akibat ditembak polisi Nazi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


