Pulau Sabira, pulau terluar di gugusan Kepulauan Seribu, menyimpan sebuah cerita tentang perubahan cara masyarakat memandang penyu. Sebelum kegiatan konservasi berkembang, mengambil telur penyu masih menjadi aktivitas yang dilakukan oleh sebagian warga.
Beberapa orang bahkan rutin mencari telur penyu sebelum melaut. Telur yang ditemukan kemudian dikonsumsi, sementara sebagian lainnya dijual kepada masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pengelola Rumah Penyu Pulau Sabira. Ia melihat aktivitas pengambilan telur penyu terus berlangsung dan merasa perlu ada upaya untuk mengubah kebiasaan tersebut.
“Berawal dari rasa keprihatinan saya terhadap aktivitas beberapa masyarakat nelayan. Sebelum melaut, mereka berburu telur penyu untuk dikonsumsi dan sebagian lagi dijual kepada masyarakat,” kata pengelola Rumah Penyu Pulau Sabira saat menceritakan awal mula kegiatan konservasi.
Alih-alih hanya meminta warga berhenti mengambil telur penyu, ia memilih pendekatan berbeda. Ia mengajak mereka yang sebelumnya berburu telur untuk terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian.
“Berangkat dari rasa keprihatinan itu, saya mencoba menyadarkan mereka untuk mengubah cara mereka dari pemburu menjadi pelestari penyu,” ujarnya.
Saat itu, terdapat empat orang yang secara rutin berburu telur penyu pada malam maupun pagi hari. Keempatnya kemudian menjadi orang pertama yang diajak untuk membentuk kelompok pelestari.
Ajakan tersebut diterima.
“Awalnya saya menyadarkan mereka untuk menjadi pelestari. Akhirnya mereka sepakat dan mau untuk membuat kelompok pelestari penyu,” kata pengelola Rumah Penyu Pulau Sabira.
Kesepakatan itu menjadi awal kegiatan konservasi penyu di Pulau Sabira.
Pada 2015, kelompok tersebut mulai membangun tempat sederhana untuk mendukung kegiatan mereka. Bangunan pertama bukan gedung permanen, melainkan gubuk berukuran sekitar 4×3 meter yang dibangun menggunakan material yang dikumpulkan dari warga serta sisa-sisa bahan yang tersedia.

Rumah Penyu Pulau Sabira | Dokumetasi Pribadi
“Bangunan kami awalnya, tahun 2015, dibuat dari gubuk. Materialnya kami minta dari warga dan menggunakan sisa-sisa material yang ada,” kenangnya.
Dari gubuk tersebut, kelompok pelestari mulai menjalankan patroli untuk memantau penyu yang mendarat ke pantai. Kegiatan dilakukan terutama pada malam hari.
“Kegiatan kami berpatroli pada malam hari untuk memonitor penyu yang mendarat,” jelas pengelola Rumah Penyu Pulau Sabira.
Ketika menemukan telur, kelompok pelestari melakukan evakuasi ke tempat konservasi. Telur tersebut kemudian ditempatkan dalam wadah yang telah disiapkan dan ditunggu hingga menetas.
“Kami tunggu sekitar 60 hari. Setelah menetas, tukiknya langsung kami lepaskan kembali ke habitatnya, ke laut,” ujarnya.
Menurutnya, telur penyu yang dibiarkan di sarang alami tetap memiliki peluang untuk menetas. Namun, peluang tersebut lebih kecil karena adanya ancaman predator, salah satunya biawak. Selain itu, telur yang ditemukan oleh warga juga masih berpotensi diambil.
“Masyarakat masih percaya bahwa mengonsumsi telur penyu dapat menambah vitalitas. Karena alasan itu, mereka gemar mengonsumsinya,” ungkap pengelola Rumah Penyu Pulau Sabira mengenai salah satu alasan masyarakat mengambil telur penyu pada masa sebelumnya.
Karena itu, kegiatan konservasi tidak hanya berfokus pada proses penyelamatan telur. Perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting dari upaya yang dilakukan kelompok pelestari.

Dokumentasi Pribadi
Perlahan, perubahan mulai terlihat. Menurut pengelola, kesadaran masyarakat untuk tidak mengganggu habitat penyu meningkat sejak kegiatan pelestarian dimulai.
“Sekarang kesadaran masyarakat sudah lumayan banyak, sudah hampir 100 persen warga menyadari untuk tidak mengganggu habitat penyu yang ada di Pulau Sabira,” katanya.
Perubahan tersebut juga terlihat dari cara masyarakat merespons ketika menemukan penyu atau telur penyu.
“Kalau mereka menemukan, biasanya mereka melaporkan keberadaan penyu tersebut kepada kami,” lanjutnya.
Perjalanan konservasi itu kemudian berkembang. Tiga tahun setelah gubuk pertama dibangun, kelompok pelestari berhasil membangun gedung untuk mendukung kegiatan konservasi pada 2018.
Namun, perkembangan kegiatan konservasi juga berjalan beriringan dengan tantangan baru.
Pulau Sabira menghadapi abrasi pantai yang cukup tinggi. Untuk melindungi wilayah pulau, dibangun tanggul dan pemecah ombak. Di sisi lain, keberadaan struktur tersebut dapat memengaruhi akses penyu menuju pantai untuk bertelur.

Rumah Penyu Pulau Sabira | Dokumetasi Pribadi
“Jujur, semenjak ada kegiatan pembangunan tembok dan tanggul pemecah ombak seperti ini, agak berpengaruh terhadap jumlah penyu yang mendarat karena mungkin dengan adanya tembok, mereka agak sulit mendapatkan akses untuk mendarat ke pantai,” kata pengelola Rumah Penyu Pulau Sabira.
Tantangannya adalah mencari keseimbangan antara kebutuhan melindungi pulau dari abrasi dan mempertahankan akses penyu menuju pantai.
“Kami juga perlu tanggul tersebut karena mengingat Pulau Sabira ini abrasi pantainya sangat tinggi. Akhirnya kami bersepakat dengan instansi terkait untuk membuat ruang supaya penyu tetap bisa mendarat di pantai untuk bertelur,” jelasnya.
Di titik inilah perjalanan konservasi Pulau Sabira menunjukkan bahwa pelestarian tidak berhenti ketika telur berhasil diselamatkan dan tukik dilepaskan ke laut.
Perlindungan penyu juga berkaitan dengan keberadaan ruang hidupnya. Ketika perubahan fisik pulau dapat memengaruhi akses penyu untuk mendarat, maka upaya konservasi harus ikut mempertimbangkan bagaimana pembangunan dan perlindungan habitat dapat berjalan secara bersamaan.
Perjalanan yang dimulai dari sebuah gubuk pada 2015 kini telah berkembang menjadi kegiatan konservasi yang melibatkan masyarakat. Perubahan paling penting bukan hanya terlihat dari berdirinya Rumah Penyu, tetapi juga dari perubahan respons warga terhadap keberadaan penyu.
Jika sebelumnya telur penyu dicari dan diambil, kini masyarakat mulai melaporkan temuannya kepada kelompok pelestari.
Bagi pengelola Rumah Penyu Pulau Sabira, perkembangan tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan konservasi. Ia berharap keberadaan Rumah Penyu juga dapat membuat Pulau Sabira semakin dikenal oleh masyarakat luas.
“Harapan saya, dengan adanya kegiatan pelestarian penyu ini, Pulau Sabira makin dikenal masyarakat luas, terutama di Indonesia, bahwa di Jakarta ada tempat pelestarian penyu,” ujarnya.
Perjalanan konservasi di Pulau Sabira memang belum selesai. Ancaman terhadap telur, keberadaan predator, perubahan kondisi pantai, hingga kebutuhan pembangunan infrastruktur masih menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi.
Namun, cerita yang dimulai pada 2015 telah memperlihatkan satu hal penting: konservasi dapat tumbuh ketika masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang harus diatur, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari solusi.
Dari empat orang yang sebelumnya rutin berburu telur penyu hingga keterlibatan warga yang kini melaporkan penemuan penyu kepada kelompok pelestari, perubahan di Pulau Sabira memperlihatkan bagaimana pendekatan konservasi berbasis masyarakat dapat membentuk cara baru dalam menjaga satwa dan habitatnya.
Rumah Penyu yang berdiri hari ini bukan hanya tempat untuk menunggu telur menetas. Ia menjadi hasil dari perubahan yang dibangun perlahan dari kepedulian seorang warga, kesediaan empat pemburu untuk mengubah kebiasaannya, hingga keterlibatan masyarakat dalam menjaga habitat penyu.
Tantangan berikutnya adalah memastikan perubahan tersebut tidak berhenti sebagai cerita keberhasilan masa lalu, tetapi terus menjadi bagian dari cara Pulau Sabira menjaga penyu dan ruang hidupnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


