Mahasiswa KKNM-31394 UNY Goser melaksanakan kegiatan "Sosialisasi Pencegahan Perundungan untuk Mewujudkan Lingkungan Aman bagi Anak" di Padukuhan Goser, Kalurahan Sumberrahayu, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini bertempat di Posko KKNM-31394 UNY Goser, pada Minggu (29/8/2026) pukul 09.00 - 12.00 WIB dan diikuti oleh sekitar 20 anak usia sekolah dasar dari lingkungan Padukuhan Goser. Program ini digagas sebagai respons atas kondisi yang ditemukan mahasiswa selama masa observasi awal KKN, di mana masih ditemukan pola candaan berlebihan antaranak berupa ejekan fisik, panggilan nama yang merendahkan, hingga sikap mengucilkan teman tertentu dalam kelompok bermain.
Fenomena ini sering luput dari perhatian orang dewasa karena dianggap sebagai bagian normal dari dinamika bermain anak, padahal apabila dibiarkan berpotensi menumbuhkan pola perundungan yang lebih serius dan berdampak pada rasa percaya diri, kenyamanan bersosialisasi, serta tumbuh kembang psikologis anak dalam jangka panjang.
Atas dasar itu, mahasiswa KKN memandang perlu adanya intervensi dini melalui edukasi yang dikemas secara ringan dan mudah dipahami anak-anak, sekaligus melibatkan pendampingan langsung agar pesan yang disampaikan benar-benar melekat, bukan sekadar teori satu arah.
Penanggung Jawab kegiatan, Fadhillah Kurnia R, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY, menjelaskan latar belakang dipilihnya program ini sebagai salah satu proker unggulan kelompok. "Selama beberapa minggu awal tinggal di sini, kami cukup sering melihat anak-anak saling mengejek nama panggilan atau bentuk fisik temannya sendiri, dan itu dianggap biasa saja baik oleh anak maupun orang tua. Padahal kalau dibiarkan, itu bisa membekas dan membuat anak jadi minder atau takut bermain dengan teman-temannya. Dari situ kami sepakat perundungan harus jadi salah satu fokus program kerja kami di Goser," kata Fadhillah.
Kegiatan utama dalam program ini adalah pendekatan langsung terhadap anak-anak untuk membangun kesadaran agar tidak melakukan maupun membiarkan perundungan terjadi di antara teman sebaya. Pendekatan dilakukan secara personal dan dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan 4–5 anak, sehingga suasana lebih akrab dan anak-anak lebih terbuka menceritakan pengalaman mereka, baik sebagai saksi, korban, maupun pihak yang tanpa sadar pernah melontarkan candaan yang menyakiti temannya.
Selain pendekatan personal, rangkaian kegiatan juga diisi dengan sosialisasi mengenai pengertian, jenis-jenis (fisik, verbal, dan sosial), serta dampak perundungan yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan contoh kasus keseharian agar mudah dicerna anak-anak usia sekolah dasar.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film pendek bertema persahabatan dan anti-perundungan sebagai media edukasi visual yang lebih menarik perhatian anak dibanding penyampaian ceramah semata. Untuk menjaga suasana tetap aktif dan tidak monoton, mahasiswa KKN turut menyisipkan sesi ice breaking berupa permainan kelompok yang menekankan kerja sama, saling percaya, dan penghargaan terhadap perbedaan antaranak.
Salah satu anggota tim yang bertugas sebagai fasilitator kelompok kecil menuturkan, respons anak-anak terhadap kegiatan ini cukup antusias. "Awalnya beberapa anak masih malu-malu, tapi begitu masuk sesi ice breaking dan nonton film, mereka jadi lebih cair dan mau cerita pengalamannya sendiri, ada yang bilang pernah diejek soal warna kulit, ada juga yang cerita pernah dikucilkan waktu main kelompok," ujar salah satu panitia.
Secara teknis, rangkaian kegiatan dirancang berjenjang: diawali dengan ice breaking untuk mencairkan suasana dan membangun kedekatan awal antara mahasiswa dan anak-anak, dilanjutkan sosialisasi materi pencegahan perundungan, pemutaran film pendek sebagai penguatan pesan secara visual dan emosional, kemudian ditutup dengan sesi pendekatan personal dalam kelompok kecil agar anak-anak dapat merefleksikan dan mempraktikkan langsung nilai-nilai yang telah disampaikan dalam interaksi sehari-hari dengan teman-temannya.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, anak-anak Padukuhan Goser diharapkan mampu mengenali batas antara bercanda yang wajar dan tindakan yang sudah mengarah pada perundungan, berani menyuarakan diri maupun membela teman yang menjadi korban, serta tumbuh dalam lingkungan pertemanan yang aman, saling menghargai, dan bebas dari kekerasan verbal maupun sosial.
Mahasiswa KKNM-31394 UNY Goser turut berharap kesadaran ini tidak berhenti pada satu kali kegiatan, melainkan terus ditumbuhkan oleh orang tua dan guru di lingkungan sekolah maupun rumah setelah masa KKN berakhir.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


