Sagu selama ini dikenal sebagai tanaman penghasil pati. Masyarakat memanfaatkannya sebagai bahan pangan, bahan industri, hingga sumber bioenergi. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat larva serangga yang dapat merusak batang sagu dan menurunkan hasil patinya.
Larva tersebut berasal dari Rhynchophorus spp. dan dikenal luas sebagai ulat sagu. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN Rein E. Senewe menyebut serangga yang selama ini dianggap sebagai hama itu memiliki potensi lain sebagai sumber protein alternatif.
Rein menyampaikan hal tersebut dalam webinar EstCrops_Corner #31 yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN secara daring pada Jumat, 28 Agustus. Webinar itu mengangkat tema “Rhynchophorus spp. atau Ulat Sagu pada Perkebunan Sagu di Indonesia, Peran Ganda sebagai Hama Perusak Batang dan Sumber Daya Pangan.”
“Urgensi pencarian sumber protein fungsional bisa dijawab oleh ulat sagu. Dari hama, kita ubah menjadi komoditas bernilai ekonomi dan lingkungan,” kata Rein.
Larva merusak batang sagu
Rhynchophorus spp. menjadi salah satu hama utama tanaman sagu. Larvanya berkembang di dalam batang dan memakan jaringan tanaman. Kerusakan tersebut dapat mengganggu pertumbuhan sagu serta menurunkan produktivitas pati.
Dalam webinar yang diselenggarakan Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN tersebut, Rein memaparkan kajian bioekologi serangga itu. Kajian tersebut mencakup siklus hidup, perilaku, hingga peluang pemanfaatannya sebagai bahan pangan.
Larva Rhynchophorus spp. berkembang melalui lima instar sebelum berubah menjadi kumbang. Berat maksimum larva sebelum memasuki fase pupa mencapai 4,62 gram.
Fase ketika larva memiliki biomassa terbesar itu disebut sebagai “Golden Harvest” atau periode pemanenan yang paling sesuai berdasarkan hasil kajian. Pada fase tersebut, larva dinilai memiliki potensi untuk diolah sebagai sumber protein.
Kandungan protein mencapai 60 persen
Berdasarkan penelitian yang dipaparkan dalam webinar EstCrops_Corner #31, ulat sagu kering dapat mengandung protein hingga 60 persen. Larva tersebut juga mengandung lemak serta asam lemak omega-3, omega-6, dan omega-9.
Kandungan itu membuat ulat sagu memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai sumber pangan dengan bahan baku lokal. Pemanfaatannya juga dapat menambah nilai dari ekosistem sagu yang selama ini lebih banyak dikenal melalui produksi pati.
“Tanaman sagu dikenal sebagai raksasa karbohidrat karena kandungan patinya yang tinggi, bebas gluten, dan multifungsi, mulai dari pangan pokok, bahan industri, hingga bioenergi,” ujar Rein.
Indonesia memiliki sumber daya sagu yang luas. Luas sagu di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 5,5 juta hektare dari total 6,5 juta hektare sagu di dunia.
Papua memiliki hamparan sagu terbesar di Indonesia. Riau dan Maluku menjadi wilayah lain yang memiliki kawasan sagu luas.
Larva dipantau sejak batang ditebang
Tim peneliti mengamati perkembangan larva melalui penelitian bioekologi dengan metode destruktif berwaktu. Tim memotong batang sagu menjadi tual dengan diameter sekitar 37 sentimeter, lalu melakukan pengamatan setiap pekan.
Pengamatan berlangsung sejak 7 hingga 119 hari setelah penebangan. Hasilnya menunjukkan pola perkembangan larva yang relatif konsisten.
Setiap instar berlangsung sekitar 3 hingga 20 hari. Tingkat kematian larva paling tinggi terjadi pada fase awal. Namun, sebagian besar larva tetap bertahan hingga memasuki fase akhir perkembangannya.
Informasi tersebut membantu peneliti memetakan waktu pertumbuhan larva dan menentukan fase dengan biomassa paling besar.
Pemanfaatan tetap membutuhkan pengendalian hama
Rein menawarkan pendekatan turn pest into resource atau mengubah hama menjadi sumber daya bernilai. Pendekatan itu membuka peluang bagi pengembangan industri serangga berbasis komoditas lokal.
Pemanfaatan ulat sagu juga dapat memberi nilai tambah bagi perkebunan sagu. Namun, pengembangan pangan berbasis larva tidak dapat dipisahkan dari pengendalian hama di sekitar perkebunan.
Rein menyebut penerapan zona barier sekitar 10 kilometer dari tanaman palma lain perlu dipertimbangkan untuk mengurangi risiko penyebaran dan ledakan populasi hama.
Riset yang dipaparkan dalam webinar Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN tersebut mencatat ulat sagu kering memiliki kandungan protein hingga 60 persen, lemak, serta asam lemak omega-3, omega-6, dan omega-9.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


