Pesawat masih membutuhkan bahan bakar fosil untuk terbang. Karena itu, para peneliti mencari bahan baku lain yang dapat diolah menjadi bahan bakar penerbangan.
Salah satu bahan yang diteliti adalah minyak kelapa. Bahan ini cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tersedia di Indonesia.
BRIN kini mengembangkan material khusus yang dapat membantu mengubah minyak kelapa menjadi hidrokarbon untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel atau SAF.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN Deliana Dahnum mengatakan pengembangan SAF berkaitan dengan kebutuhan mencari bahan bakar alternatif bagi sektor penerbangan.
“Pengembangan SAF menjadi salah satu alternatif untuk mendukung transisi energi karena sektor penerbangan masih bergantung pada bahan bakar fosil,” kata Deliana dalam webinar Jejak Kimia Molekuler Edisi ke-11 pada Jumat, 28 Agustus.
Mengolah minyak kelapa
Minyak kelapa tidak bisa langsung dimasukkan ke tangki pesawat. Bahan tersebut harus diolah lebih dulu untuk menghilangkan kandungan oksigennya.
Proses itu disebut deoksigenasi. Setelah kandungan oksigen dihilangkan, minyak kelapa dapat berubah menjadi hidrokarbon yang memiliki karakteristik sesuai untuk bahan bakar penerbangan.
BRIN memakai material metal-organic framework atau MOF untuk membantu proses tersebut. Material ini memiliki struktur dan bagian aktif yang dapat diatur sesuai kebutuhan reaksi.
Hasil penelitian menunjukkan MOF dengan kandungan nikel sebesar 10 persen mampu mengubah minyak kelapa menjadi sekitar 99 persen hidrokarbon. Produk yang dihasilkan memiliki selektivitas terhadap bioavtur sebesar 91,6 persen.
Proses itu dilakukan pada suhu 350 derajat Celsius selama empat jam dengan tekanan hidrogen 30 bar.
Peneliti lebih dahulu menguji asam laurat
Sebelum menggunakan minyak kelapa, tim peneliti menguji asam laurat sebagai senyawa model. Pengujian dengan kandungan nikel sebesar satu persen menghasilkan konversi hingga 99,8 persen.
Hasil tersebut kemudian menjadi dasar untuk menguji material MOF menggunakan minyak kelapa. Pengujian dengan bahan baku sebenarnya diperlukan karena minyak kelapa memiliki susunan senyawa yang lebih beragam dibandingkan senyawa model.
Deliana mengatakan tim merancang struktur MOF dan mengatur bagian aktifnya agar minyak dapat diubah secara lebih terarah menjadi produk yang dibutuhkan.
“Melalui pendekatan desain struktur dan rekayasa situs aktif ini, kita berupaya memahami interaksi antara logam dan lingkar organik atau ligan di dalam MOF untuk mengoptimalkan konversi minyak dan selektivitas produk,” ujar Deliana.
Nikel menjadi salah satu logam yang diuji
Tim BRIN menggunakan ZIF-67 sebagai sacrificial template untuk memuat logam aktif, termasuk nikel. Material tersebut kemudian digunakan dalam proses pengolahan minyak nabati.
Susunan MOF dapat diubah dengan menyesuaikan jenis dan jumlah logam yang digunakan. Tim juga menguji kobalt sebagai pilihan lain.
Kobalt belum menghasilkan aktivitas setinggi nikel dalam pengujian tersebut. Namun, hasil itu menunjukkan bahwa perubahan komposisi logam dapat memengaruhi jalur reaksi dan jenis produk yang terbentuk.
“MOF dapat kita modifikasi sesuai dengan kebutuhan. Struktur dan komposisinya dapat ditentukan, begitu juga situs aktifnya. Dengan demikian, kita dapat mengontrol karakteristik material tersebut,” kata Deliana.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

