Di Lingkungan Drangong, Kelurahan Curugmanis, Kecamatan Curug, Kota Serang, berdiri sebuah bangunan berbentuk perahu besar yang cukup mengejutkan siapa saja yang baru pertama kali melihatnya.
Lokasinya jauh dari pantai, tapi bentuknya benar-benar menyerupai kapal lengkap dengan kabin dan tiruan kemudi di dalamnya. Warga setempat menyebutnya Kapal Bosok, yang berarti kapal busuk, sebuah nama yang lahir dari cerita rakyat yang sudah diwariskan turun-temurun.
Kisahnya bermula sekitar abad ke-16, ketika Belanda bersandar di Pelabuhan Karangantu, Serang, dengan niat menjajah dan merampas dokumen serta harta kekayaan Kesultanan Banten. Seorang lelaki bernama Ki Angga Derpa tidak terima dengan perlakuan itu dan berusaha menyelamatkan dokumen serta harta tersebut.
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, ia mencabut pohon beringin yang di dalamnya tersimpan sepasang macan, membawanya ke kerumunan Belanda, dan begitu macan-macan itu keluar, pasukan Belanda pun kocar-kacir.
Belanda yang murka kemudian memburu Ki Angga Derpa dan menemukannya di kampung Aon, yang kini menjadi Lingkungan Drangong. Ia ditangkap dan dihukum di dalam sebuah kapal besar. Namun kapal itu, entah bagaimana, terbawa air hingga terdampar di daerah Curug, wilayah yang sebenarnya jauh dari pesisir.
Ki Angga Derpa yang berhasil melarikan diri konon mencambuk kapal itu sambil berkata "kapal, sira dicambuk bosok salawase", yang berarti kapal, kamu dicambuk busuk selamanya. Dari situlah nama Kapal Bosok berasal.
Sekilas Mengenai Kapal Bosok
Bangunan Kapal Bosok yang berdiri sekarang dibangun oleh 17 santri Pesantren Darul Salam selama kurang lebih empat tahun, terinspirasi dari cerita kapal yang membusuk di kampung tersebut.
Meski tampilannya sangat mirip masjid, dengan lima pilar berbentuk menara berkubah kecil dan satu kubah besar di tengah, bangunan ini sebenarnya bukan masjid. Ia adalah simbolisasi dari kisah perjuangan Ki Abdullah Angga Derpa, dan fungsi utamanya adalah untuk kegiatan ziarah. Untuk salat, tersedia ruangan musala khusus di lantai dua.
Di sekitar bangunan, para santri yang membangunnya menemukan batu karang laut, besi, dan benda yang disebut platok kapal, sisa-sisa yang dipercaya berkaitan dengan kisah kapal yang terdampar tersebut.
Tidak jauh dari bangunan ini, terdapat makam Syekh Abdullah Angga Derpa Kapal Bosok, lengkap dengan tulisan silsilah yang menyebutkan garis keturunan mulai dari Nabi Adam, Nabi Muhammad, hingga sampai pada Syekh Abdullah Angga Derpa di urutan ke-83.
Daya Tarik Utama Kapal Bosok
Kapal Bosok menarik karena memadukan wisata religi dengan bangunan yang unik secara visual, sesuatu yang jarang ditemukan dalam satu tempat sekaligus.
Bentuk bangunannya yang menyerupai kapal lengkap dengan kabin dan kemudi tiruan di dalamnya menjadi daya tarik utama bagi pengunjung, termasuk yang datang hanya untuk berswafoto. Di gerbang masuk, terdapat ornamen khas Sunda berupa dua Kujang yang tergambar di sisi kanan dan kiri, menambah kesan lokal pada bangunan yang bentuknya cukup jarang ditemukan di Indonesia.
Bagi yang datang untuk berziarah, makam Syekh Abdullah Angga Derpa menjadi tujuan utama. Banyak pengunjung, termasuk dari luar kota, datang khusus untuk berdoa di makam tokoh yang dipercaya sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus sesepuh agama ini.
Kapal Bosok juga ramai dikunjungi pada waktu-waktu tertentu, terutama saat bulan Ramadan ketika warga sekitar menjadikannya lokasi ngabuburit sambil menikmati suasana bangunan yang unik ini.
Akses Menuju Kapal Bosok
Kapal Bosok berlokasi di Lingkungan Drangong, Kelurahan Curugmanis, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten. Dari pusat Kota Serang, lokasi ini bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi dalam waktu yang relatif singkat karena masih berada dalam wilayah kota.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Kapal Bosok terbuka untuk umum sebagai lokasi ziarah dan wisata religi. Untuk informasi jam operasional dan biaya masuk terkini, sebaiknya Kawan mengonfirmasi langsung ke pengelola setempat karena ketentuan ini bisa berubah sewaktu-waktu.
Ayo Berkunjung ke Kapal Bosok!
Kapal Bosok cocok untuk Kawan GNFI yang tertarik pada cerita rakyat dan wisata religi yang tidak biasa.
Datang sambil mendengarkan kisah dari penjaga atau pengurus setempat akan membuat kunjungan terasa lebih hidup, karena cerita di balik bangunan ini jauh lebih menarik jika didengar langsung dari orang yang menjaganya turun-temurun.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


