selama ini dianggap hama ulat sagu ternyata punya potensi jadi pangan tinggi protein - News | Good News From Indonesia 2026

Selama Ini Dianggap Hama, Ulat Sagu Ternyata Punya Potensi Jadi Pangan Tinggi Protein

Selama Ini Dianggap Hama, Ulat Sagu Ternyata Punya Potensi Jadi Pangan Tinggi Protein
images info

Ulat Sagu


Selama ini, larva Rhynchophorus spp. atau ulat sagu lebih banyak dikenal sebagai hama yang merusak tanaman sagu. Larva serangga ini hidup di dalam batang dan dapat mengganggu produksi pati. Namun, penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa serangga tersebut memiliki potensi lain yang cukup besar, yaitu sebagai sumber protein alternatif.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Rein E. Senewe, mengatakan pemanfaatan ulat sagu dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjawab kebutuhan terhadap sumber protein baru. Hal itu disampaikan dalam webinar EstCrops_Corner #31 bertema “Rhynchophorus spp. (Ulat Sagu) pada Perkebunan Sagu di Indonesia: Peran Ganda sebagai Hama Perusak Batang dan Sumber Daya Pangan”.

“Urgensi pencarian sumber protein fungsional bisa dijawab oleh ulat sagu. Dari hama, kita ubah menjadi komoditas bernilai ekonomi dan lingkungan,” kata Rein.

Kandungan Protein Bisa Mencapai 60 Persen

Potensi ulat sagu sebagai pangan terutama berasal dari kandungan nutrisinya. Berdasarkan penelitian yang dipaparkan Rein, ulat sagu dalam kondisi kering dapat memiliki kandungan protein hingga 60 persen. Selain protein, larva tersebut juga mengandung lemak serta sejumlah asam lemak, termasuk omega-3, omega-6, dan omega-9.

Kandungan tersebut membuat ulat sagu menarik untuk dikaji lebih lanjut sebagai bahan pangan berprotein tinggi. Pemanfaatannya juga dapat dikembangkan dalam bentuk produk olahan sehingga tidak harus dikonsumsi dalam bentuk larva secara langsung.

Potensi itu semakin relevan karena Indonesia memiliki sumber daya sagu yang sangat luas. Indonesia disebut sebagai salah satu pusat keragaman sagu dunia dengan luas sekitar 5,5 juta hektare dari total sekitar 6,5 juta hektare sagu secara global. Papua menjadi wilayah dengan hamparan sagu terbesar, kemudian diikuti Riau dan Maluku.

“Tanaman sagu dikenal sebagai raksasa karbohidrat karena kandungan patinya yang tinggi, bebas gluten, dan multifungsi, mulai dari pangan pokok, bahan industri, hingga bioenergi,” ujar Rein.

Ketersediaan sagu dalam jumlah besar sekaligus keberadaan Rhynchophorus spp. di dalam ekosistem tersebut membuka peluang untuk mengembangkan pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih luas.

Menentukan Waktu Panen Ulat Sagu

Untuk mengembangkan ulat sagu sebagai sumber pangan, memahami siklus hidupnya menjadi bagian penting. Rein menjelaskan, Rhynchophorus spp. melewati lima tahap instar pada fase larva sebelum berkembang menjadi kumbang.

Bobot larva terus berubah selama pertumbuhan. Berat maksimum sebelum memasuki fase pupa dapat mencapai 4,62 gram. Tahap ketika larva memiliki biomassa maksimum tersebut disebut sebagai “Golden Harvest” atau periode yang dinilai paling ideal untuk pemanenan.

Penentuan fase tersebut penting karena pemanenan pada waktu yang tepat dapat membantu memperoleh biomassa larva secara optimal. Kajian bioekologi dilakukan melalui metode destruktif berwaktu dengan memotong batang sagu menjadi tual berdiameter sekitar 37 sentimeter, kemudian mengamati perkembangannya setiap pekan.

Pengamatan selama 7 hingga 119 hari setelah penebangan menunjukkan pola perkembangan larva yang relatif konsisten. Setiap instar berlangsung sekitar 3 hingga 20 hari, sementara tingkat kematian paling tinggi terjadi pada fase awal. Meski begitu, tingkat kelangsungan hidup larva tetap cukup tinggi hingga fase akhir.

Dari Hama Menjadi Komoditas

Konsep yang ditawarkan Rein adalah turn pest into resource, yaitu mengubah organisme yang selama ini dianggap sebagai hama menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan tersebut dapat membuka peluang baru bagi pengembangan industri serangga berbasis komoditas lokal.

Namun, pemanfaatan ulat sagu sebagai pangan tidak berarti mengabaikan statusnya sebagai hama. Pengembangan komoditas tetap perlu berjalan bersama strategi pengendalian agar populasi Rhynchophorus spp. tidak berkembang secara tidak terkendali dan menimbulkan kerugian bagi perkebunan sagu.

“Pengembangan tersebut, tetap perlu memperhatikan aspek pengendalian hama, termasuk penerapan zona barier sekitar 10 kilometer dari tanaman palma lain untuk mengantisipasi risiko penyebaran dan ledakan populasi hama,” imbuh Rein.

Dengan demikian, pemanfaatan ulat sagu membutuhkan pendekatan yang terukur. Di satu sisi, larva memiliki kandungan nutrisi dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Di sisi lain, pengelolaannya harus tetap memperhatikan kesehatan tanaman dan risiko penyebaran hama.

Kajian BRIN menunjukkan bahwa biodiversitas di kawasan sagu Indonesia masih menyimpan peluang pemanfaatan yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Ulat sagu tidak hanya dapat dipandang sebagai bagian dari persoalan budidaya, tetapi juga sebagai objek penelitian untuk pengembangan pangan alternatif dan industri berbasis sumber daya lokal.

Pengembangan berikutnya membutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai keamanan pangan, teknologi pengolahan, penerimaan konsumen, skala produksi, hingga model budidaya dan pengendaliannya. 

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.