Kawan GNFI, jauh sebelum istilah "arsitektur berkelanjutan" populer di kalangan arsitek modern, ternyata masyarakat Melayu di Bangka sudah mempraktikkannya lewat sebuah bangunan ibadah yang masih berdiri kokoh hingga kini.
Riset berjudul "Exploring Sustainable Features in a 19th-Century Religious Building: The Case of Jami Mosque of Mentok, Bangka" yang ditulis oleh Novrizal Primayudha, Imam Santosa, Achmad Syarief, dan Achmad Haldani Destiarmand dari Institut Teknologi Bandung, dipublikasikan pada Juli 2026 dalam EMARA: Indonesian Journal of Architecture, mengungkap bagaimana Masjid Jami Mentok yang dibangun pada 1880-an ini menyimpan kecerdikan desain yang relevan hingga hari ini.
Menjawab Kesenjangan Riset Arsitektur Masjid
Penelitian tentang kinerja termal dan konservasi energi pada bangunan masjid selama ini masih relatif terbatas dibandingkan tipologi bangunan lain. Kajian arsitektur berkelanjutan dalam beberapa dekade terakhir pun cenderung lebih banyak didorong kemajuan teknologi, sehingga kerap mengabaikan praktik desain vernakular yang sebenarnya telah lama digunakan masyarakat lokal untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan mereka.
Riset ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut, dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam bersama 15 informan kunci, mulai dari tokoh agama, sejarawan lokal, pengurus masjid, praktisi budaya, hingga anggota masyarakat Melayu Tanjung.
Iklim Pesisir yang Menantang
Kawan, Kota Mentok yang terletak di pesisir barat Pulau Bangka memiliki karakteristik iklim tropis dengan suhu rata-rata mencapai 29 derajat Celsius dan tingkat kelembapan yang berfluktuasi antara 20 hingga 60 persen sepanjang tahun. Kondisi angin pun bervariasi musiman, dengan periode berangin paling kencang terjadi antara Desember hingga Maret. Tantangan iklim pesisir inilah yang mendorong kebutuhan strategi arsitektur yang mengutamakan pendinginan pasif, optimalisasi aliran udara, dan pengelolaan cahaya alami.
Empat Pilar Utama Penopang Bangunan
Masjid Jami Mentok memiliki denah lantai berukuran sekitar 16,64 x 16,70 meter, dengan empat pilar utama setinggi 12 meter yang dikenal sebagai Saka Guru, sebuah sistem struktur yang menjadi ciri khas masjid-masjid bersejarah di seluruh Indonesia. Keempat pilar ini memiliki konfigurasi simetris yang membantu menahan beban vertikal maupun horizontal, termasuk potensi guncangan gempa bumi.
Ventilasi Alami sebagai Solusi Pendinginan Utama
Yang menarik, Kawan GNFI, masjid ini mengandalkan ventilasi alami sebagai solusi pendinginan utama, dengan kipas langit-langit hanya digunakan pada puncak waktu salat Jumat. Masjid ini memiliki empat jenis bukaan: pintu berukir bovenlicht, jendela bagian bawah, jendela mihrab, dan jendela lantai atas dengan jalusi. Total luas bukaan yang memasukkan cahaya dan udara alami mencapai 72,24 meter persegi, cukup untuk menerangi ruangan tanpa pencahayaan buatan dari pukul 7 pagi hingga 5.30 sore.
Jendela jalusi yang diukir dari kayu ini mampu mengalirkan sekitar 78 persen aliran udara, dan bisa dibuka atau ditutup sesuai kebutuhan untuk mengontrol kondisi ruangan. Persentase luas jendela atau ventilasi terhadap luas lantai pada masjid ini mencapai 22,8 persen, sebuah angka yang cukup signifikan untuk bangunan berusia lebih dari satu abad.
Ruang Vertikal Tinggi untuk Sirkulasi Udara Optimal
Ketinggian bangunan yang mencapai sekitar 14 meter dari jalan hingga puncak atap, dengan jarak vertikal dari lantai utama ke atap sekitar 12,5 meter, memungkinkan udara hangat naik ke atas secara alami, sehingga membantu mengatur suhu ruangan secara efektif.
Struktur ini sejalan dengan studi kuantitatif menggunakan simulasi CFD yang menunjukkan bahwa strategi desain pasif pada arsitektur masjid mampu mempertahankan suhu ruangan antara 22-30 derajat Celsius, dengan kecepatan aliran udara 1-3 meter per detik, sebuah kondisi yang mendukung kenyamanan termal di iklim tropis.
Bukan Sekadar Tempat Ibadah, tapi Bukti Kecerdikan Lokal
Kawan GNFI, temuan penelitian ini menegaskan bahwa Masjid Jami Mentok bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan simbol identitas budaya Melayu, tetapi juga representasi kecerdikan arsitektur lokal yang mampu berharmoni dengan konteks alam dan sosial di sekitarnya. Keberlanjutan pada masjid ini pun tidak berhenti pada aspek lingkungan semata, melainkan beroperasi sebagai sistem yang saling terhubung, mencakup dimensi sosial dan ekonomi sekaligus.
Studi ini menjadi bukti bahwa arsitektur vernakular bukan sekadar artefak sejarah yang layak dikagumi dari kejauhan, melainkan model fungsional dan responsif konteks yang menawarkan wawasan berharga bagi desain masjid berkelanjutan di masa kini, terutama di lingkungan tropis seperti Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


