Kawan GNFI, banyak orang mengira usaha peternakan yang menguntungkan harus ditopang oleh kerja keras berjam-jam atau kandang yang luas. Namun, sebuah penelitian dari Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen justru membuktikan sebaliknya.
Sebuah penelitian berjudul "Analisis Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi pada Dua Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) di Kabupaten Brebes" ditulis oleh Nunur Nuraeni dan dipublikasikan pada September 2021 dalam Bulletin of Applied Animal Research. Makalah ini mengungkap bahwa kunci sesungguhnya dari keuntungan usaha ternak itik ternyata terletak pada dua faktor yang jauh lebih sederhana.
Menguji berbagai Faktor Sosial Ekonomi
Penelitian ini melibatkan 27 peternak dari Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Maju Jaya dan 14 peternak dari KTTI Sumber Pangan, keduanya berlokasi di Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes.
Melalui metode survei dan wawancara terstruktur, peneliti menguji pengaruh 5 variabel terhadap efisiensi ekonomi usaha ternak itik, yaitu produktivitas ternak, curahan jam kerja, biaya pakan, kepadatan kandang, dan sistem pemeliharaan.
Jam Kerja dan Luas Kandang Ternyata Tidak Berpengaruh
Hasil analisis regresi linier berganda pada penelitian ini cukup mengejutkan. Variabel curahan jam kerja pada KTTI Maju Jaya memiliki nilai P sebesar 0,8582, jauh di atas ambang batas signifikansi 0,05, begitu pula pada KTTI Sumber Pangan dengan nilai P sebesar 0,6439.
Artinya, seberapa banyak jam kerja yang dicurahkan peternak dalam mengurus itiknya, ternyata tidak menentukan besarnya efisiensi ekonomi usaha yang dijalankan.
Hal serupa juga berlaku untuk kepadatan kandang. Baik pada KTTI Maju Jaya maupun KTTI Sumber Pangan, kepadatan kandang, yakni luas kandang termasuk halaman umbaran dibagi jumlah ternak, sama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi ekonomi.
Bahkan sistem pemeliharaan, baik dipelihara secara semi intensif memanjang di sepanjang aliran sungai maupun terpusat di area persawahan, juga terbukti tidak menentukan tingkat keuntungan yang diperoleh peternak.
2 Faktor yang Benar-Benar Menentukan
Kawan, dari sekian banyak variabel yang diuji, hanya produktivitas ternak dan biaya pakan yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap efisiensi ekonomi usaha ternak itik ini.
Pada KTTI Maju Jaya, setiap penambahan satu persen produktivitas ternak mampu menambah efisiensi usaha sebesar 0,3345, sementara pada KTTI Sumber Pangan angkanya bahkan lebih tinggi, yaitu 0,6299.
Sebaliknya, biaya pakan justru berbanding terbalik dengan efisiensi ekonomi. Setiap penambahan satu rupiah biaya pakan per ekor per hari menurunkan efisiensi ekonomi sebesar 0,5484 di KTTI Maju Jaya dan 0,6694 di KTTI Sumber Pangan.
Hal ini masuk akal mengingat biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi usaha ternak itik, yang bisa mencapai 60 hingga 80 persen dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan peternak.
Strategi Pakan Cerdas ala KTTI Maju Jaya
Menariknya, penelitian ini juga mengungkap salah satu strategi jitu yang diterapkan KTTI Maju Jaya untuk menekan biaya pakan. Alih-alih sepenuhnya bergantung pada nasi aking sebagai sumber energi, kelompok ini memanfaatkan limbah sohun dari pabrik sebagai pakan alternatif yang harganya jauh lebih murah.
Hasilnya, biaya pakan rata-rata KTTI Maju Jaya tercatat Rp114.516,72 per ekor per tahun, lebih rendah sekitar Rp9.247,49 dibandingkan KTTI Sumber Pangan yang mencapai Rp123.764,20 per ekor per tahun.
Strategi sederhana nan cerdas ini menjadi bukti nyata bahwa efisiensi usaha peternakan rakyat tidak selalu membutuhkan investasi besar, melainkan bisa dicapai melalui kejelian mencari sumber pakan alternatif yang lebih ekonomis tanpa mengorbankan kualitas nutrisi ternak.
Pelajaran Penting bagi Peternak Itik Skala Rakyat
Kawan GNFI, temuan dari Kabupaten Brebes ini memberikan panduan praktis bagi peternak itik rakyat di berbagai penjuru Indonesia.
Dibandingkan sibuk menambah jam kerja atau memperluas kandang yang belum tentu meningkatkan keuntungan secara signifikan, peternak justru disarankan untuk lebih fokus pada dua hal: meningkatkan produktivitas telur ternak melalui pemeliharaan yang lebih terencana, serta mencari strategi pengelolaan pakan yang lebih ekonomis dan efisien.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa produktivitas telur itik pada kedua kelompok tani masih tergolong kurang baik, dengan rata-rata di bawah 60 persen, sehingga membuka ruang besar bagi perbaikan tata kelola pemeliharaan ke depannya demi meningkatkan kesejahteraan peternak itik rakyat di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


