Tren sepeda tengah banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia beberapa waktu belakangan. Bahkan ketika wabah Covid-19 yang mereda beberapa tahun silam, bersepeda menjadi salah satu pilihan aktivitas bagi sebagian masyarakat untuk menjaga kebugaran tubuh.
Rute bersepeda yang ditempuh pun bermacam-macam. Ada yang sekadar berkeliling lingkungan sekitar rumah bersama keluarga atau teman terdekat.
Ada juga yang menempuh rute jarak jauh yang belum tentu semua orang bisa melakukannya. Tidak hanya antar daerah saja, ada juga beberapa pegiat sepeda yang melakukan perjalanan ke luar negeri dalam kurun waktu tertentu.
Mundur beberapa dekade silam, tepatnya pada pertengahan 1970, ada juga seorang warga Indonesia yang melakukan perjalanan jauh dengan sepedanya. Tidak pergi tanpa tujuan begitu saja, perjalanan ini justru ditempuh untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah pada waktu itu.
Uniknya lagi, sosok yang melakukan perjalanan ini bukanlah pemuda yang masih berumur puluhan tahun. Perjalanan ini justru dilakukan oleh seorang kakek yang menginjak usia ke-59 pada saat memulai perjalanan panjangnya.
Walau begitu, dirinya berhasil mencapai tujuan untuk menunaikan ibadah haji dalam perjalanan tersebut. Lantas bagaimana momen yang terjadi pada 1970-1971 tersebut?
Perjalanan Menuju Tanah Suci
Dinukil GNFI dari artikel "Naik Hadji Naik Sepeda, Kakek Achmad Nur (59 Tahun): Ditjemoohkan Pedjabat Departemen Agama, Dapat Restu Adam Malik & Dari Malaysia" yang terbit di surat kabar Indonesia Raya edisi 29 Maret 1971, sosok yang melakukan perjalanan panjang tersebut bernama Achmad Nur bin Nunung. Dirinya merupakan seorang kakek berusia 59 tahun pada waktu itu yang berasal dari Desa Sukamandi, Ciledug, Tangerang.
Di usia yang tidak lagi muda, Achmad Nur memulai perjalanan panjang dengan sepedanya. Tidak sekadar perjalanan biasa, dirinya menuju tanah suci Makkah dengan niat menjalankan ibadah haji pada waktu itu.
25 Agustus 1970 menjadi awal perjalanan yang dilalui oleh Achmad Nur. Perjalanan panjang tersebut dia lakukan selama enam bulan penuh, sebelum kembali ke tanah air pada 1 Maret 1971.
Sepeda yang Menetap di India
Perjalanan yang dilalui oleh Achmad Nur tidak mulus begitu saja. Dua bulan pertama banyak dia habiskan di daerah Medan, Aceh, dan sekitarnya.
Hal ini disebabkan karena dia masih belum mendapatkan visa masuk Malaysia. Setelah berhasil masuk ke Negeri Jiran, dia pun menghabiskan waktu dua bulan untuk bisa menembus daratan Asia Tenggara.
Perjalanan Achmad Nur bersama sepedanya berlanjut menuju Bombay (Mumbai), India. Walaupun pada waktu itu dia naik kereta api menuju Bombay, dirinya berhasil sampai dengan aman dan selamat di sana.
Hanya saja perjalanannya di Bombay menjadi akhir kebersamaan Achmad Nur bersama sepedanya. Salah seorang diplomat Indonesia yang ada di Bombay pada waktu itu memutuskan untuk membeli sepeda Achmad Nur.
Setelah itu, sang kakek diberikan tiket kapal untuk melanjutkan perjalanan menuju tanah suci Makkah. Bersama rombongan haji yang berasal dari daerah tersebut, Achmad Nur berhasil sampai di Makkah dan menjalankan ibadah sekali setahun tersebut, sebelum kembali ke tanah air dengan menggunakan berbagai macam moda transportasi, mulai dari pesawat, kereta, hingga kapal laut.
Tepis Pandangan Negatif Demi Mimpi Mulia
Keberhasilan Achmad Nur menunaikan niatnya menjalankan ibadah haji berhasil menepis pandangan negatif yang dia terima saat pertama kali memulai perjalanan. Saat berkunjung ke Departemen Agama pada waktu itu, salah satu pegawai memberikan pandangan negatif yang menganggap perjalanan tersebut tidak bisa tercapai nantinya.
Namun Achmad Nur tetap melanjutkan niat mulianya. Bahkan dirinya mendapatkan surat langsung dari Adam Malik yang menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia waktu itu.
Sambutan hangat juga dia dapatkan di sepanjang perjalanan. Misalnya, saat masuk ke Malaysia, dirinya disambut oleh masyarakat setempat seperti tamu agung.
Semua kebutuhannya pun terpenuhi sepanjang enam bulan perjalanan panjang tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


